Kamis, 22 Februari 2007

Begitu Senja

Dulu aku selalu merindukan senja
Karena ujung matahari yang perlahan-lahan menghilang karenanya...
Semburatnya menghadirkan banyak inspirasi. Siluet. Jingga. Samar. Manis
Dan sapaan rombongan burung yang berduyun-duyun melintas sawah...
Membentuk pola-pola tertentu laksana awan-awan semu
...Sesuai imajinasi yang melihatnya
...Sesuai suasana hati yang melihatnya
...Sesuai harapan yang melihatnya

Dulu aku selalu merindukan senja
Karena ia adalah fase penyesuaian antara siang dan malam
Karena ia adalah fase penerimaan dari terang ke gelap
Saat cahaya buatan insan menggantikan perkasa sang Surya
walau tak tertandingi
...kekuatannya
...fungsinya
...khasiatnya
...pesonanya

Dulu aku selalu merindukan senja
Karena itu berarti jua pemberhentian sejenak menyongsong esok
Masa untuk melepaskan sendi-sendi penat
Untuk dipakai kembali esok hari
Masa untuk mengistirahatkan raga
...hati
...batin
...jiwa
...rasa

Dulu aku selalu merindukan senja
Karena mestinya saat itu kau mengada
...merupa
...menjelma

Sampai tadi pagi aku masih merindukan senja
Saat baru tersadarkan
Ternyata siang masih begitu lama

*fase menanti belahan jiwa....

Senin, 05 Februari 2007

Tali Pusat

Wahai dede di Perut...
Ayo de, tali pusarnya dilepasin ya de ^_^.
Jangan dimain2in ya de..
Apalagi sampai dililitin ke leher begitu.
Main ama tali pusarnya udahan ya de :).
Kan kasian.. dedenya ntar sakit.
Dilepasin atuh yah honey sayang :).
Abah n umminya juga jadi kuatir..
Nanti dede kenapa-kenapa..
Dilepasin ya de :)
Muach muach...

Rabu, 29 November 2006

Kelezatan Iman


 Dari 'Abdullah bin 'Amr bin 'Ash r.a., katanya seorang laki laki bertanya kepada Rasulullah saw  "Orang islam yang bagaimanakah yang paling baik?" Jawab Rasulullah saw., "Ialah orang orang yang menjaga orang orang islam lainnya dari bencana lidah dan perbuatannya."

 Dari Anas r.a, dari Nabi saw., sabdanya: "Ada tiga perkara, bila terdapat dalam diri seseorang maka dia akan merasakan bagaimana manisnya Iman: Mencintai Allah dan Rasul-Nya, melebihi daripada yang lain lain. Mencintai orang lain karena Allah semata mata. Benci menjadi kafir kembali setelah Allah melepaskannya dari kekafiran itu, sebagaimana bencinya akan dilemparkan ke neraka"

Saudariku seiman, apabila tiga sifat tersebut telah mengakar di dalam hati, jiwa dan fikiranmu, maka engkau -dengan ijin ALLAH- keimananmu akan menghasilkan sesuatu yg baru, yaitu ketenangan, kesigapan dan ketentraman

Saudariku seiman, inilah tiga hal yang sangat penting. Karenanya peliharalah dan berikan seluruh perhatianmu kepadanya, sehingga engkau benar benar merasakan suatu kelezatan di dalam jiwamu, yaitu 'kelezatan iman'.

maraji:
1. shohih muslim
2. membentuk muslimah militan, Najib Khalid Al-'Amir

Senin, 13 November 2006

[Cluster-5] Tamanuang

//ini hasil migrasi blog, 7 Juli 2015. Pindahan dari unisa81.net//

Ah kemana juz 27 ku? Kemana ketenangan yang dulu merayap-rayap setiap kali bimbang meradang. Kemana dendangan-dendangan kalimatNya yang selalu menjadi melodi terindah mendendang Qalbu? Setiap saat setiap detik, dimanapun kapanpun. Kemana petuah-petuah bijak yang selalu jadi senjata andalan ketika satu dua jiwa mendekat ingin bersahabat. “Simpan ayatNya dalam dadamu maka segala pahit akan berubah menjadi semanis gula”, begitu selalu kata diri pada semesta. Maka diripun menjadi rindu pada jiwa lama yang selalu berdendang riang memandang matahari senja Singapura kala warna-warni melukis raga. Maka diripun mejadi rindu pada jiwa lama yang selalu cerah ceria mensketsa sungai Singapura ditemani ayat-ayatNya.

Seribu tanya menari disela sesal yang kemudian tumpah menjadi airmata. Bersalah. Bersalah dalam kekalahan, kalah terhadap diri sendiri. Episode siang ini membingkai jendela. Menjingga, memerah lalu menghitam. Ah diri, kenapa sampai sejauh ini, pantas saja hilang semua koleksi kalimat-kalimatNya. Lalu mencobaku menyelusup mencari jiwa lama itu ke dalam aliran darah, seluruh denyut nadi, lapisan kelabu di kepala. Tak ada. Tiada. Engkau dimana wahai jiwa? Wahai keindahan yang selalu memenuhi semestaku, wahai ketenangan yang selalu menawarkan singgah untuk melepas lelah. Engkau dimana. Tak tahukah aku rindu.

Angin menggenggam jiwa, yang tak tahu lagi bentuk rupanya. Siapakah ini? Senja Singapura tentunya tak ada di sini. Pinggiran sungai Singapura tempat meluahkan asa pun tak ada di sini. Lalu kemana? Kemana harus menumpahkan tegukan pahit di ujung tenggorokan. Kemana harus mengakui kesalahan, meminta teguran, arahan atau luapan marah. Karena kesalahan ini memang begitu mencekam.

