Kamis, 22 September 2011

Going Thirty

Malam menjelang ulang tahun ke 30, sekitar pukul 11 malam...
Ketika ngelonin adik yg lagi agak2 gelisah, tiba-tiba abang  (3thn6bln) lari-lari ke kamar sambil nyodorin:
1. Laptop mainan
2. Boneka bola kaki
3. Kereta thomas
4. Lingkaran donat2an
5. Kubus abjad
sambil bilang: "bunda,ini buat bunda" setiap kali nyerahin benda2 itu satu persatu.

Aku tanya: "kok dikasih ke bunda,Nak?"
Dia jawab: "ini kado,ini kado semua,kado dari apis. Besok beli kue juga"
Aku tanya: "kado apa Nak?"
Dia jawab: "semuaaa kado ulang tahun Bundaa!"

What?? Subhanallah... Terharu plus ternganga. Masalahnya dari kemarin2 plus hari ini, demi Allah, tak satupun ada pembahasan ttg Ulang Tahun Bunda...

Bahkan rasanya semua orang lupa,saking banyaknya permasalahan akhir2 ini. Bahkan rasanya akupun nyaris ga ingat...

Lalu bagaimana dia bisa tahu? Ataukah sesungguhnya dia tidak benar2 mengerti,namun Allah menggerakkan badan dan mulut kecil itu untuk melakukan hal2 yang sungguh mengharukan.

Nak, engkau sungguh hadiah yang luar biasa...

Setelah adiknya tidur,masih penasaran,lagi2 aku tanya si abang pelan2.
"Nak, ini semua kenapa dikasih ke Bunda?"
"Itu kado dari apis"
"Kado apa?"
"Ulang tahun Bunda. Besok apis belikan kue"
"Tapi, abang tau dari mana bunda ulang tahun?"
Dia cuma nyengir..trs cium tangan, peluk bantal, dan merem.

Anakku sayang, kalian bukan hanya 'sekedar' Cahaya Mata. Namun kalian adalah matahari bagi jiwa bunda...

Kamis, 18 Agustus 2011

Menoleh ke Belakang

Tahun ini berat juga ya ^_^
Menjelang usia 30 tahun, rasanya ujian begitu bertubi-tubi, terutama sejak bulan May 2011 ini. Bertubi-tubi dan menghantam dari segala sisi.
Dan semua yang dihantam adalah sisi-sisi terlemahku. Tidak hanya di satu titik tapi di banyak titik. Ada beberapa saat di dalam hidup ini ketika rasanya beban-beban itu tak tertanggungkan lagi.  Saat dimana bahu ini rasanya tak kuat lagi memikul semuanya.

Dulu, rasanya, seberat apapun persoalan,  selalu merasa yakin bahwa aku akan sanggup hadapi itu. Dan setiap hari  merasa semakin kuat hadapi hidup ini. Selalu yakin akan ada jalan keluar. Barusan coba renungi masa lalu. Telaah persoalan-persoalan hidup. Dimana aku selalu bisa bangkit. Kenapa sekarang rasanya tidak bisa? (Ah, lebay nih akyuuuu… :P)

Ketika susah punya seragam baru pas SMA, aku cuek aja make baju-baju bekas dari orang tua muridnya Ibu. bahkan nama pemilik lamanya tak aku copot sebab kuatir bajunya sobek. Bagi beberapa temanku saat itu, ini adalah masalah. Bagiku tidak.  Make baju bekas kan ga’ dosa. Saat itu aku punya pandangan baru bahwa, hal-hal yang bagi orang terlihat sulit, ternyata saat kita jalani dengan lapang hati, insyaAllah ga berat. Maka lewatlah masa-masa SMA dengan seragam-seragam bekas. Rok-rok bekas yang harus dipeniti disana sini. Ada yang kependekan, kegombrongan. Baju-baju dengan label nama orang-orang yang tak aku kenal. Alhamdulillah tak mengurangi prestasi belajar.

