Selasa, 16 November 2004

buat yg umurnya berkurang satu...


Mau cerita nih. Tentang salah seorang sahabat terbaikku. Yang mana hayoo?.

Sahabat terbaik yang hari ini umurnya berkurang satu *wah bu' umur kite sama donk sekarang*. Yang ngotot memanggilku dengan sebutan 'kak ren', padahal aku cuma lebih tua 2 bulan 7 hari **. Padahal aku memilih untuk merasa lebih muda.. wohoo..*. Yang lagi semangat banget ngerjain skripsi.
Yang hari ini pasti lagi belajar ttg digital signal processing dan sebangsanya di kampus sana *hayoo.. dilarang begadang*.

Tiadanya ucapan selamat dariku bukan berarti aku tidak perhatian. Karena bagiku ucapan2 seperti itu bukanlah hal yang essential, dan kamupun aku rasa paham alasannya. Sama seperti beratnya aku mengucapkan maaf lahir batin ketika iedul fitri. Karena permintaan maaf yang ditradisikan itu ternyata memang hanya 'tradisi' yang hampir-hampir tanpa esensi. Apalagi kartu2 lebaran yang lama2 dimataku cuma seperti simbol2 yang kehilangan arti. Sehingga ucapan 'maaf' yang sakral itu terasa mengalami degradasi makna. Waduh, afwan jadi kemana mana...

Tapi sehabis sholat iedul fitri di KBRI, perasaan2 emosional itu seperti sukar dibendung. Secara spontan aku mencari cari sosoknya yang kebetulan punya nama sama dengan ibuKebagusanRaya di seberang sana. Sebenarnya bukan cuma nama yang sama. Cita cita, harapan, semangat, ghirah, mu'aqobah dan keistiqomahan mereka berdua dalam mengkaji dan mencintai dienul islam ini tak jarang jadi cerminan buat aku yang masih suka abal abalan ini. Mungkin karena itu juga ikatan ikatan hati ini serasa begitu kuat menghujam di sanubari, di taman taman ukhuwah yang mewangi karena semerbaknya kuntum2 tausiyah.

Ternyata si ibu sudah berdiri dihadapanku. Menjabat erat tanganku, memelukku dan menangis. Ah lebaran tahun lalu juga begini ya. Maafkan aku... maafkan aku, begitu katanya, terisak isak. Aku terdiam, berusaha tidak terbawa perasaan. Sungguh bu', selama dua tahun menjadi teman sekamarmu rasanya aku belum pernah disakiti, dilukai, apalagi dijahatin, trus minta maaf buat apa, begitu fikirku. Bukankah hampir setiap malam kita hanya dilalui dengan diskusi diskusi panjang tentang jalan yang tidak akan berhenti kita tempuh. Atau tentang cita cita yang ingin kita rintis, demi keluarga, agama, dunia dan akhirat. Kalau semangat yang kita punya ini bisa menjelma menjadi api, mungkin setiap malam kamar kita sudah hangus terbakar.

"Mungkin ini lebaran bareng kita yang terakhir ya.." kataku. Si ibu malah semakin terguncang guncang. Akhirnya aku tidak ingin mengatakan apa apa lagi Sesak.. pahit sekali rasanya. Kacamataku berembun, jilbabpun miring miring. Abisnya meluk gak minta ijin hehe. Akhirnya ikut2an nangis deh aye. Jadi malu deh euy. Ya sudahlah, meskipun nantinya akan dipisahkan pulau, samudera, atau lautan, insyaALLAH masing2 kita tetap menapak tegak tanpa henti langkah langkah abadi ini. Memenuhi panggilan muslim sejati.

Selamat tinggal sahabatku, Ku kan pergi berjuang, Menegakkan cahaya Islam, jauh di negeri Seberang. Selamat tinggal sahabatku, Ikhlaskanlah diriku, iringkanlah doa restumu, Alloh bersama slalu. Kalaupun tak lagi jumpa, Usahlah kau berduka,Semoga tunai cita - cita. Tegakkan Islam di dalam dirimu, tebar cahanya di lingkunganmu , sambutlah seruan mujahid yang melangkah maju ,Jangan bimbang dan ragu !. Relakah kau panji al-Islam terkulai , runtuh tercabik bahkan musnah terburai. Satukanlah hati dan niatan suci,Hanya ridhlo Ilahi. Jangan tertinggal hai kawan. Raihlah cinta Ar-Rahman.

Kami sadari jalan ini kan penuh onak dan duri. Aral menghadang dan kedzaliman yang kan kami hadapi. Jalan ini jalan panjang penuh aral nan melintang. Namun jua kau lalui tuk Illahi .Walaupun rasa terdera raga berpeluh terluka

**itu liriknya izis loh :P, ditulis mana mana yang inget aja. Soalnya beliau ni suka banget sama nasyidul jihadnya izzatul islam, sampai suatu hari menghadiahiku ringtone 'banteng kebenaran' ^_^ **
InsyaALLAH aku tidak akan pernah lupa akan apa2 yang telah kita jalani bersama sama. Tentu aku akan merindukan saat2 itu. Bagaimana bisa aku melupakan bagaimana emosinya kita berdua setelah menyaksikan sekilas film ttg palestina. Bagimana mungkin aku bisa melupakan bagaimana terbakarnya kita saat menyaksikan episode saat saat terakhir sebelum syahidnya bocah bernama Muhammad Durroh di palestina sana.