Engkau dimana wahai jiwa yang lama? Wahai keindahan yang selalu memenuhi semestaku, wahai ketenangan yang selalu menawarkan singgah untuk melepas lelah. Engkau dimana. Tak tahukah aku rindu.
//akhir 2006
*haruskah menunggu pelangi menari mengitari inti bumi? seperempat abad lewat sudah, berapa lama lagi kutunggu kamu wahai semestaku…



Senin, 04 September 2006

[Cluster-4] Catatan 2 Tahun yang lalu

//ini hasil migrasi blog, 7 Juli 2015. Pindahan dari unisa81.net//


Mengapa air mata ini keluar tanpa sebab
Mengapa hatiku berdebar dalam gelap
Perenunganku berakhir, matahari bergulir
Aku menanti-nanti, menunggu detik-detik akhir
Berapa? Berapa lagi usiaku yang Tuhanku?

Tulisan-tulisan di bawah adalah yang aku tulis dan aku terima di Singapura, saat maghrib menjelang dan usia berkurang satu, di dua tahun yang lalu, 4 September 2004…

1. Dua monitor

suatu siang
saat jarak yang membentang bukan halangan
saat Singapura Jakarta hanya terpisahkan oleh
dua layar monitor
saat ukhuwah menjadi taman taman yang indah
dan tausiyah menjadi kuntum kuntum yang merekah
walau tiada pernah saling menatap wajah
inikah hati hati yang terikat karena Allah?


mbak…
tolong ajari aku
tentang ikhlas, syukur dan sabar
kenapa kaki ini tiba2 berat melangkah


sayang,
bila ingat keikhlasan…ingatlah bunda dirumah…..
ingat kenakalan kita dan juga semua jerih payah yang telah diberikan hingga membuat kita menjadi orang yang berguna, tapi beliau tetap ikhlas…
kadang marah, kadang cinta…tapi tidak pernah meminta sesuatu sebagai balasannya…


sayang,
jika ingat keikhlasan..ingatlah bahwa seorang sahabat rela dipatuk kakinya oleh ular tapi tidak bergeming, karena takut gerakannya akan membangunkan lelap kekasih hatinya…..dia tidak berharap apapun atas cintanya…
jika ingat keikhlasan ingatlah…bahwa hidup kita hanya mengharap cinta Alloh SWT, maka semua pemberian atau balasan dari makhluk akan terasa kecil karenanya..


sayang,
jika ingat kesabaran, ingatlah nabi ayub…kehilangan atas tanah, anak dan istrinya serta terakhir diberi penyakit yang tidak pernah hilang derita..tapi yang terucap dari mulutnya hanya kalimat thayyibah…
ingat kesabaran..ingatlah baginda rasulullah dipukuli dan di lempari baru di thaif..tapi yang keluar dari mulut mulia beliau adalah doa untuk mohon keberkahan atas kaum itu
ingat kesabaran ..ingatlah para mujahid dakwah yang dipenjara atau terbunuh dalam perang, yang tidak pernah keluar keluh kesah derita walaupun berhadapan dengan tirani…
ingat kesabaran..ingatlah bahwa sabar tidak memiliki awal dan juga akhir…..karena dia adalah proses yang tiada berhujung, dengan balasan surga bgi siapapun yang bisa melaksanakannya…


sayang,
antara keikhlasan dan kesabaran akan berbuah satu yakni keimanan….yang menghasilkan surga hakiki

———-

2. puisi cinta dari sahabat

Hari-hari melangkahi usia
memburu imanku
mengejar hari esokku
Di mana kini aku berada?

berlari-lari usia mengejar massa
hingga saatnya tiba
aku perlu kado istimewa
bukan, bukan sekedar harta
mungkin hanya sebait doa
mungkin juga sebuah taushiyah
sungguh aku tak ingin waktuku tersia-tersia

Detik-detik menggiring rasa
Meninggalkanku sebuah jeda
bermuara sebuah perenungan
Akhirnya tertinggal di dada
Teriakan-teriakan kesakitan membahana
Memecah dunia dari ufuk timur dan ufuk barat
Manusia-manusia yang dibangkitkan
Dari tidurnya yang panjang nan lelap
berakhir sudah .

keluarlah sejarah lama
menyiksa, memaksa
mengantarkan keletihan pada puncak ketakutan
malaikat maut dengan sapa peringatan
“Man robbuka?” [Siapa Tuhanmu?]
“Man dimuka?” [Apa agamamu?]
“Man qiblatuka?” [Ke mana kiblatmu?]
maka gemetar ruh
“Siapa Tuhanku? Allah,Allah Tuhanku!”
“Agamaku? Islam, agamaku!”
“Kiblatku? Celakah aku? ke mana kiblatku, ya Tuhanku?”

Jawab, jawab, aku perlu jawab
Mengapa air mata ini keluar tanpa sebab
Mengapa hatiku berdebar dalam gelap
perenunganku berakhir, matahari bergulir
aku menanti-nanti, menunggu detik-detik akhir *sesuai status ym nya:P*
berapa? Berapa lagi usiaku yang Tuhanku?
Tetapkah berdiri aku di sini saja
di bibir ketakutan
sungguh ya Tuhanku
bilakah tulus pengharapanku
seandainya merangkakpun kutuju diriMu
Meski berat berlari aku padaMu
sisa-sisa tenagaku makin melemah
deraan-deraan ujian membuatku goyah
apakah kesabaranku lambat laun terkikis?
hingga sedikit demi sedikit semakin menipis?

