Rabu, 17 Agustus 2011

Cobaan

Allah..
bertubi-tubi ujian yang kau turunkan akhir-akhir ini sungguh terasa berat.
Tak jarang rasanya terlalu susah hadapinya..

Aku juga tak mampu definisikan, apakah ini ujian, teguran atau jangan-jangan adzab? Termasuk kategori yang manakah ini?

Jika ini ujian, kumohon jangan engkau uji lagi lebih berat daripada ini. Engkau pasti Maha Tahu seberapa kuat lengan-lenganku menahan ini. Dan bahwa terkadang mulai terasa goyah.
Jika ini teguran, sungguh akan kuperdalam lagi muhasabah-muhasabah ini. Akan kutelaah lautan-lautan dosa ini. Celah-celah maksiat yang mana yang harus aku tinggalkan dan amalan-amalan apa yang telah aku lalaikan.
Jika ini adzab, sungguh aku mohon ampun. Aku tahu bahwa hanya Engkau yang tidak akan pernah menolak permohonan maaf, permohonan ampun dan sungkuran sujud...

Selasa, 02 Agustus 2011

Musibah


Allahumma'jurna fi mushibatina wakhluf lana khairan minha...
Ya Allah pahalakan musibah kami & gantilah yang lebih baik darinya...
Ya Allah hadirkanlah ketenangan ke dalam jiwa kami, hilangkan perasaan was-was, takut dan putus asa dari hati kami....

Jumat, 22 Juli 2011

Salam Pagi

Berdiri disana, di perempatan itu.
Sepertinya marah benar pada macet yang tak kunjung pudar.
Bagiku...
Masih sama, seperti 7 tahun yang silam

Minggu, 22 Mei 2011

Muslimah Hebat Itu Telah Tiada

Sabtu kemarin, 21 May 2011, Ustadzah Yoyoh Yusroh meninggal dunia. Penyebab meninggalnya adalah kecelakaan lalu lintas sepulang dari menghadiri wisuda anak tertuanya. Sedih sekali mendengar berita tersebut. Walaupun sama sekali belum pernah bertemu beliau, namun aku sering sekali mendengar kisah-kisah keteladanan dari Daiyah berputra 13 ini. Mulai dari sifatnya yang tawadhu, sederhana, tidak suka mengeluh, kepeduliannya terhadap sesama, sampai metode pendidikannya terhadap anak-anaknya yang diantaranya telah sukses menghantarkan beberapa dari mereka menjadi Hafidz Qur'an seperti halnya beliau.

Aku malu mendengar cerita bahwa disela kesibukannya sebagai Daiyah dengan segudang amanah yang diembannya beliau masih sempat membaca minimal 3 juz Qur'an setiap harinya, beliau masih mampu menjaga hafalan Qur'an nya. Subhanallah. Jadi malu, baru punya anak 2, jangankan menambah hafalan, menjaga hafalan yang segelintir aja rasanya susah bener.

Nama beliau semakin harum setelah beliau meninggal. Begitu banyak tulisan-tulisan dan testimoni tentang jejak langkah yang telah beliau goreskan. Begitu banyak air mata haru melepas kepergian beliau. Ribuan orang yang tumpah ruah mengantar beliau ke tempat peristirahatan terakhir. Ribuan orang ingin ikut mensolatkan beliau dan sholat ghoib yang digelar di mana-mana.. Subhanallah... Betapa kualitas seseorang selama meninggal dapat dilihat dari suasana ketika beliau meninggal dunia.

Selasa, 10 Mei 2011

Remuk - hari ke-2

Kaki ini semakin teguh menopang fisik dan jiwa yang koyak.
Walau setiap langkah sungguh pahit, namun bukankah kita cuma punya 1 pilihan terhadap setiap persoalan hidup?
yaitu : Maju terus !

Malu dengan usia jika terus-terusan meratapi kepiluan dengan lagu-lagu syahdu. Buat apa?
Kenapa tak cari saja penawar luka, meskipun bekasnya akan tetap ada selamanya.
Jika kemarin setiap hentakan nafasku menjelma menjadi hunjaman seribu jarum menusuk qalbu, mungkin saat ini tinggal 750 jarum. Perihnya masih sama.

Tapi, adakah badai yang tidak berlalu? Satu-satunya pertanyaan adalah. Berapa lama aku mampu hadapi ini. Berapa lama waktu yang kubutuhkan untuk mengubah 750 jarum itu menadi 1 atau bahkan nol? Berapa lama waktu yang kubutuhkan untuk bisa melihat jejak luka itu kelak sambil tersenyum dan tidak lagi menangis? Kemudian berucap lega : "Oh Allah, sungguh luar biasa tarbiyahMu..."

Kapan? Berapa bulan? Berapa Tahun? atau, berapa puluh Tahun lagikah?