Siapa lagi yang tahan berdiskusi denganku berjam jam kalau bukan antuna semua. Aku juga bakal kangen banget sama ibu penyuka bawang putih di Gim Moh road sana, yang tidak pernah protes kalau tiba2 aku pengen mendiskusikan ide ideku atau ilmu ilmu baru yang aku peroleh. Malah ngompor2in dengan bilang "trus trus.. gimana uN* atau *eh uN kamu ngutang nge-lecture in aku ttg ini*. Dan biasanya aku baru berhenti ngomong kalau udah haus atau tiba2 nyadar kalau udah nyampe di boonlay hehe. Aku juga bakal kangen banget sama si ibu "gengsian" yang tidak segan segan mengeluarkan statemen2 yang cukup kontroversial demi kemasalahatan bersama. Sungguh aku tidak yakin, apakah di tempat yang baru aku akan menemukan kenyamanan yang sama. Apakah aku masih akan menemukan getar jiwa yang sama. Kalau boleh jujur, aku tidak ingin pergi... Waduh, afwan jadi melankolis lagi.

teringat syairnya saujana....
Sedingin embunan dedaun kekeringan. Sesegar ingatan kenangan kisah silam. Kita seiringan bersatu berjuang. Meniti titian persahabatan. Kau hadir bawa cahaya. Terangi hatiku teman. Saling memerlukan dan mengharapkan. Tangis gembira disaat bahagia. Moga kan kekal menuju ke syurga . Kerana Tuhan kita itemukan Andai terpisah itu ketentuan



Minggu, 07 November 2004

and the reason is YOU...


A: nkh? cuma itu alasannya de'?
B: gak .. itu bukan alasan utama.. masih ada lagi.. tapi itu juga penting makanya kusebut duluan...
A: lalu apa de'?
B: da'wah...
A: kenapa? ada apa dengan da'wah di sana?
B: manis sekali... bla bla bla... bla bla bla... *censored*
A: lalu apa yang kamu rasakan setelahnya? bukankah itu membuatmu lebih kreatif de'?
B: iya..
A: bukankah itu membuatmu merasa lebih bisa berbuat?
B: iya...
A: bukankah itu juga mengajarkanmu ttg perjuangan?
B: iya...
A: lalu kenapa de'?
B: ga tahu... kadang ingin seperti disini... di tempat yang kondusif. Agar kefuturan yang kadang membayangi sirna sajalah segera
A: mau apa di sini? satu DPRa saja isinya 200 an. Kenapa tidak mempertahankan lezatnya perjuangan di tempat yg penuh tantangan
B: *terdiam*
A: kamu tahu syarat menjadi sholehah kan de'?
B: *terdiam*
A: musti muslihah juga...
B: saya paham...
A: lalu apa lagi de' alasannya?
B: da'wah.. selalu itu. Jawabanku tidak akan berubah. Bahkan kali ini aku tidak mampu merangkainya menjadi alasan2 yang bisa mba' terima... aku sendiri tidak mengerti.
A: terserah de', tapi pesanku cuma satu...
B: apa mba?
A: apapun yang melandasi setiap langkahmu. Jadikanlah DIA saja alasannya. Cukup DIA saja.
B: insyaALLAH mba'...
A: lalu bagaimana jika kali ini niatmu tidak dikabulkanNya?
B: tolong kuatkan keyakinan saya saja...
A: seperti apa de'?
B: Bahwa berarti menurutNya, ini bukan yang terbaik buat saya, buat agama saya, buat dunia saya, dan buat akhirat saya

//ups melamun rupanya... ternyata memori pertemuan sore sebelumnya sedang memainkan drama satu babak dialog kisi hati. Padahal ibu kebagusanRaya lagi keberatan menenteng buntelan gede bekal "ngalong" tadi malam, sambil asyiknya bercerita.
Moga2 gak ketahuan kalau mindaku sempat *berkelana* bbrp menit hehe. Berjalan menuju terminal busway bundaran BI. Belum lagi pukul 5 pagi. 

Senin, 01 November 2004

[Cluster 3]: Belahan jiwa bunda

//ini hasil migrasi blog, 7 Juli 2015. Pindahan dari unisa81.net//

Di sini --> http://unisa.f2o.org/log/maR04.html pernah kutulis tentang laki-laki itu. Pada entry singkat berjudul "Senyumnya Matahari" , tertanggal Saturday, March 13, 2004. Juga di tulisan-tulisan di tahun-tahun sebelumnya, 2003, 2002, baik pada hari-hari biasa ataupun di hari-hari penting baginya. Selalunya ada entry-entry khusus buat dia.

Beberapa minggu yang lalu berkesempatan lagi berjumpa dengan laki-laki itu. Laki-laki yang sama yang selalu menyita sel-sel kelabu di kepala. Canggung juga rasa hati mengingat pertemuan terakhir dengannya adalah 8 bulan yang silam. Maka terburu-buru menyelesaikan tugas kantor dan segera melesat ke Orchard road, satu-satunya tempat yang ia pahami begitu menginjakkan kaki di Singapura. Beberapa saat menjelang magrib kala itu, saat akhirnya sosoknya kulihat dari kejauhan duduk menunggu di salah satu bangku di depan Lucky plaza. Sedang memandangi arus manusia di depannya.