Aku butuh pijakan
Aku butuh pegangan
Aku butuh tangan-tangan
yang mengajakku bangkit kembali
dan mengingatkanku tanpa bosan setiap hari

aku perlu orang-orang yang menuntun
Yang saling menjaga agar ruhiyah tidak turun
Hingga berjumpa do.a-do.a robithoh yang terlantun
Aku perlu sapa-sapa santun
Hingga merembes seluruh taujih dalam qolbun
Maka, kubiarkan waktuku berlalu setahun
Bersama doa pagi dan selang petang kami yang beruntun

Berkaca kami pada manusia-manusia langit
Yang menggunakan waktu sebagai selendang menuju syahid
Ketika di atasnya tertoreh darah dan tadhkiyah
Yang sengaja selalu dicipta dalam dada
demi perngharapan berjumpa dengan RabbNya

ketika napak tilas hari sebelumnya
Memeras luka dari jiwa
Merobek-robek luka lama
sayatan-sayatan pedih seolah luka abadi
sejarah hati yang tak kuasa dipendam sendiri
Meronta-ronta jiwa
Namun akhirnya terpaksa jua mengakui

Di sini
Jauh di dasar sanubari
terukir nama-nama dalam hati
mengajakku lagi, lagi dan lagi
bangkit kembali
Menyongsong esok hari
Maha suci Illah
Ahabbakalldzi ahabbatanillah
Bilakah kami bersua di pelataran ArsyNya?

//ukhty, syukran atas cintanya…


Selasa, 29 Agustus 2006

[Cluster-3] Jelang seperempat abad…

//ini hasil migrasi blog, 7 Juli 2015. Pindahan dari unisa81.net//

29 Agustus 2006

Bunda Sayang…
Berarti tepat 6 hari lagi, usia ini seperempat abad. Nanda mungkin bukan penganut perayaan hari ulang tahun dan mengucapkan selamat atas semakin menipisnya jarak antara jasad ini dengan liang kubur. Hanya berusaha menitipkan salam lewat senyuman rembulan di langit sana buat bunda sayang.

Bunda sayang, bukankah kita menatap langit yang sama. Bukankah kita membagi jiwa yang sama.  Jika demikian, pasti buncahan rindu yang nanda rasakan saat ini adalah hal yang sama yang engkau rasakan juga di sana. Bunda sayang, apakah engkau juga menangis malam ini? Selalu bergetar diri setiap mencoba mengingat-ingat bakti apa yang sudah kuusahakan untuk seorang yang begitu tulus melahirkan, mencintai, membesarkan fisikku, membesarkan hatiku, menempa jiwaku, walau single fighter. Berarti sudah seperempat abad juga sosok tercinta itu berjuang begitu hebat sendirian, demi aku. Jatuh bangun dalam kekurangan harta untuk hidup hari ke hari, demi membiayai aku. Memupuk bintang harapnya setinggi langit, pada aku. Melabuhkan seluruh cinta buatku tanpa keinginan membaginya lagi dengan yang lain walau seperempat abad yang lalu itu usianya masih sangat muda. Ya bunda, 11 bulan tidak melihat wajahmu. Apakah telah bertambah kerut di sana. Cerahkah senyum di sana. Bagaimana hari-harimu. Bunda, aku rindu…

Berarti 6 hari lagi, usia ini seperempat abad. Ketegaranmu dalam hidup bu, bagiku adalah cerminan yang membuat kaki ini selalu mampu melangkah walau kita nyaris sebatang kara. Mendengar cerita-ceritamu akhir-akhir ini membuatku makin tak ingin pulang.  Ah bunda, ternyata kita tak tahu lagi bagaimana memaknai ketulusan. Benda itu sudah langka dan mahal harganya ya. Selalu gerimis hati ini setiap kali kabar-kabar terbaru diterbangkan angin sampai ke pulau ini. Mendung di hatiku setiap kali mengingat bahwa masih banyak terpaan angin kencang yang engkau hadapi. Sabar ya bunda, kaki ini masih belum mampu membawamu terbang ke sini. Tangan ini masih terlalu lemah untuk menghadirkanmu di sini walau setiap malam begitu tinggi harap tak terkatakan. Sabar ya bunda, tak sabarpun rasa di hati mencurahkan sepenuh bakti pada engkau seorang diri. ”Biarlah makan dengan garam Nak, asal ibu dekat denganmu”, begitu katamu selalu. Kalimat itu pula yang mampu menerbangkan aku dari segala kemewahan di Singapura sana. 

Ketidaknyamananmu dengan negeri kecil itu pula yang membuatku mampu menjalani proses adaptasi yang tidak mudah di ibukota tanah air kita ini. Meninggalkan teman-teman tersayang dengan segala keindahan ukhuwah yang telah demikian lama terbina, yang sebagian bahkan telah menjadi lebih dari saudara. Tak terpungkiri bahwa malam terakhir di Singapura adalah salah satu saat paling berat, salah satu keputusan paling susah, karena belantara beton ini sungguh asing bagiku, baik negerinya maupun penduduknya. Merajut persaudaraan yang baru tidaklah mudah, bu, karena rupanya batinku masih nun jauh di pulau itu. Demi engkau bunda, akan kusulap Jakarta menjadi senyaman Singapura.  Demi engkau bunda, tak ada artinya semua harta di dunia. Demi engkau bunda, andai bisa ingin kubuatkan sebuah istana di Surga. Demi senyum di wajahmu bunda, rela kutukar segala kemewahan dunia. Tak ada tempat yang lebih nyaman di dunia ini selain pangkuan ibu, demikian kata seorang penulis berkebangsaan Jepang. Ah bunda, engkau yang terbaik di dunia. Bahkan tak sekalipun kata-kata kasar kudengar dari mulutmu. Senyum selalu di sana, setidaknya yang terlihat di mataku walau perjalanan hidup megajarkan bahwa tak jarang senyummu mengandung tangis di hati. Bunda, aku rindu…

Bunda sayang…
Bagaimana kabar kota kelahiranku? Sudah 20 purnama tidak melihatnya. Tanah melayu yang dulu santun dan akrab dengan nilai-nilai islam. Nanda rindu bu, walau kadang rindu itu tersapu oleh bayang-bayang insan yang membuat kita tidak lagi sanggup menemukan arti ketulusan. Dada ini masih cukup lapang untuk mendengar cerita-ceritamu Bunda, walau tangan ini belum cukup kuat untuk membawamu terbang ke sini.