Senin, 09 Mei 2011

Remuk - Hari 1

Jika aku ini kaca, maka aku sudah  pecah berkeping-keping...
Jika aku ini daun, aku sudah koyak berderai-derai...
Jika aku ini baja, aku sudah hancur menjadi puing...
Sungguh aku telah hancur. Remuk redam. Sedu sedan.
Aku telah hancur di sisi terlemah seorang wanita...

Minggu, 24 April 2011

Dinner di Bandar Jakarta

Akhir maret kemarin (2011)  tiba-tiba Abah ngajak Bundo ke Bandar jakarta, yaitu sejenis restoran seafood di ancol (di pinggiran pantai) yang terkenal kelezatannya. karena rutenya cukup jauh dari Ciputat, Bunda sempat agak ragu karena kasihan anak-anak nanti kecapean. Maklum kita kan ga punya mobil, so harus gonta ganti kendaraam umum berkali2 yang tidak semuanya nyaman.

Eh rupanya Abah merencanakan acara ini hanya untuk berdua saja. Selain jauh, rute yang akan ditempuh juga tidak nyaman untuk anak-anak. Selain itu memang sejak punya anak belum pernah bepergian berduaan ke suatu tempat dengan tujuan cuma untuk makan dan ngobrol, jadinya Bundo dan Abah pergi ke Ancol.

Karena daerahnya jauh, kami memutuskan naik kereta api dulu. Bukan karena murahnya saja tapi karena waktu yang ditempuh akan jauuuuuh lebih hemat. Bayangkan, untuk mencapai tanah abang dengan bis/angkot bisa memakan waktu 2-3 jam, tapi dengan kereta cuma 30 menit saja. Namun dunia perkereta-api-an di waktu wik en tidak begitu ramah. Tidak ada kereta express dan sangat jaraaang ekonomi AC, bahkan KRL ekonomi biasa pun jarang.

Terpaksa deh kami naik kereta Diesel. Ternyata ga nyaman banget, bau aneka rupa, sumpek dan pedagang hilir mudik kesana kemari, nyenggol sana sini. Namun ya begitulah kondisi perkereta-apian di Jakarta. Ga bisa berharap banyak.

Akhirnya petualanganpun dimulai. Lama-lama kondisi yang ada dinikmatin aja. Untungnya jendela2 terbuka lebar so angin segar bisa menghambur masuk ke seantero ruangan. Kita turun di daerah Angke, dan kemudian bingung gimana nyambung ke Ancolnya. Dari Angke naik angkot yang brenti di daerah Asemka, dan dari sana akhirnya naik taksi ke Ancol tuk mencapai restoran.

Makanannya lumayan enak. Apalagi ikan, cumi dan seafood lainnya masih hidup ketika siap untuk dimasak. Segar lah pokoknya mah. Asyik sekali melewatkan early-dinner berdua sambil memandang suasana restoran yang rame serta melayangkan pandangan ke panorama lautan (yang menjorok ke daratan) dengan batas pandangan nun jauh ke samudra lepas. Indah sekali.

Suasana makin seru ketika Abah kemudian menyewa perahu yang memang biasa dipakai untuk keliling2 teluk, hanya untuk kami berdua saja. Bukannya mau sok romantis, emang karena pengunjung yang lain lagi pada asyik makan dan rombongan pelancong lainnya baru selesai muter2in teluk naik perahu yang lain. Harga sewa perahu ga terlalu mahal, satu perahu gede (kapasitas 15 orang) boleh disewa 50rb saja...

Namun seindah2nya bepergian berdua, tetep aja Bundo kangen anak-anak. Seribet apapun amunisi yang harus dibawa tiap kali ngajak mereka namun itu ga ada apa2nya dibanding kebahagiaan bisa menghabiskan waktu bareng anak-anak... precious banget dah pokoknya mah..

Pulangnya, kami naik taksi dari Ancol ke stasiun tanah Abang trus naik kereta ekonomi (soalnya yang Ac belum datang). Asyik juga naik kereta ekonomi, walau tanpa AC tapi ruangannya cukup lega. Cuma Rp.1500 saja, dan jauh lebih nyaman daripada kereta Diesel. banyak banget pedagang hilir mudik, dan bundo pun kalap belanja di atas kereta ekonomi hehe. Ngeborongin jepitan, peniti2, jarum2, sisir2 kecil sampe sebarek2  mainan anak2 yang murah meriah...

Nah gitu dulu deh kisahnya. 

Selasa, 29 Maret 2011

Abang 3 Tahun


Alhamdulillah, bulan Maret ini abang genap berusia 3 tahun. Ini artinya udah 3 tahun abangmenebarkan keceriaan di hari-hari Abah dan Bundo. Demikian juga dedek yang bulan ini berusia 1 tahun 5 bulan. Bundo dan Abah selalu doakan semoga keduanya jadi anak sholeh, rajin, santun dan membanggakan.