Pun, ketika kuliah di Bandung. Saat uang kiriman dari kampung ternyata seringkali tak cukup. Alhamdulillah selalu banyak jalan keluar. Ketemu teman2 sekampung yang tak segan-segan minjemin duit. Dapet kos yang memungkinkan untuk jalan kaki ke kampus. Ketemu kontrakan sesama suku yang membolehkanku bergabung dengan sistem ’saweran uang masak’ yang sangaaat menghemat pengeluaran. maka hari2 kembali dijalani dengan gembira. setiap 1000 rupiah sungguh berharga kala itu. Subhanallah…

Kemudian Allah berikan aku rejeki untuk lanjutkan kuliah di Singapore dengan beasiswa penuh.  Sadar sekali bahwa itu semata karena kasih sayang Allah. Sebab jika mau jujur, banyaaak sekali yang lebih pintar kala itu, baik di atas kertas maupun secara praktek. Hanya kasih sayang Allah lah yang membuatku bisa terbang ke Singapura. KasihNya dan do’a-do’a ibunda. Maka kuhadapi kembali hari-hari seru di perantauan. Alhamdulillah selama di sana tak pernah lagi ada masalah keuangan. Mulai bisa tersenyum mengingat saat2 di Bandung, ketika uang kiriman tak kunjung datang padahal duit di kantong tinggal 5rb saja. Masa-masa bahagia  ketika bisa survive kala itu dengan seribu rupiah perhari…

Kemudian lulus kuliah. Masa-masa mencari kerja agak sulit. Cukup lama menganggur dan uang tabungan mulai habis. Maka suatu ketika aku pasrah untuk meninggalkan Singapura dan balik ke Indonesia. Kerja apapun sepanjang tidak merepotkan ortu dan bisa survive hidup mandiri. Ketika tiket pesawat sudah di tangan, sudah menuju bandara, sudah ikhlaskan diri ke Jakarta tanpa benar2 mengerti hendak kemana, tiba2 sebuah instansi di Singapura menelpon, mengabarkan bahwa aku diterima bekerja di sana. Maka kembalilah aku ke Singapura. Kembali aku rasakan kasih sayang Allah. Kembali aku merasakan bahwa tanpa Nya, sungguh diri ini lemah…

Kemudian episode-episode hidup silih berganti. Aku kembali berikhtiar untuk kembali ke Jakarta, diantaranya karena alasan-alasan emosional. Hijrah ke Jakarta di 2006 dan kembali lanjutkan babak-babak kehidupan seorang diri. Lingkungan baru, teman-teman baru, suasana kerja baru, suasana ibadah yang baru… Hidup sungguh penuh warna..

Kemudian menjadi istri, menjadi ibu… subhanallah..

Episode hidup kembali bergulir. Ada tawa, tangis, suka dan duka. Semuanya berganti-ganti. Namun persoalan apapun yang menerpa, rasanya selama ini tangan-tangan ini masih kuat menggenggamnya. Bahu-bahu ini masih kuat menopangnya. Kaki ini masih kuat menapakinya. Semua tarbiyah Allah selalu kurasakan sebagai bentuk kasih sayangNya untuk melecut, untuk menegur, untuk menempa. Menempa fisik ini agar semakin kuat, menempa hati ini agar semakin tegar dan menempa jiwa ini agar semakin kokoh. (hehehe sok tegar… )

Tapi,
baru kali ini , baru 3 bulan ini, aku benar2 belum bisa pahami ujian yang sedang Allah berikan. Baru kali ini rasanya lutut ini goyah, hati ini koyak, jiwa ini remuk. Dan sudah berbulan-bulan mencari jawaban, masih juga belum kutemukan penawarnya. Aku musti gimana ya? :). Serius deh, kali ini bingung banget.  Hasilnya nafsu makan meningkat, badan tambah gemuk hehe. Kebiasaan buruk neeeh… Payah deh unisa… ^_^

Aku masih tak paham, apakah ini ujian, teguran atau adzab. Aku masih tak mampu temukan penawarnya. Bahkan setelah berikhtiar menengok ke belakang, menggali obat-obat penawar, masih juga tak kutemukan cara membasuh hati, membebat luka, menyegarkan jiwa.
Lalu apa yang harus kulakukan, wahai Rabb yang menggenggam jiwaku…

Rabu, 17 Agustus 2011

Cobaan

Allah..
bertubi-tubi ujian yang kau turunkan akhir-akhir ini sungguh terasa berat.
Tak jarang rasanya terlalu susah hadapinya..

Aku juga tak mampu definisikan, apakah ini ujian, teguran atau jangan-jangan adzab? Termasuk kategori yang manakah ini?