Titip rindu lewat bintang yang menari  bersama inti bumi. Sujud takzim buat bunda, yang telah membuat perjalanan seperempat abad ini terasa begitu mempesona.

Rabu, 16 Agustus 2006

On Writing

Malam merayap menjemput hari. Tak ada sinar bulan keperakan memantul mantul di Singapore river seperti di cerita2 fiksi. Yang ada hanyalah lampu lampu kota menyala benderang dengan angkuh. Terkesan bangga akan cantiknya yang semu. Seakan lupa bahwa sinar bulan tetap tak terkalahkan. Cantiknya alami. Walau tak terlihat namun semua tahu bahwa ia ada. Walau tak mencolok namun semua tahu bahwa indahnya abadi. Menawan. Carilah sinarnya di desa bukan di kota ini. Lalu kesederhaan yang memukau itu akan memenjarakan hatimu untuk betah berlama lama membersamainya. ... to be cont..

Jumat, 11 Agustus 2006

Dancing

I love dancing,
but today I dance with tears

Arsip: Resep Taucho yang OK punya

Oleh: Kak Khadijah
mahasiswi program phD NTU Singapore (tahun 2000an)

Medan, bekenaan dengan makanan, diluar dari keragaman suku yang ada, ada tiga jenis makanan yang terkenal dari Medan yaitu: Lapis Legit, Bika Ambon dan Taucho. Terdapat tiga jenis masakan taucho yaitu Taucho ikan, Taucho sayur dan Taucho kacang putih. Ikan yang paling baik untuk digunakan adalah ikan gembung. Ini karena Ikan gembung memiliki tekstur daging yang tidak padat, daging ikan relatif memiliki rasa yang tidak kuat sehingga rencahan taucho dapat benar-benar "meramu" rasa pada daging ikan dan ukuran ikan yang relatif kecil sehingga keseluruhan bahagian ikan dapat digunakan meskipun ikan mungkin harus dipotong menjadai dua atau tiga bagian.

Tidak seperti taucho ikan, uniknya, bahan dasar udang atau sotong saja tidak biasa digunakan untuk mendapatkan masakan taucho seperti taucho "seafood". Kedua bahan ini juga tidak digunakan dicampurkan bersama ikan untuk membuat "Taucho Seafood" Dengan kata lain taucho seafood tidak ada. Taucho kacang puting biasanya dipadukan dengan udang. Ikan haruslah digoreng terlebih dahulu. Kacang putih perlu direndam lebih 5 jam , buang air rendamannya kemudian dikukus atau direbus.

Gunakan sayuran yang tidak berdaun untuk membuat taucho sayur. Meskipun namanya taucho sayur, bahan yang mengandung protein juga digunakan seperti tahu, tempe, udang dan sotong. Sayur yang biasa digunakan dalam membuat taucho sayur adalah: kancang panjang, terong telunjuk (boleh juga terong ungu (bulat/ lonjong) yang dipotong dadu), belinjau muda dan jamur. Gunakan jamur yang memiliki tekstur yang lembut seperti jamur merang dan sebagainya. Jamur yang tekstur pejal tidak digunakan untuk keperluan ini. Hal ini disebabkan untuk mendapatkan gabungan rasa yang baik antar bahan yang memungkinkan rencahan taucho "mewarnai "rasa masakan. Jamur pejal tidak menimbulkan rasa dan sekaligus tidak memungkinkan bumbu taucho untuk meresap.

Penggunaan bahan yang menimbulkan rasa seperti cabai, bawang merah, bawang putih, jahe dan sebagainya adalah sama untuk taucho ikan, sayur dan kacang putih tapi ianya memiliki fungsi yang berbeda. Pada taucho ikan, bahan perasa ini berfungsi seperti sambal dimana kita dapat menikmati sambal tanpa merasai ikannya atau menikmati ikan tampa memakan sambalnya. Manakala pada taucho sayur dan kacang putih, bahan perasa ini berfungsi sebagai menambah keragaman sayur bukan sebagai kuah dari masakan.

Untuk keperluan keindahan dan rasa, penggunaan cabai merah dan cabai hijau adalah dianjurkan. Jika taucho menggunakan udang, buang kulit udang, tinggalkan kulit pada bagian ekor dan toreh memanjang bagian punggung hingga mencecah kulit ekor. Ini akan menimbulkan rekahan yang menarik. Jika taucho menggunakan sotong atau cumi, pisahkan kepala dari badan, potong 4 X 4 cm bagian badan, potong (tidak terputus) kepada 3-5 bagian. Potongan ini (3-5 bagian) akan melengkung keluar menimbulkan bentuk yang sangat kontras berbanding potongan sayuran ataupun bahan perasa. Jika sotong atau cumi yang digunakan memiliki ukuran yang kecil, pisahkan bahagian kepala, (bergantung kepada ukuran) potong badan sotong atau cumi menjadi dua bagian tubular, pada permukaan atas , belah kepada 4-6 bagian memanjang kearah ekor, disebabkan oleh panas (setelah dimasak), belahan ini akan melengkung keluar membentuk kelopak bunga.

Rimbang pada dasarnya bukan merupakan bahan perasa utama, oleh sebab itu ianya tidak mesti ada. Jika rimbang digunakan pada masakan ini maka terdapat tamabahan aroma dan rasa pada masakan yang menurut kak Ijah lebih enak. Rimbang yang dipotong haruslah direndam pada air. Jika tidak, permukaan potongan pada rimbang akan menghitan disebabkan oleh oksidasi dan ini akan menimbulkan warna hitam pada masakan juga mempengaruhi rasa. Meskipun air rendaman dari potongan rimbang menghitan dam permukaan potongan juga menghitam, potongan rimbang ini tidak perlu dicuci, ambil potongan rimbang dam tumis bersama bahan perasa lainnya. Kak Ijah pernah diberitahu teman untuk menggunakan kerupuk jangek/kerupuk kulit (banyak terdapat dipadang) kedalam masakan taucho sayur. Caranya mudah, masukkan kerupuk jangek kedalam masakan bersamaan dengan udang, sotong, tomat dan jamur. Hasilnya, kak Yahya menghabiskan keseluruhan masakan taucho.