 Nak, sebagaimana nama yang Abah dan Bundo pilihkan untk engkau, teriring do'a supaya engkau menjadi anak yang sholeh, pintar dan menjadikan Hafidz Qur'an sebagai salah satu pilar kehidupan. Nama ini Bundo pilihkan jauh-jauh hari bahkan jauuuh sebelum Bundo ketemu Abah. Nama ini Bundo pilihkan suatu masa ketika Bundo pernah ditempa oleh wanita-wanita sholehah nun di negeri temasek sana untuk mencintai Qur'an, menghafal Qur'an sebanyak-banyaknya. Ketika Bundo merasakan bahwa ayat-ayat Qur'an yang Bundo hafal, bukanlah sekedar hafalan biasa. Namun seperti yang dijanjikan Allah, hafalan itu kemudian menjadi penjaga, menjadi Hafidz bagi setiap hal yang Bundo lakukan.

Dan Bundo seringkali merasakan hafalan tsb turun drastis bahkan banyak yang hilang ketika Bundo kemudian mengalami penurunan kualitas keimanan atau mendekati maksiat. Hafalan Qur'an bundo yang tidak seberapa itu kemudian seolah menjadi alert, menjadi warning ketika bundo mulai 'melenceng'. Lalu kemudian Nak, Bundo menjadi takjub dengan kekuatan Hafalan Qur'an, dengan efek yang dia timbulkan dan dengan peringatan-peringatan yang muncul secara alami. Bundo kemudian menjadi bertekad untuk menghafal sebanyak-banyaknya. Namun kemudian hal ini justru terhenti setelah Bundo semakin sibuk dan semakin sibuk dengan urusan duniawi. Sungguh banyak pembenaran. Sungguh terlalu banyak alasan dan pembenaran. Dan bahkan ketika ini ditulis, sudah lama sekali ketika ayat terakhir 'bertambah' ke dalam koleksi hafalan Bundo. Sudah terlalu lama.

Nak, itulah kenapa Bundo acapkali tertegun setiap kali bersama engkau. Namamu dan kehadiranmu mengingatkan selalu kepada cita-cita yang pernah Bundo ikrarkan dengan sangat kuat. Namun sekarang sungguh Bundo perlu usaha keras untuk kembali meneguhkan cita-cita dan semangat itu. Bundo masih bisa membayangkan sudut-sudut Singapura ketika Bundo menghafal surat-surat tertentu. Mulai dari MRT, Bis, Asrama, kantor, mushola bahkan ketika berjalan kaki. Namun Bundo tak mampu membayangkan sudut-sudut Jakarta yang mengingatkan Bundo thdp hafalan surat apapun. Karena sungguh telah lama sekali ia tidak bertambah.

Nak , dibalik segala kekurangan dan ketidaksempurnaan ini, Bundo tetap meniatkan dan berusaha keras agar hafalan-hafalan ini kembali kokoh dan kembali bertambah. Bundo juga berdo'a semoga Allah memberikan bundo usia yang penuh berkah sehingga Bundo mampu mendidikkalian menjadi pribadi-pribadi sholeh yang tidak hanya sibuk mengejar dunia namun juga sibuk membangun istana di Surga. Sungguh kalian anak-anakku, adalah amanah luar biasa yang Allah titipkan bagi kami. Yang harus kami  jaga dan didik untuk menjadi pribadi-pribadi yang menakjubkan.

Sungguh kalian anak-anakku, adalah cerminan prilaku dan akhlak kami, sehingga harus selalu kami berikan contoh teladan yang baik.

Doa Nabi Zakaria Surah Ali-Imran[3]:37-38 "... Rabbi habli dzurriyyatan thayyibah, innaka samii'ud du'aa' ..." "... Wahai Rabb ku, berilah aku dari sisi-Mu keturunan yang baik. Sesungguhnya Engkau Maha Pendengar doa ..."

 Doa Nabi Ibrahim 'alayhissalam QS.Ash Shaaffaat : 100 "Rabbi habliy minashshaalihiin" (Tuhanku anugerahkanlah kepadaku [seorang anak] yang termasuk orang2 yang shaleh)

Jumat, 04 Februari 2011

Ada Acik Dari Padang

Alhamdulillah, udah 10 hari ini rumah kito lagi ruame ruamenya. Padahal cuma ada tambahan 2 tamu aja, tapi ramenya udah kayak 10 orang.

Ada acik dateng dari Padang (om nya Bundo yang kecil). Anak-anak nampaknya makin ceria karena suasana rumah jadi rame dan makin hangat. Sayangnya selasa depan udah pada balik lagi ke Padang... kapan2 kesini lagi yaa :)

Selasa, 01 Februari 2011

Bundo Kursus!