Aku muncul, melambaikan tangan. Sosoknya berdiri seketika. Ah masih sama. Tinggi besar dan gagah. Wajah coklat tembaga itu tersenyum.
Manis sekali. Garis-garis wajah ayah tergambar jelas di wajahnya. Senyumnya yang malu-malu dan canggung persis meniru ibunda. Pakaian yang rapi, wangi dan matching, jelas bukan meniru uni nya (hehehe...)

Si dia yang dulunya masih berseragam SMP ketika kutinggal ke ITB. Yang beberapa tahun kemudian menjelma menjadi pemuda gagah dengan sisi-sisi pergaulan mengikuti jamannya. Yang bangga dengan koleksi-koleksi musiknya yang hangar bingar bikin sakit telinga, juga sebuah foto asing di kamarnya dengan judul ‘calon menantu ibunda’. (Ooolaalaa.. uni-nya aja tak punya foto dengan judul begitu). Yang bangga dengan teman-teman bermotornya yang rupa-rupa warnanya dan sering memutarin kota Padang sampai pagi tiba. Duh duh adinda. Khayalanku mungkin masih jauh melambung di tsurayya, mengharapmu bergabung dengan barisan-barisan manis yang bukan malaikat namun indah cintanya pada agamanya. Duh duh adinda sudah lama aku menyerah kalah.

Si hitam manis (bukan kucing looh…) mengangsurkan bungkusan mungil. “Ada tempe goreng, kentang goreng, ikan asin dan sambal lado kesukaan uni” katanya malu-malu. Waduh waduh senangnya rasa hati. Maka makanlah kami di sebuah bangku di pinggir jalan itu. Lalu lintas kendaraan yang rapi dan tak banyak polusi menjadi hiburan tersendiri. Kelap kelip lampu kota menghiasi malam menutupi sinar rembulan. Rembulan yang cantik alami dan tak pernah iri pada lampu-lampu kota yang semu indahnya. “Magrib uni, magrib sebentar lagi, mesjid ada di mana?”, ups tidak salah dengarkah telinga ini?. “Ada, ada.. mesjid al Falah namanya, tak berapa jauh, hanya sepeminuman kopi” (dooo serasa di jaman persilatan)

Bergegas ia ketika mesjid di depan mata.
Oh oh sungguh ingin rasanya mengucek2 mata dan mencubit lengan. Benarkah pemuda gagah yang sedang berlari-lari itu pemuda yang sama yang setahuku alergi dengan mesjid dan atribut2nya. Ah biarlah, bukankah Allah sang pemilik hati. Maka terpekurlah aku menunggunya, si belahan hati ibunda, di depan mesjid. Aduh, aduh kenapa lama sekali. Apakah tersasar di dalam? Atau terkunci di kamar mandi?. Tak tahan rasa hati akhirnya melongokkan kepala mencuri-curi pandang ke barisan para Rijal. Mana dimana dirimu. Yaa Rabbi, sang pemilik hati, yang kucari sedang bersujud lama di ujung sana. Yaa bunda, benarkah itu adikku?

Aku mengamatinya menalikan sepatu. Benar. Itu masih dia. Pemuda yang sama yang dari kecil selalu menyamakan panjang tali2 sepatunya sebelum mengikatnya. Dia berdiri, menggamit buntelan yang dibawanya, akan bersiap melangkah ketika matanya tertumbuk pada jejeran buku-buku di pelataran mesjid. “Uni, aku mau buku ini”, ups tidak salah dengarkah telinga ini? Sejak kapan buku-buku fiqih menjadi wished-list nya. “Ah jangan becanda” sahutku harap-harap cemas. Dia tidak menjawab, menatapku sekilas lalu kembali asyik menekuni buku2 di hadapannya. Wajah itu ya wajah itu, walau masih sama dgn bertahun2 silam tapi sesuatu disana berbeda.

“Aku mau buku-buku seperti tadi...” katanya memecah sunyi. Duhai hati tak sanggup bertanya. “Uni punya?”. Aku mengangguk mantap, mengatupkan bibir, memilih tidak berkata-kata. Menahan tetesan bening yang mengumpul di pelupuk mata. Mengalihkan topik, berusaha menyembunyikan haru yang menelusup di ruang-ruang hati. Yaa bunda, benarkah ini adikku?

Namun butir-butir bening itu tak malu-malu menguraikan hujan ketika hari berikutnya mendapatinya dalam diam terbangun kala subuh menjemput. Mengucurkan wudhu, yang seketika itu menjelma menjadi simpony paling indah di dunia. Lalu bersujud panjang di hadapan tuhannya. Yaa bunda, benarkah itu adikku?

Jika ini adalah awal dari suatu perubahan dalam hidupmu, maka semoga istiqomah selalu. 

Sabtu, 30 Oktober 2004

ke Jakarta...

aku cuma memberi waktu diriku 5 menit 
untuk kaget...

lalu....
PACKING!!!
dalam diam..