Pada daerah-daerah dimana mudah untuk mendapatkan kikil, taucho kikil benar-benar menajubkan. Kikil adalah kulit lembu yang telah diproses. Bahagian luar dari kulit dibakar untuk menghanguskan bulu, dikikis bersih dan kemudiannya direbus. Proses yang sama juga dilakukan kepada kulit kambing, kemudian dipotong kecil, dijemur hingga kering dan terakhir digoreng untuk mendapatkan kerupuk jangek. Pada taucho kikil, biasanya kulit tahu dan udang adalah gabungan yang paling cocok. Untuk informasi tambahan, kerupuk jangek adalah bahgan makanan yang paling baik untuk menyembuhkan sakit maag.

Khususnya untuk taucho sayur, tekstur dari bahan serta tingkah laku kimianya perlu diketahui untuk menentukan bahan apa yang dimasukkan terlebih dahulu guna menjaga rasa yang optimum serta juga berkaitan dengan penampilan masakan. Pada taucho ikan, taucho dimasukkan bersamaan dengan tomat setelah bahan perasa lainnya masak.

Pada taucho kacang putih dan sayur, taucho dimasukkan setelah bahan perasa meresap kedalam kacang putih atau sayuran, udang (udang, sotong dan jamur pada taucho sayur) dimasukkan bersamaan dengan tomat. Jika taucho dimasukkan bersamaan dengan bahan perasa (cabai, bawang jahe dan sebagainya) rasa dan aroma taucho akan berubah ini karena pada dasarnya taucho adalah telah masak. Taucho didapatkan dari proses fermentasi. Taucho mengandungi garam yang cukup tinggi. Oleh sebab itu berhati-hati dalam menggunakan garam saat memasak.

Tomat menimbulkan rasa asam, menaikkan rasa gurih dari masakan dan sekaligus mempengaruhi kepekatan dan warna. Jika tomat ditumis bersama bahan perasa, panas menyebabkan rasa asam dan kemampuan kepekannya hilang serta kecerahan warna tomat berkurang. Udang dan sotong/cumi haruslah dimasukkan terakhir. Jika dimasak kelamaan, daging udang, sotong dan cumi akan menjadi keras, penampilan rekahan pada punggung udang hilang dan lengkungan pada sotong/cumi hilang kelenturannya.

Disamping itu rasa dari udang, sotong dan cumi akan menjadi hambar, demikian juga jamur. Kerena masakan ini terdiri dari berbagai warna, bentuk dan potongan, pada saat menyajikannya, masakan taucho tidak perlu dihias.

Taucho sayur atau kacang putih dijadikan bahan pelengkan pada lontong dan biasa disajikan saat hari raya baik Idul Fitri maupun Idul Adha. Lontong yang sedemikian disebut lontong sayur. Pelengkap lainnya dari lontong sayur adalah serendeng, sayur lodeh atau juga dapat diganti dengan gulai nangka dan kerupuk. Untuk makan sehari hari, taucho ikan cocok dipadukan dengan lalap timun atau rebusan. Menurut keperluan nutrisinya, taucho sayur sudah cukup mengandungi serat dan protein yang diperlukan. Menurut rasa kak Ijah, taucho sayur cocok dipadukan dengan ikan asin atau sambal, baik sambal ikan asin dan lainnya. Selamat mencoba.
1. Taucho Ikan
Bahan:
1 Kg ikan gembung, goreng.
15-17 buah campuran cabai merah dan cabai hijau, hiris.
7 siung bawang merah, hiris kasar.
5 siung bawang putih, hiris halus.
1 batang serai, hiris halus.
4cm jahe/halia, hiris halus.
4cm lengkuas, hiris halus.
1 genggam rimbang yang telah dibuang tangkainya, belah dua.
1 helai daun salam
1 helai daun limau purut
2-3 sendok makan taucho
2 buah tomat masak ukuran sedang
5 sendok makan minyak goreng untuk menumis
Garam secukupnya

Cara memasak:
Panaskan minyak goreng, tumis bahan perasa kecuali taucho dan tomat. Aduk rata beberapa hingga layu, tutup 3-5 menit. Masukkan taucho dan hirisan tomat, aduk rata, tutup selama 2-3 menit. Masukkan 1/2 gelas air (kira-kira 125cc) aduk rata. Masukkan ikan, aduk rata, tutup 2 - 3 menit. Aduk rata kembali, angkat dan sajikan pada piring leper atau mangkok rendah untuk sambal.
2. Taucho kikil
Bahan:
1 Kg kikil, potong 1.5 X 3 cm.
50 gr kulit tahu / tahu kering, rendam pada air biasa, potong menurut selera.
300 gr udang
15-17 buah campuran cabai merah dan cabai hijau, hiris.
7 siung bawang merah, hiris kasar.
7 siung bawang putih, hiris halus.
1 batang serai, hiris halus.
4cm jahe/halia, hiris halus.
4cm lengkuas, hiris halus.
1 genggam rimbang yang telah dibuang tangkainya, belah dua.
1 helai daun salam
1 helai daun limau purut
2-3 sendok makan taucho
2 buah tomat masak ukuran sedang
5 sendok makan minyak goreng untuk menumis
Garam secukupnya

Cara memasak:
Panaskan minyak goreng, tumis bahan perasa kecuali taucho dan tomat. Aduk rata beberapa hingga layu, tutup 3-5 menit. Masukkan kikil, adauk rata bubuh sedikit air, aduk rata kembali, tutuk 2-3 menit. Masukkan taucho, aduk rata, tutup selama 2-3 menit. Masukkan tahu kering, udang dan tomat, aduk rata, bubuh 1/2 gelas air atau secukupnya, tutup 2 - 3 menit, aduk rata kembali, angkat dan sajikan pada piring leper atau mangkok rendah untuk sambal.