Jika ini ujian, kumohon jangan engkau uji lagi lebih berat daripada ini. Engkau pasti Maha Tahu seberapa kuat lengan-lenganku menahan ini. Dan bahwa terkadang mulai terasa goyah.
Jika ini teguran, sungguh akan kuperdalam lagi muhasabah-muhasabah ini. Akan kutelaah lautan-lautan dosa ini. Celah-celah maksiat yang mana yang harus aku tinggalkan dan amalan-amalan apa yang telah aku lalaikan.
Jika ini adzab, sungguh aku mohon ampun. Aku tahu bahwa hanya Engkau yang tidak akan pernah menolak permohonan maaf, permohonan ampun dan sungkuran sujud...

Selasa, 02 Agustus 2011

Musibah


Allahumma'jurna fi mushibatina wakhluf lana khairan minha...
Ya Allah pahalakan musibah kami & gantilah yang lebih baik darinya...
Ya Allah hadirkanlah ketenangan ke dalam jiwa kami, hilangkan perasaan was-was, takut dan putus asa dari hati kami....

Jumat, 22 Juli 2011

Salam Pagi

Berdiri disana, di perempatan itu.
Sepertinya marah benar pada macet yang tak kunjung pudar.
Bagiku...
Masih sama, seperti 7 tahun yang silam

Minggu, 22 Mei 2011

Muslimah Hebat Itu Telah Tiada

Sabtu kemarin, 21 May 2011, Ustadzah Yoyoh Yusroh meninggal dunia. Penyebab meninggalnya adalah kecelakaan lalu lintas sepulang dari menghadiri wisuda anak tertuanya. Sedih sekali mendengar berita tersebut. Walaupun sama sekali belum pernah bertemu beliau, namun aku sering sekali mendengar kisah-kisah keteladanan dari Daiyah berputra 13 ini. Mulai dari sifatnya yang tawadhu, sederhana, tidak suka mengeluh, kepeduliannya terhadap sesama, sampai metode pendidikannya terhadap anak-anaknya yang diantaranya telah sukses menghantarkan beberapa dari mereka menjadi Hafidz Qur'an seperti halnya beliau.

Aku malu mendengar cerita bahwa disela kesibukannya sebagai Daiyah dengan segudang amanah yang diembannya beliau masih sempat membaca minimal 3 juz Qur'an setiap harinya, beliau masih mampu menjaga hafalan Qur'an nya. Subhanallah. Jadi malu, baru punya anak 2, jangankan menambah hafalan, menjaga hafalan yang segelintir aja rasanya susah bener.

Nama beliau semakin harum setelah beliau meninggal. Begitu banyak tulisan-tulisan dan testimoni tentang jejak langkah yang telah beliau goreskan. Begitu banyak air mata haru melepas kepergian beliau. Ribuan orang yang tumpah ruah mengantar beliau ke tempat peristirahatan terakhir. Ribuan orang ingin ikut mensolatkan beliau dan sholat ghoib yang digelar di mana-mana.. Subhanallah... Betapa kualitas seseorang selama meninggal dapat dilihat dari suasana ketika beliau meninggal dunia.

Selasa, 10 Mei 2011

Remuk - hari ke-2

Kaki ini semakin teguh menopang fisik dan jiwa yang koyak.
Walau setiap langkah sungguh pahit, namun bukankah kita cuma punya 1 pilihan terhadap setiap persoalan hidup?
yaitu : Maju terus !

Malu dengan usia jika terus-terusan meratapi kepiluan dengan lagu-lagu syahdu. Buat apa?
Kenapa tak cari saja penawar luka, meskipun bekasnya akan tetap ada selamanya.
Jika kemarin setiap hentakan nafasku menjelma menjadi hunjaman seribu jarum menusuk qalbu, mungkin saat ini tinggal 750 jarum. Perihnya masih sama.

Tapi, adakah badai yang tidak berlalu? Satu-satunya pertanyaan adalah. Berapa lama aku mampu hadapi ini. Berapa lama waktu yang kubutuhkan untuk mengubah 750 jarum itu menadi 1 atau bahkan nol? Berapa lama waktu yang kubutuhkan untuk bisa melihat jejak luka itu kelak sambil tersenyum dan tidak lagi menangis? Kemudian berucap lega : "Oh Allah, sungguh luar biasa tarbiyahMu..."

Kapan? Berapa bulan? Berapa Tahun? atau, berapa puluh Tahun lagikah?