**tapi tangannya sibuk nge SMS isti sama alni hehe..

moga2 besok dapet ticket...
lalu terbang ke Jakarta
beberapa hari lamanya

Bunda...
insyaALLAH selalu berusaha sungguh sungguh
menjalani setiap babak hidup ini

yang ini apalagi...

Sabtu Pagi

koper membisu di sudut kamar...
lengkap beserta passport, makalah dan slides2 yg dibikin dalam waktu 6 jam
haruskah terhenti di sini?

sahabat2 terbaik ikut urun rembug..
jangan pergi... kata mereka
pergi saja... kata hatiku yang nelangsa
jangan sekarang... kata mereka
ah sekarang saja... kata hatiku yang berselimut harap

bingung... sungguh!!!
padahal sang waktu terus berjalan

atau mungkin memang belum sekarang saatnya untuk pergi?
ikhtiarku.. tawakalku..
sampai kapan kah?


Selasa, 26 Oktober 2004

Lelah... sungguh!!!

Sahara ini begitu luas 
Berbulan bulan lelah menemani
Tak jua terlihat batasnya
Bekal airku sebotol tak sampai lagi
Kalau inipun habis...
Bagaimana caraku berdiri?

Lautan ini seperti tak berbatas
Hujan lebat petir tak henti henti
Bertungkus lumus peluh merajam saat tak henti mendayung
Seorang diri
Layarku kertas
Kalau inipun koyak
Bagaimana caraku terus

Kerudungku ini cuma sanggup hadapi gerimis
Dan aku tak punya payung
Payungku patah, koyak dan hilang sejak umurku 3 tahun
Sejak si bungsu dalam kandungan
Tapi, kenapa hujan tak jua reda

Kampuang jauh...
Sanak tiado...

Jika ini tarbiyahMu
hentikanlah...
Lelah...
Sungguh!!!

Apa Engkau tak lagi sayang padaku.
padahal...
segala takut... cinta... harapan , telah kutekadkan hanya untukMU
pun ketika pelabuhan pelabuhan lain tawarkan diri, tawarkan hati, tuk sandarkan penatku

aku ingin tidur panjang
biar hilang beban 

Minggu, 24 Oktober 2004

[Cerpen] Karena Engkau Adalah Melati

Dari webmis: 
Saya menemukan cerita ini sehabis ngubek ngubek koleksi cerpen islami di copy dari portal kita jaman dahulu kala. Sayangnya saya gak tahu siapa nama pengarangnya. Yang jelas ini pernah dimuat di annida 2000. Selamat membaca =). InsyaAllah bermanfaat ^_^

=============

( Catatan Harian Seorang Laki-Laki, Maaf, Bacaan Khusus Laki-Laki ! )

15 Januari 2000
Yap, akhirnya! Berhasil juga kudapatkan cinta Rika, si tomboy yang jago mendaki gunung itu setelah beberapa Minggu ini aku giat merayunya. Itupun dengan dilandasi ejekan Andi dan Yanto yang menantangku, "Ayo, Fan, taklukin tuh cewek. Ingat waktunya sebulan!"

Dengan modal dasar ditambah keahlianku merayu, Rika menerima cintaku di sini, saat kami berhasil mencapai puncak Gunung Purtri Elok I dengan waktu kurang dari satu bulan. Ini sesuai dengan target konyolku: Tahun Baru, Pacar Baru!

Kebersamaan kami dalam pendakian atau di sekretariat MAPALA membuatku tertarik pada Rika. Bayangan Ayu yang menjadi pacarku hampir tiga bulan hilang begitu saja. Wajah lembut keibuan itu terkikis oleh wajah imut dan ceria milik Rika. Malam itu sungguh mengesankan. Rekan-rekan sependakian menyanyikan kami lagu-lagu mesra dengan diiringi gitar di sekeliling api unggun sebagai tanda peresmian kami.
Tentunya sepulang dari pendakian ini Andi dan Yanto harus bersiap-siap mentraktirku makan besar.


21 Januari 2000
Aku hampir tidak dapat berdiri lagi akibat kekenyangan menyantap makanan kesukaanku di Enas Café. Ini masih jatah dari Andi. Besok Yanto yang mentraktirku. Keduanya tak henti-henti memuji keberhasilanku mendapatkan Rika.
"Tapi bagaimana dengan Ayu, Fan?"
"Gampang," kataku cuek sambil menghembuskan asap rokok. "Kampus MIPA dengan FE kan jauh. Pintar-pintar akulah membagi waktu dengan keduanya. Walau ketahuan, terserah mereka mau bagaimana. Aku bisa cari penggantinya."
"Huuu.., kamu benar-benar playboy antic dari Fakultas Ekonomi, Fan !"