3. Taucho kacang putih
Bahan:
0.5 Kg kacang putih, rendam 5 jam atau lebih, kukus atau rebus.
50 gr kulit tahu / tahu kering, rendam pada air biasa, potong menurut selera.
300 gr udang
15-17 buah campuran cabai merah dan cabai hijau, hiris.
7 siung bawang merah, hiris kasar.
5 siung bawang putih, hiris halus.
1 batang serai, hiris halus.
4cm jahe/halia, hiris halus.
4cm lengkuas, hiris halus.
1 genggam rimbang yang telah dibuang tangkainya, belah dua.
1 helai daun salam
1 helai daun limau purut
2-3 sendok makan taucho
2 buah tomat masak ukuran sedang
5 sendok makan minyak goreng untuk menumis
Garam secukupnya

Cara memasak:
Panaskan minyak goreng, tumis bahan perasa kecuali taucho dan tomat. Aduk rata beberapa hingga layu, tutup 3-5 menit. Masukkan kacang putih, adauk rata, bubuh 1/2 gelas air (125 cc atau secukupnya), aduk rata kembali, tutup 2-3 menit. Masukkan taucho, aduk rata, tutup selama 2-3 menit. Masukkan tahu kering, udang dan tomat, aduk rata, tutup 2 - 3 menit, aduk rata kembali, angkat dan sajikan pada piring leper atau mangkok rendah untuk sambal.

4. Taucho Sayur
Bahan:
200 gr kacang panjang, potong 3 cm
300 gr belinjau muda, potong dua, rendam dalam air untuk mengelakkan oksidasi
200gr terung telunjuk, potong 2-3cm atau terung ungu bulang / lonjong, potong dadu.
200 - 300 gr tempe, potong dadu, goreng
8 kotak kecil tahu, potong dadu, goreng. Satu potongan tahu yang dijual dipasar terdiri dari 4 kotak kecil.
200 gr udang
200 gr sotong/ cumi
200 - 300 gr jamur segar
15-20 kerupuk jangek (jika ada)
15-17 buah campuran cabai merah dan cabai hijau, hiris.
9 siung bawang merah, hiris kasar.
7 siung bawang putih, hiris halus.
1 batang serai, hiris halus.
5cm jahe/halia, hiris halus.
4cm lengkuas, hiris halus.
1-2 genggam rimbang yang telah dibuang tangkainya, belah dua.
1 helai daun salam
1 helai daun limau purut
2-3 sendok makan taucho
2-3 buah tomat masak ukuran sedang
5 sendok makan minyak goreng untuk menumis
Garam secukupnya

Cara memasak:
Panaskan minyak goreng, tumis bahan perasa kecuali taucho dan tomat. Aduk rata beberapa hingga layu, tutup 3-5 menit. Masukkan belinjau, adauk rata, bubuh sedikit, aduk rata kembali, tutup 2-3 menit. Masukkan kacang panjang, terung, tahu dan tempe, aduk rata, masukkan air secukupnya, adauk rata tutup 3-5 menit. Masukkan taucho, aduk rata, tutup selama 2-3 menit (bubuh air jika perlu). Masukkan udang, sotonbg / cumi, jamur, kerupuk jangek dan hirisdan tomat, aduk rata, tutup 3-5 menit, aduk rata kembali, angkat dan sajikan didalam mangkok rendah untuk sambal.

Catatan.
Jumlah campuran cabai merah dan cabai hijau adalah relatif, bergatung kepada selera pedas seseorang. Seperti yang diungkapkan diatas, penggunaan rimbang dan kerupuk jangek adalah hanya jika ada (optional). Kak Ijah beranggapan bahwa jika ataucho sayur diwsajikan pada anak-anak yang sukar makan sayur akan membantu menambah perbendaharaan sayuran pada anak-anak. Disebabkan oleh keragaman bahan, kita dapat mendidik anak akan keragaman cita rasa dari berbagai jenis sayuran. Anak-anak kebanyakannya kurang menyukai warna hijau dan bentuk daun pada sayur. Mungkin ini dapat membantu sianak mengilangkan rasa bosan mereka akan warna hijau sayuran.

Kamis, 27 Juli 2006

Isti'ab

nyulik dari mba YOKKA,
yokka.multiply.com

Meningkatkan Kapasitas Rekruitmen Dakwah

ISTI'AB DALAM DAKWAH DAN DA'I

1. Makna Isti'ab

Isti'ab (daya tampung) adalah kemampuan da'I utk menarik objek dakwah (mad'u) dan merekrut mereka dengan segala perbedaan intelektual, kejiwaan, status sosial dsb.

Da'i yg sukses adalah da'I yg mampu masuk & dapat mempengaruhi setiap manusia, dengan pemikiran dan dakwahnya, sekalipun kecenderungan, karakter, dan tingkatan mereka beragam. Disamping mampu menarik sejumlah besar manusia dan mampu menampung mereka baik dalam tataran pemikiran ataupun pergerakan.

Jadi Isti'ab merupakan kemampuan individu, kelayakan akhlak, sifat keimanan, dan karunia Ilahiyah, yg membantu para da'i dan mjdkan mereka poros bagi masyarakat, shg mereka senantiasa berputar dan berkerumun di sekitarnya.