Senin, 09 Mei 2011

Remuk - Hari 1

Jika aku ini kaca, maka aku sudah  pecah berkeping-keping...
Jika aku ini daun, aku sudah koyak berderai-derai...
Jika aku ini baja, aku sudah hancur menjadi puing...
Sungguh aku telah hancur. Remuk redam. Sedu sedan.
Aku telah hancur di sisi terlemah seorang wanita...

Minggu, 24 April 2011

Dinner di Bandar Jakarta

Akhir maret kemarin (2011)  tiba-tiba Abah ngajak Bundo ke Bandar jakarta, yaitu sejenis restoran seafood di ancol (di pinggiran pantai) yang terkenal kelezatannya. karena rutenya cukup jauh dari Ciputat, Bunda sempat agak ragu karena kasihan anak-anak nanti kecapean. Maklum kita kan ga punya mobil, so harus gonta ganti kendaraam umum berkali2 yang tidak semuanya nyaman.

Eh rupanya Abah merencanakan acara ini hanya untuk berdua saja. Selain jauh, rute yang akan ditempuh juga tidak nyaman untuk anak-anak. Selain itu memang sejak punya anak belum pernah bepergian berduaan ke suatu tempat dengan tujuan cuma untuk makan dan ngobrol, jadinya Bundo dan Abah pergi ke Ancol.

Karena daerahnya jauh, kami memutuskan naik kereta api dulu. Bukan karena murahnya saja tapi karena waktu yang ditempuh akan jauuuuuh lebih hemat. Bayangkan, untuk mencapai tanah abang dengan bis/angkot bisa memakan waktu 2-3 jam, tapi dengan kereta cuma 30 menit saja. Namun dunia perkereta-api-an di waktu wik en tidak begitu ramah. Tidak ada kereta express dan sangat jaraaang ekonomi AC, bahkan KRL ekonomi biasa pun jarang.

Terpaksa deh kami naik kereta Diesel. Ternyata ga nyaman banget, bau aneka rupa, sumpek dan pedagang hilir mudik kesana kemari, nyenggol sana sini. Namun ya begitulah kondisi perkereta-apian di Jakarta. Ga bisa berharap banyak.

Akhirnya petualanganpun dimulai. Lama-lama kondisi yang ada dinikmatin aja. Untungnya jendela2 terbuka lebar so angin segar bisa menghambur masuk ke seantero ruangan. Kita turun di daerah Angke, dan kemudian bingung gimana nyambung ke Ancolnya. Dari Angke naik angkot yang brenti di daerah Asemka, dan dari sana akhirnya naik taksi ke Ancol tuk mencapai restoran.

Makanannya lumayan enak. Apalagi ikan, cumi dan seafood lainnya masih hidup ketika siap untuk dimasak. Segar lah pokoknya mah. Asyik sekali melewatkan early-dinner berdua sambil memandang suasana restoran yang rame serta melayangkan pandangan ke panorama lautan (yang menjorok ke daratan) dengan batas pandangan nun jauh ke samudra lepas. Indah sekali.

Suasana makin seru ketika Abah kemudian menyewa perahu yang memang biasa dipakai untuk keliling2 teluk, hanya untuk kami berdua saja. Bukannya mau sok romantis, emang karena pengunjung yang lain lagi pada asyik makan dan rombongan pelancong lainnya baru selesai muter2in teluk naik perahu yang lain. Harga sewa perahu ga terlalu mahal, satu perahu gede (kapasitas 15 orang) boleh disewa 50rb saja...

Namun seindah2nya bepergian berdua, tetep aja Bundo kangen anak-anak. Seribet apapun amunisi yang harus dibawa tiap kali ngajak mereka namun itu ga ada apa2nya dibanding kebahagiaan bisa menghabiskan waktu bareng anak-anak... precious banget dah pokoknya mah..

Pulangnya, kami naik taksi dari Ancol ke stasiun tanah Abang trus naik kereta ekonomi (soalnya yang Ac belum datang). Asyik juga naik kereta ekonomi, walau tanpa AC tapi ruangannya cukup lega. Cuma Rp.1500 saja, dan jauh lebih nyaman daripada kereta Diesel. banyak banget pedagang hilir mudik, dan bundo pun kalap belanja di atas kereta ekonomi hehe. Ngeborongin jepitan, peniti2, jarum2, sisir2 kecil sampe sebarek2  mainan anak2 yang murah meriah...

Nah gitu dulu deh kisahnya. 