31 Januari 2000
Pagi tadi secara tidak sengaja aku bertemu Ayu di kantin Pak Li. Andi, Yanto, dan Pardan buru-buru membuang muka dan menjauh. Aku tidak bisa mengelak.
"Fan, kamu mulai jarang datang," suara halus calon ibu guru itu lembut menegurku. Kulihat mukanya kusam. Aku segera pasang muka serius. "Maaf, Yu. Aku sibuk."
"Sebegitu sibukkah, Fan, sampai-sampai tak ada waktu sedikitpun buatku?"
Aku tertawa kaku. "Begitulah, Yu. Nanti ya aku datang..."
Aku memang sibuk akhir-akhir ini. Sibuk kuliah, di sekretariat MAPALA dan sibuk menemani Rika jalan-jalan, shopping atau nonton. Aku tidak bohong khan :)


10 Februari 2000
Hari-hariku kian berbunga bersama Rika. Bayangan Ayu hanya sesekali melintas dalam benakku. Semua mahasiswa Fakultas Ekonomi sudah tahu aku jadian sama Rika. Mereka tidak heran lagi jika di FE aku jalan bareng Rika, dan sewaktu-waktu mereka mendapatiku di kampus MIPA dan yang di dalam sedan civicku adalah Au. Mereka semua mengerti adatku dan memakluminya.


21 Februari 2000
Mulai hari ini aku putus dengan Ayu. Siang tadi dia sengaja menemui di area parkir FE.
"Jangan kira aku buta dengan hubunganmu sama Rika, Fan. Begini rupanya cara kerjamu dengan wanita-wanita sebelum aku. Malah aku baru tahu dari Tanti kau tinggalkan begitu saja sewaktu kau mengejar-ngejarku, Fan. Beruntung aku cepat mengetahui belangmu. Dasar ular berkepala dua..!"

Ular berkepala dua. Hmm, kukira julukan itu pantas untukku. Sejak dulu aku sudah terbiasa memelihara lebih dari satu wanita di hatiku. Aku pantas mendapatkannya. Tampang, body dan otakku di atas rata-rata, ditambah kekayaan orang tuaku sebagai salah satu pengusaha besar. Banyak lelaki yang mundur teratur bila tahu saingannya adalah aku. Ada satu dua yang menantangku duel memperebutkan cinta seorang wanita. Tentu saja aku jagonya. Tidak klop rasanya bila orang top sepertiku tidak dililiti sabuk ban hitam.


2 Maret 2000
Belum genap 2 bulan hubunganku dengan Rika, aku sudah diisukan oleh nama seorang wanita lain, Inayah Fitri. Yanto yang pertama kali menggembor-gemborkannya.

"Dia adik kelasku di jurusan Manajemen. Kebetulan aku ngambil mata kuliah yang sama dengannya. Orangnya cantik. Banyak cowok yang suka padanya. Tuh cewek cuek banget! Orangnya tertutup sekali. Tidak pernah bergabung dengan cowok. Pendiam dan sangat bersahaja. Si Erlan, anak pejabat itu sampe frustasi ngedekati dia. Emangnya cowok yang bagaimana sih yang dimauinya? Si Erlan saja ditolak, apalagi aku yang cuma begini!"

"Usaha dong, To. Usaha! Enggak semua cewek doyan sama cowok kaya. Justru ada cewek yang suka cowok sederhana seperti kamu," hibur Andi sambil senyum-senyum."

"Memangnya seperti apakah si Inayah itu? Apa dia anak orang kaya, cantik, atau sangat populer dalam organisasi sampai jadi sombong begitu pilih pilih cowok?" tanyaku.
Yanto menunduk. "Tidak, justru ia sangat sederhana dengan pakaian lebar dan berjilbab. Dia nggak ikut organisasi. Yang kutahu dia aktif di Masjid kampus ngadain pengajian-pengajian dan ceramah."

"Aduh, To, kok turun seleramu..." Aku dan Andi geleng-geleng kepala.
"Masa cewek seperti itu nggak bisa kamu dapatin, To ? Yanto memandangiku gusar, "Itulah, Fan. Kamu nggak tahu tipe cewek yang satu ini." Dan bukan aku namanya kalau tidak penasaran dan mengenal cewek itu.


3 Maret 2000
Gadis yang bernama Inayah itu sosok yang berjilbab lebar dan berpakaian rapi menutupi seluruh tubuhnya.
Penampilannya amat rapi dengan paduan warna serasi. Teman-temannya kebanyakan berpenampilan sepertinya dan tempat mangkalnya di Mushola Al-Misan. Kami yang sembunyi-sembunyi melihatnya dari taman kampus dekat Musholla sering mendapatinya berdiskusi serius di tangga Musholla. Gaya bicaranya tegas dan bersemangat. Kami menyaksikan dari kajauhan. Andi dan Yanto sibuk mengomentari gadis itu. Sedang aku yang duduk di batang akasia hanya diam membisu memandanginya. Aku tidak menampik, wajah bersih dan selalu menunduk dibalut jilbab biru muda itu sangat cantik. Dan aku.. aku..


11 Maret 2000
Adalah hal yang aneh kalau sekarang aku sering berada di Musholla untuk sholat atau duduk-duduk bengong di tangga (Aku mengerjakan sholat ini dengan terpaksa. Untung aku masih ingat gerakan dan doa yang terpatah patah yang kuyakini banyak salah dan tidak mengerti maksudnya). Sejak melihat gadis berjilbab itu, aku sudah bertekad untuk mengubernya seperti halnya Tanti, Ayu, Rika, dan mantan-mantanku dulu. Tentu saja tidak seru kalau tidak pakai taruhan. Andi dan Yanto yang jadi penantangnya. Enas Café jadi langganan si pemenang selama seminggu penuh dibayar oleh yang kalah. Yanto yang sudah jelas kalah itu sempat meremehkanku. Tapi, mantanku di semester II dulu adalah Sofia, mahasiswi teknik yang berjilbab. Toh, jilbabnya hanyalah jilbab, sepotong kain penutup kepala semacam mode. Suka pakai celana panjang dan kaos ketat. Kelakuannya sama bejatnya dengan kelakuanku di luar kampus. jadi apa istimewanya dengan jilbab?