2. Tingkat Kemampuan dalam Isti'ab

Tingkatan isti'ab seorang da'I berbeda-beda, namun seorang daâۉ„¢I dituntut utk memiliki batas minimal kemampuan istiâۉ„¢ab, agar bisa produktif dan mendatangkan manfaat bagi masyarakat, bukan mendatangkan kemudhoratan dan tdk mendatangkan manfaat sama sekali, bahkan menjadikan orang-orang disekelilingnya lari.

Tingkatan-tingkatan kemampuan dalam isti'b disyaratkan oleh sebuah hadits:
"Perumpamaan petunjuk dan ilmu yg dengannya Allah mengutusku adalah bagaian hujan yg turun ke bumi. Maka ada bagian bumi yg baik, ia menerima air hujan itu dgn baik lalu menumbuhkan tanaman dan rerumputan yg banyak. Ada jg bagian bumi yg menahan air, lalu Allah memberikan manfaat kpd manusia dgn air yg disimpannya, shg mereka bisa minum dan menyirami tanaman dari air tersebut. Bagian lainnya adalah padang tandus, ia sama sekali tidak bisa menyimpan air dan juga tdk menumbuhkan apa pun. Demikian itu adalah perumpamaan orang yg diberi kepahaman dalam agama, lalu ia dapat memanfaatkan apa yg aku bawa itu, hingga ia senantiasa belajar dan mengajarkan apa yg ia pahami. Dan perumpamaan orang yg sama sekali tidak ambil peduli dan tidak mau menerima petunjuk Allah yg aku sampaikan" (HR Bukhari Muslim)

3. Isti'ab dan Keberhasilan Dakwah

Tidak akan ada keberhasilan dakwah tanpa kemampuan isti'ab krn keberhasilan ditandai dengan kemampuan da'i utk menarik sebanyak-banyaknya masyarakat kpd Islam & pergerakan yg ada, shg mampu merealisasikan sasaran-sasarannya. Jika dai tidak mempunyai isti'ab maka dakwah akan mandul dan pergerakannya akan terbatas, hingga Allah mendatangkan para da'I dan kader yg sangat berpengaruh dan mampu menarik masyarakat. Atau Allah akan menggantikannya dengan daklwah yg lain yg tidak sama dengannya. Inilah sunnatullah yg akan terus berlaku:

.. dan kamu sekali-kali tiada akan mendapati perubahan pada sunnah Allah (QS Al-Ahzab : 62)

.. Maka sekali-kali kamu tidak akan mendapat penggantian bagi sunnah Allah, dan sekali-kali tidak (pula) akan menemuui penyimpangan bagi sunnah Allah itu (QS Fathir : 43)</em>

4. Isti'ab Eksternal & Internal

Isti'ab Eksternal adalah penguasaan terhadap orang-orang yg berada di luar dakwah, di luar pergerakan dan diluar organisasi. Atau orang-orang yg belum bergabung.

Isti'ab internal adalah penguasaan terhadap orang-orang yg berada di dalam organisasi, yakni mereka yg telah bergabung ke dalam Jama'ah dan pergerakan. Keberhasilan seorang da'i sangat terkait dengan kemampuan utk menguasai keduanya, krn tdk ada gunanya pengguasaan terhadap masyarakat di luar tanzhim (jamaah) tanpa dibarengi dengan penguasaan terhadap masyarakat yang ada dalam tanzhim.

ISTI'AB EKSTERNAL

Sesuai Al-Qur'an & Sunnah tuntutan yg harus dipenuhi para da'i dalam proses isti'ab dan recruitment diantaranya:

1. Kepahaman tentang agama

Katakanlah: adakah sama orang-orang yg mengethaui dengan orang-irang yg tidak mengetahui? Sesungguhnya orang yg berakalah yg dapat menerima pelajaran (Az-Zumar : 9)

Dan orang-orang yg diberi ilmu (Ahli Kitab) berpendapat bahwa wahyu yg diturunkan kepadamu dari Rabb-mu itulah yg benar dan menunjuki (manusia) kepada jalan Rabb Yang Maha perkasa lagi Maha Terpuji (Saba': 6)

Kemudian Kami jadikan kamu berada di atas suatu syariat (peraturan) dari urusan agama itu, maka ikutilah syari'at itu dan janganlah kamu ikuti hawa nafsu orang-orangg yg tidak mengetahhui (Al-Jatsiyah : 28)

Wahai manusia sesungguhnya ilmu hanya didapat dengan belajar, sedang pemahaman hanya akan didapat melalui pendalaman (tafaquh), dan barang siapa yg dikehendaki Allah baik maka akan diberi kepamahan dalam agama, sesungguhnya yg takut kepada Allah dari hamba-hamba-Nya adalah ulama (HR Bukhori)

Apabila Allah menghendaki kebaikkan bagi seorang hamba maka Allah memberinya kepahaman tentang agama dan memberinya ilham kelurusan (HR Thabrani)

Sesungguhnya perumpamaan para ulama di muka bumi adalah bagaikan bintang-bintang yg dijadikan petunjuk dalam kegelapan daratan dan lautan. Jika bintang-bintang itu padam, maka para penunjuk jalan akan tersesat (HR Ahmad).

2. Teladan yg baik
Seorang da'i hrs menjadi teladan yang baik bagi masyarakat, agar ia memiliki pengaruh dalam masyarakat, shg mereka bisa direkrut. Krn pengaruh ucapan tidak seefektif pengaruh yg ditimbulkan oleh perbuatan, perbutan zhahir harus sesuai dgn apa yg ada di dalam hatinya.

Hai orang-orang yg beriman, mengapa kamu mengatakan apa yg tidak kamu perbuat? Amat besar kebencian disisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yg tiada kamu kerjakan (Ash-Shaf: 2-3)

Mengapa kamu suruh orang lain (mengerjakan) kebaktian, sedang kamu melupakan diri (kewajiban)mu sendiri, pdhal kamu membaca al-Kitab (Taurat)? Maka tidakkah kamu berpikir? (Al-Baqarah :44)

Perumpamaan orang yg mengajarkan kebaikan kpd org lain & melupakan dirinya, bagaikan lilin yg menerangi manusia dan membakar dirinya sendiri (HR Thabrani)

3. Sabar
Kesabaran dibutuhkan krn manusia memiliki kondisi kejiwaan yg bermacam-macam, memiliki kelebihan & kekurangan yg beragam, memiliki tabiat yg berbeda-beda, & memiliki kepentingan yg berlainan.