Selasa, 29 Maret 2011

Abang 3 Tahun


Alhamdulillah, bulan Maret ini abang genap berusia 3 tahun. Ini artinya udah 3 tahun abangmenebarkan keceriaan di hari-hari Abah dan Bundo. Demikian juga dedek yang bulan ini berusia 1 tahun 5 bulan. Bundo dan Abah selalu doakan semoga keduanya jadi anak sholeh, rajin, santun dan membanggakan.

 Nak, sebagaimana nama yang Abah dan Bundo pilihkan untk engkau, teriring do'a supaya engkau menjadi anak yang sholeh, pintar dan menjadikan Hafidz Qur'an sebagai salah satu pilar kehidupan. Nama ini Bundo pilihkan jauh-jauh hari bahkan jauuuh sebelum Bundo ketemu Abah. Nama ini Bundo pilihkan suatu masa ketika Bundo pernah ditempa oleh wanita-wanita sholehah nun di negeri temasek sana untuk mencintai Qur'an, menghafal Qur'an sebanyak-banyaknya. Ketika Bundo merasakan bahwa ayat-ayat Qur'an yang Bundo hafal, bukanlah sekedar hafalan biasa. Namun seperti yang dijanjikan Allah, hafalan itu kemudian menjadi penjaga, menjadi Hafidz bagi setiap hal yang Bundo lakukan.

Dan Bundo seringkali merasakan hafalan tsb turun drastis bahkan banyak yang hilang ketika Bundo kemudian mengalami penurunan kualitas keimanan atau mendekati maksiat. Hafalan Qur'an bundo yang tidak seberapa itu kemudian seolah menjadi alert, menjadi warning ketika bundo mulai 'melenceng'. Lalu kemudian Nak, Bundo menjadi takjub dengan kekuatan Hafalan Qur'an, dengan efek yang dia timbulkan dan dengan peringatan-peringatan yang muncul secara alami. Bundo kemudian menjadi bertekad untuk menghafal sebanyak-banyaknya. Namun kemudian hal ini justru terhenti setelah Bundo semakin sibuk dan semakin sibuk dengan urusan duniawi. Sungguh banyak pembenaran. Sungguh terlalu banyak alasan dan pembenaran. Dan bahkan ketika ini ditulis, sudah lama sekali ketika ayat terakhir 'bertambah' ke dalam koleksi hafalan Bundo. Sudah terlalu lama.

Nak, itulah kenapa Bundo acapkali tertegun setiap kali bersama engkau. Namamu dan kehadiranmu mengingatkan selalu kepada cita-cita yang pernah Bundo ikrarkan dengan sangat kuat. Namun sekarang sungguh Bundo perlu usaha keras untuk kembali meneguhkan cita-cita dan semangat itu. Bundo masih bisa membayangkan sudut-sudut Singapura ketika Bundo menghafal surat-surat tertentu. Mulai dari MRT, Bis, Asrama, kantor, mushola bahkan ketika berjalan kaki. Namun Bundo tak mampu membayangkan sudut-sudut Jakarta yang mengingatkan Bundo thdp hafalan surat apapun. Karena sungguh telah lama sekali ia tidak bertambah.

Nak , dibalik segala kekurangan dan ketidaksempurnaan ini, Bundo tetap meniatkan dan berusaha keras agar hafalan-hafalan ini kembali kokoh dan kembali bertambah. Bundo juga berdo'a semoga Allah memberikan bundo usia yang penuh berkah sehingga Bundo mampu mendidikkalian menjadi pribadi-pribadi sholeh yang tidak hanya sibuk mengejar dunia namun juga sibuk membangun istana di Surga. Sungguh kalian anak-anakku, adalah amanah luar biasa yang Allah titipkan bagi kami. Yang harus kami  jaga dan didik untuk menjadi pribadi-pribadi yang menakjubkan.

Sungguh kalian anak-anakku, adalah cerminan prilaku dan akhlak kami, sehingga harus selalu kami berikan contoh teladan yang baik.

Doa Nabi Zakaria Surah Ali-Imran[3]:37-38 "... Rabbi habli dzurriyyatan thayyibah, innaka samii'ud du'aa' ..." "... Wahai Rabb ku, berilah aku dari sisi-Mu keturunan yang baik. Sesungguhnya Engkau Maha Pendengar doa ..."

 Doa Nabi Ibrahim 'alayhissalam QS.Ash Shaaffaat : 100 "Rabbi habliy minashshaalihiin" (Tuhanku anugerahkanlah kepadaku [seorang anak] yang termasuk orang2 yang shaleh)