Pertaruhan telah dimulai. Batas waktunya sebulan. Ini sudah hari kedelapan usahaku mendekati Inayah. Makanya aku dan Andi serta Yanto yang sering menemaniku di Musholla kampus. Ini salah satu tehnik dan strategiku. Beberapa suara-suara keheranan singgah di telingaku. "Udah insaf kali si Irfan, ya..?"


21 Maret 2000
Sialan! Benar-benar eror. Ini sudah hari kedelapan belas dan hasilnya nol besar. Kok, sulit sekali sih, mendekati gadis itu ? Bila kuajak bicara sendirian saja, dengan cara halus dia bisa mengelak. Segala tegur sapaku ditanggapinya apa adanya sambil menundukkan wajah. Tidak seperti gadis gadis yang kukenal selama ini. Dengan muka memerah dan suara manja mereka berlama-lama menahanku ada di dekatnya. Tapi sikap gadis yang bernama Inayah ini justru membuatku terpesona dan jadi segan mengusilinya. Aku mulai merasakan ada yang tidak beres dengan diriku.

Entah kenapa setiap kali membayangkan Inayah, aku seperti melihat setangkai bunga melati yang kudapati di atas gunung atau hutan-hutan lebat dalam pendakianku. Melati berduri yang ada diantara semak belukar sehingga tidak sembarang orang bisa memetik atau menyentuhnya. Namun begitu aroma keharumannya semerbak di sekelilingnya membuat orang merasa damai dan senang berada di dekatnya. Bila kutatap atau curi-curi pandang ke wajahnya, serasa ada setitik embun yang menempel pada mahkota melati itu jatuh mengenai hatiku yang kerontang. Sejuk.

Ups! Taruhan tetaplah taruhan. Harus kubuktikan bahwa aku adalah Petualang Cinta. Rika yang mulai mencium gelagatku tidak ambil pusing. Dia asyik dengan pendakian-pendakiannya bersama team Mapala. Aku tahu bukannya dia tidak tahu apa maksud tujuanku mendekati Musholla kampus. Mungkin kegilaannya mendaki yang kian menjadi-jadi itu adalah satu cara menutupi kekecewaannya. Beberapa hari yang lalu kulihat Ayu berboncengan dengan lelaki berpakaian necis di depan perpustakaan. Persetan dengan mereka semua. Targetku sekarang adalah: Inayah!


25 Maret 2000
Aku sungguh tidak mengerti dengan wanita yang satu ini. Aku hampir gila dibuatnya. Apa yang dimilikinya sehingga membuat aku tidak bisa memperlakukan seperti gadis-gadis lainnya? Keberadaanku tidak sebelah matapun dipandangnya. Malah kemarin aku ditegur Ali Zaki, mahasiswa jurusan akuntansi yang sering jadi imam Musholla.

"Maaf, Fan. Aku disuruh menyampaikan pesan dari para jama'ah wanita agar kamu jangan terlalu menampakkan diri di sekitar kaum wanita. Terlebih pada saudari Inayah. Dia merasa sangat terganggu."
Bah! Ingin kutonjok muka berjenggot tipis di dagunya itu. Apa urusannya dengan kami? Atau dia pingin mendapatkan Inayah? Kalau bersaing yang jantan Bung! Untung emosiku tidak sampai meledak waktu uty. Tapi yang pasti aku masih gagal mendapatkan cinta Inayah.

Cinta? Apa pula ini? Orangnya saja belum apa-apa kok sudah cintanya, Irfan Amara? Jujur saja, aku selalu memikirkan Inayah, dan kini kudapati jawaban itu dari diriku sendiri mengapa dia begitu mempesonaku. Bukan dengan kecantikannya, tetapi dari sesuatu yang dimiliki dari dalam. Sesuatu yang aku sendiri tidak tahu apa "sesuatu" itu. Atau sebut saja sebagai "keagungan wanita" yang ada padanya. Ya! Semacam keagungan wanita yang membuatku sangat hormat, segan dan tunduk padanya sebagai calon ibu dan ibu yang melahirkan putra-putrinya. Jadi apakah wanita yang pernah dekat denganku selama ini tidak memiliki "keagungan wanita" itu? Kukira mereka semua punya.Hanya saja mungkin mereka tidak menyadari atau malah tidak memperdulikan keagungan mereka itu. Mereka menganggap keagungan itu tidak sesuai dengan mode dan yang paling parah adalah dengan kodrat serta harkat martabat mereka! Jadilah mereka wanita yang segan-segan mengobral cinta, tubuh, dan harga diri. Diantara mereka adalah pacar-pacarku dulu.

Kalau begitu apa bedanya pula dengan aku yang laki-laki ini? Laki-laki yang menerima keberadaan bahkan bergaul dengan wanita yang tidak menyadari "keagungannya" itu tentulah lelaki yang sama dengan wanita itu. Ah! Bisa gila aku kalau begini? Apa yang telah terjadi denganku?