Dan mintalah pertolongan kpd Allah dengan sabar & sholat. Dan sesungguhnya yg demikian itu sungguh berat kecuali bagi orang-orang yg khusyu (Al-Baqarah:45)

QS. Thaha:130
QS. Al-Hajj:34-35
QS. Ali-'Imran:200
QS. Al-Baqarah:153, 155
QS. Az-Zumar:10
QS. As-Sajadah:24

Tidak ada rezeki Allah yg lebih baik & lebih luas bagi seorang hamba selain dari kesabaran. (HR Hakim)

Siapa yg berusaha utk bersabar maka Allah akan mengaruniai kesabaran, dan tidak ada karunia yg lebih baik & lebih luas bagi seseorang selain dari kesabaran (HR. Bukhori - Muslim)

4. Lemah lembut
Dibutuhkan krn masyarakat membenci kekerasan & menjauhi pelakunya.
QS. Ali-Imron : 134,159
QS. Fushshilat:34
QS. Al-Furqon:63

Rasulullah saw, bersabda "sesungguhnya Allah mencintai kelembutan dalam segala hal" (HR Bukhori-Muslim)

Sesungguhnya Allah Maha Lembut & menyukai kelembutan, memberi kpd orang yg lemah lembut apa yg tidak diberikan kpd orang yg kasar dan juga apa yg tidak diberikan kpd yg lain (HR Muslim)

5. Memudahkan tidak mempersulit
Manusia memiliki karakter, kemampuan & daya tahan yg berbeda-beda. Apa yg bisa dilakukan seseorang belum tentu bisa dilakukan oleh orang yg lain, krn itu Rasulullah saw bersabda:

Mudahkanlah & jangan mempersulit, senangkanlah mereka & jangan membuat mereka lari (HR. Bukhori-Muslim)

Berjalanlah dengan menenggang perjalanan yg paling lemah diantara kalian

6. Tawadhu' & merendahkan sayap
Dai yg tawadhu bisa hidup & bergaul dengan siapa saja, bisa menerima siapa saja, bisa berbicara kpd stp orang, menziarahi bahkan mencintai semua manusia. Dialah yg melayani masyarakat bukan masyarakat yg melayaninya.

Tidak akan masuk surga seseorang yg dalam hatinya terdapat sedikit kesombongan (HR Muslim)

Sesungguhnya orang yg paling aku cintai adalah orang yg paling baik akhlaknya, yg merendahkan sayap, yg mau menghimpun & mau dihimpun. (HR Thabrani)

Fenomena kesombongan ini tampak dalam berbagai hal:
- Lebih senang bergaul dengan orang-orang kaya & berpangkat drpd dengan org miskin/orang awam
- Lebih memperhatikan pakaian & penampilam, dan suka meremehkan orang yg terlihat kumal.
- Memilih-milih audien.
- Lebih mementingkan ungkapan yg dibuat-buat
- Merasa takjub dgn ilmu yg dimiliki

7. Murah senyum dan perkataan yg baik
Wajah merupakan cermin yg merefleksikan kejiwaan. Jika wajah seseorang seram maka hal itu merupakan cerminan dari kekasarannya & jika wajah seseorang berseri-seri & murah senyum, maka ini adalah pertanda kebaikannya.
Mengenai ucapan yg baik ini banyak terdapat dlm nash-nash Al-Qur'an:
QS. Al-Isra: 53
QS. Al-Baqarah:83, 263
QS. Al-Ahzab:70
QS. Al-Hajj:24
QS. An-Nahl:125
QS.Thaha:44

Janganlah kalian memandang remeh kebaikkan sedikit pun, meski kebaikan itu hanya berupa wajah yg berseri ketika bertemu dengan saudara kalian. (HR Muslim)

8. Dermawan & berinfaq kpd orang lain
Kedermawanan dengan materi menunjukkan kelapangan jiwa, sebaliknya orang yg kikir menunjukkan kekerdilan jiwanya.
Seorang dai harus menggunakan hartanya sbg sarana agar masyarat yg didakwahi mendapat hidayah, misalnya dengan:
- Islam mewajibkan memuliakan tamu
- Memberi hadiah kpd orang lain termasuk akhlaq Islam yg dianjurkan Nabi saw.
- Berbagai perbuatan mulia yg diperintahkan Allah spt, berinfak kpd fakir miskin, menanggung anak yatim, memeperhatikan hak tetangga dsb yg bertentangan dengan kebakhilan.

Dalam Al-Qur'an & hadits byk nash yg mengecam kebakhilan:
QS. Ali-'Imran:180,17
QS. Al-Hasyr:9
QS. Al-Isra:29,100
QS. Adz-Dzariyat:19
QS. An-Nisa:113

Tidak ada sesuatu yg dapat menghapus keislaman seperti halnya kekikiran (HR. Thabrani)

9. Melayani orang lain & membantu keperluan mereka
Seorang dai wajib menerjemahkan pemikiran & konsepnya dalam bentuk tindakan konkret, yaitu dengan turut merasakan problematika umat, & berusaha semaksimal mungkin utk ikut menyelesaikannya.

Barang siapa yang tidur tanpa peduli terhadap masalah kaum muslimin maka ia tidak termasuk golongan mereka

Amalan yg paling utama adalah menyenangkan seorang mukmin, dengan cara memberi pakaian, makanan, minuman & memenuhi kebutuhannya (HR Thabrani)