Awalnya Bundo udah ga terlalu tertarik mikirin yang namanya 'melanjutkan S2' ke Luar Negeri. Bagi bundo hari-hari yang dijalani belakangan ini (terutama setelah pindah direktorat, pindah rumah dan hadirnya adik) rasanya sudah cukup sibuk. Bundo masih belajar keras membagi waktu agar semuanya dapat berjalan lancar. Menjadi wanita karir yang sukses sekaligus menjadi istri dan ibu hebat tersayang, sungguh masih jadi PR berat bagiku.

Ketika satu persatu teman2 di kantor mulai diterima kuliah di universitas2 sangat bergengsi di luar negeri, terus terang ada perasaan ingin yang sangat kuat. Melonjak-lonjak menderas dan menderu-deru akal. Bundo juga ingin seperti mereka dan rasanya juga mampu seperti mereka.

Namun kemudian keinginan itu selalu menguap setiap kali pulang ke rumah bertemu anak-anak. Melihat wajah-wajah rindu mereka menungguku di pintu rumah. Melihat aksi-aksi mereka memamerkan kepandaian-kepandaian barunya. Melihat mereka berebut rebut mencari perhatian, saat Hanif menarik-narikku dengan ribut atau bahkan ketika abang memeluk bundo dalam diam. Penuh rindu. Bagaimana mungkin waktu ini harus terbagi lagi untuk kuliah?

Ya Tuhan, Bundo memang capeeeek sekali naik turun angkot, kereta, ojek, rapat, bekerja dst dst namun hati ini makin sedih kalo inget bahwa anak-anak tentu lebih capek lagi bertanya-tanya dan menunggu bundo mereka pulang. Waktu efektif bersama mereka cuma beberapa jam sehari. Bundo sudah berangkat jauh sebelum mereka bangun dan pulang ketika mereka sudah bersiap tidur.

Abah-lah yang kemudian datang dengan segudang motivasinya. Bahwa menurut Abah bundo penuh potensi untuk meneruskan sekolah ke higher degree. Bahwa bundo seharusnya menjadikan anak-anak sebagai penyemangat. Bahwa kondisi ini seharusnya bundo jadikan tantangan untuk meningkatkan kualitas diri dari segi manajemen waktu dan kedisiplinan,kalau perlu kurangi waktu tidur. Bahwa kuliah mestinya tidak lebih sibuk daripada bekerja, bahkan bundo bisa bertemu anak-anak lebih sering karena tidak harus 'menghilang' dari rumah from 6am to 8.30pm. Bahwa Abah sangat mendukung setiap tahap yang akan Bundo lewati. Bahwa Abah sangat percaya bahwa sesibuk apapun bagi Bundo anak-anak tetap yang utama. Bahwa Abah akan melakukan yang terbaik untuk kelancaran tugas-tugas bundo. Bahwa abah akan selalu mendoakan dan mendukung bundo. Bahwa seiring dengan proses panjang fase-fase persiapan untuk sekolah maka anak-anak akan beranjak besar (proses menuju sekolah kadang memakan waktu 2 tahun)

Setelah perenungan dan diskusi yang panjang, dengan argumen2 ketidak yakinan yang selalu bisa ditegakkan kembali oleh Abah, akhirnya aku mantap memulai fase ini dari awal, yaitu menyiapkan diri untuk sertifikasi Bahasa Inggris.

Maka dalam 5 minggu ini Bundo kursus di kuningan. Keluar kursus jam 7pm kemudian harus segera naik ojek ke tanah abang untuk mengejar kereta pukul 7.40pm. Alhamdulillah sejauh ini lancar dan tidak sesulit yang dibayangkan. Sesampainya di rumah setiap detik waktu berharga bundo habiskan bersama anak-anak. Walau cuma beberapa jam. Selama wik en Bundo juga membuat program-program khusus bersama anak-anak.

Perasaan bersalah masih terus mendera setiap hari, setiap meninggalkan rumah. Entah itu demi pekerjaan, demi kursus atau untuk mencari kebutuhan rumah tangga. Rasanya bundo ingin di rumah saja 24 jam, bersama mereka. Namun secara finansial kondisi kita memang belum memungkinkan untuk itu.

Minggu lalu teman kajian Muslimah di kantor adalah tentang 'Tarbiyatul Aulad', dan hati ini rasanya makin tersindir. Bundo berharap keputusan untuk memulai tahapan 'sekolah lagi' ini adalah keputusan yang tepat, dan bundo coba jalani ini dengan bijak.

Bagaimanapun, anak-anakku, senyum dan bahagia kalian adalah segala-galanya di atas apapun di dunia ini.... sekali lagi, semoga ini keputusan yang tepat