28 Maret 2000
Kali ini aku benar-benar gila. Rasa putus asa karena belum mendapatkan Inayah sementara waktunya sudah mepet, membuatku jadi berbuat nekad. Karena kenekadanku itu jadilah hari ini hati yang paling bersejarah dalam hidupku.

Sewaktu melihat Inayah keluar dari Musholla seorang diri. Andi dan Yanto yang masih memberi harapan kepadaku memberi kode agar mendekatinya. Karena kesal ditambah putus asa, tiba-tiba aku mencolek pinggul gadis itu! Kebiasaan yang sering kulakukan pada gadis-gadis lain! Bukan hanya mencolek tapi kulontarkan kata-kata yang tidak pantas untuk seorang gadis seperti Inayah.

"Alaah, sok belagak alim, lu! Pura-pura jual mahal! Padahal, lu, nggak beda ama cewek-cewek lain, malu-malu tapi mau! Emangnya lu udah merasa paling cakep di dunia maklanya menolak cowok seganteng gue! Eh, buka mata lu lebar-lebar dan lihat tampang gue baik-baik. PErempuan seperti Elu biasnaya punya nafsu besar dibanding laki-laki seperti gue. Tapi nggak pandai gunakan akal untuk..."

Plakk!!!
Rasa pedih seketika mendera pipiku. Aku ditampar! Asli! Kurasa mukaku merah waktu itu. Merah karena sakit dan merah karena malu dilihat oleh banyak mahasiswa di sekitar Musholla. Di tengah-tengah ketegangan itu terdengar suara hadis itu terbata-bata dan menunjuk mukaku dengan jari bergetar, "Kau.., kau benar. Perempuan lebih banyak nafsunya dari lelaki. Tapi dengan sedikit akal yang dimilikinya wanita bisa menjaga nafsunya sehingga menjadi terhormat. Tidak seperti kamu yang banyak akal tapi tidak bisa menjaga satu nafsumu sehingga kamu tidak lebih dari binatang yang hina!"

Blarr!!

Aku tertohok hebat. Rasanya waktu itu aku ingin hilang saja dari tempat itu menyembunyikan maluku. Masih banyak lagi lagi kata-kata yang diucapkan gadis itu sebelum akhirnya berlari kembali ke dalam Musholla sambil menangis tersedu-sedu. Beberapa laki-laki yang keluar dari dalam Musholla, sudah berniat menghajarku. Tapi secara kebetulan Ali Zaki tiba di tempat itu dan menahan mereka. Aku diminta segera pergi. Dengan rasa malu yang tiada tara aku dikawal Andi dan Yanto meninggalkan tempat itu diiringi tatapan marah beberapa gadis-gadis berjilbab yang menyaksikan peristiwa itu. Aku betul-betul gila jadinya. Baru kusadari begitu rendahnya perbuatanku pada wanita yang selama ini diam-diam aku agungkan dan yang kukagumi. Aku munafik!


2 April 2000
Aku tidak mempedulikan Andi dan Yanto yang asyik menyantap makanan di Enas Café. Aku juga tak peduli berapa rupiah yang telah kukeluarkan untuk mentraktir mereka seminggu penuh. Ya, aku kalah dalam taruhan ini, kurang satu hari dari jatah satu bulan.

Entahlah, akhir-akhir ini aku jadi murung. Sejak peristiwa dengan Inayah beberapa waktu yang lalu membuatku jadi tidak bersemangat. Jiwaku terasa kosong dan dipenuhi rasa bersalah. Sejak peristiwa itu pula aku tidak pernah menjumpai Inayah untuk meminta maaf. Tapi aku sudah menjumpai Ali Zaki untuk menyampaikan maafku. Cowok alim itu menyanggupinya dan tidak menunjukkan rasa sedikitpun rasa marah atas peristiwa itu. Aku betul betul berterimakasih padanya.

Tiba-tiba saja aku mendapati diriku begitu bodoh dan hina. Kadang-kadang aku diliputi rasa ketakutan yang amat sangat, lebih-lebih bila teringat ucapan Inayah padaku, "Ingat, Bung! Semua kita akan mengalami mati. Bila jadi mayat tubuh kita akan sama bentuknya. Jadi tengkorak! Kalau sudah begitu siapa yang akan tertartik memuji tampangmu itu?"

Oh, Allah! Begitu mengerikan. Mengapa baru kali ini aku teringat akan sebuah nama yang bernama kematian? (Rasanya baru kali ini aku menuliskan nama Allah dalam lembaran buku harianku yang tebal ini. Ampuni hamba, Ya Allah!).

Saat Andi dan Yanto sibuk dengan makanannya, aku hanya tertunduk lesu memandangi suasana di luar Café. Tiba-tiba mataku menatap sosok Ali Zaki yang bertemu temannya dengan penampilan yang sama, berkemeja panjang dan berjenggot tipis. Keduanya bersalaman dan berbincang serius. Ketika dua gadis bercelana dan berkaos ketat lewat di depan mereka, keduanya serentak menundukkan wajah dan menyingkir hormat memberi jalan. Hatiku jadi nelangsa. Begitu hormatnya mereka memperlakukan wanita. Tidak sepertiku yang begitu mudah mencolek dan menggoda wanita. Eh, aku merasa melihat sesuatu yang membuatku merasa hormat dan kagum pada Ali Zaki dan temannya itu. Sesuatu yang agung, seperti yang ada pada diri Inayah! Jadi lelaki juga punya sesuatu yang agung itu? Yang membuat laki-laki terlihat berwibawa dan terhormat di mata wanita. Tidak sepertiku yang tidak lebih dari binatang yang hina seperti kata Inayah tempo hari. Jadi selama ini kemana perginya "keagungan laki-lakiku" itu? Oh, ya.. dia kuhempaskan dibalik ketampanan wajahku, keatletisan bodyku, kepintaran otakku, dan kekayaan orang tuaku! Duh, Allah.. Bagaimana sebenarnya hambaMu ini?


4 April 2000
Malam ini aku betul-betul menyerah. Sebuah penyerahan batin yang pertama kali kualami. Penyerahan total dari ketidakberdayaan melawan ketentuan dari yang di atas sana. Penyerahan yang kudapati dari seorang wanita yang bernama Inayah. Aku kalah bukan karena gagal menaklukanmu atau gagal mendapatkan cintamu. Tapi aku kalah oleh pribadimu dan keagungan wanitamu. Aku kini bagai debu kecil yang hina di bawah tapak sucimu, karena engkau bunga melati putih yang kudapati dalam pendakian dalam pendakian batinku yang maha berat.

Karena itu saksikanlah, kuruntuhkan keperkasaanku sebagai petualang cinta, Si Penakluk Cinta dan sebagai lelaki sempurna dalam segala hal tetapi tanpa ruhiyah yang bermakna. Adakah pintu buatku untuk menggapai kembali keagungan itu setelah dua puluh tahun terlindah di bawah kebejatanku? APakah aku bisa memulainya melalui Ali Zaki dan teman temannya di Musholla kampus? Biar kubuang jauh-jauh rasa malu dan gengsiku untuk mulai berubah. Aku sudah punya prinsip sesosok lelaki tanpa iman dari pada nanti diledek atau ditertawakan teman-temanku. Kemudian saksikanlah mulai malam ini kututup lembaran harian patung cinta ini. Tidak ada lagi deretan nama gadis-gadis dalam hatiku. Lalu aku tahu ini adalah sesuatu yang mustahil kukira. Tapi salahkah jika aku berharap suatu saat nanti aku bisa memetik melati putih itu dengan tangan keimananku dan dengan hati yang mulai malam ini kubersihkan dengan nama Allah? Kalau tak mampu kuraih, cukuplah saja harum melati itu menyebar mengenai tubuhku hingga akupun menjadi harum oleh keimanku. Adzan shubuh berkumandang, saat ini akupun tak mau lagi ketinggalan...
(Annida, Juli 2000)

Jumat, 22 Oktober 2004

Waktu, bagian dari proses pengobatan

note: Waktu, bagian dari proses pengobatan; adalah judul salah satu daftar isi buku "Sentuhan hati penyeru dakwah" karya Abbas As-sisi, baru dibeli sore tadi :)

Matahari Singapura di awal ramadhan sebenarnya sama saja seperti bulan bulan lainnya, cuma entah kenapa pagi ini terasa begitu hangat.Kehangatan yang menenangkan. Tujuan akhir hari ini adalah mesjid Al Falah (mesjid favorit ^_^), tapi aku memilih turun di Orchard MRT ketimbang Somerset karena tujuan2 tertentu.

Orchard road penuh kenangan waktu bunda ke sini. Masih ingat raut senang, kaget sekaligus bingung di wajahnya setiap kali kukenalkan jengkal jengkal Singapura. Kenangan dan rasa rindu itu jugalah yang membawaku pagi ini kembali ke jalan ini.
Ini kali keempat ramadhan dimana sebulan penuhnya kuhabiskan tanpa menemani beliau. Tuntutan dunia!! tentu saja selalu begitu alasannya. Di tahun pertama perkuliahan, aku masih sempat pulang dan menghabiskan seluruh sahur bersama beliau tercinta. Tapi setelah itu, entah bagaimana perasaannya melewatkan sahur sendirian di rumah mungil itu. Si bungsu masih mengikuti adat minang tempo doeloe, yaitu mulai 'lalok di surau' semenjak akil baligh. Dan sekarang malah merantau beneran ke seberang pulau. Tunggu saja, kan kubawa ibu menyusuri hasil rajutanmu selama ini. Entah kapan. Secepatnya. InsyaAllah. Amin ya Rabb.

Siapa bilang rindu tak bisa diberi nama. Bisa kok. Tapi siap siap saja kehabisan kata karenanya.

Apa karena saat ini kabut perjalanan hidup terasa begitu menggigilkan?. Apa karena penantian terhadap jalan takdir berikutnya terasa begitu mencekam?. Apa karena setiap detik nafas dipenuhi harap akan kemurahan Ar Rahman?. Apa karena dibayangi kecemasan jika sampai lupa bersyukur?. Di sini. Menunggu saat itu. Saat benar2 mampu menggenggam tangannya dan membawanya kemanapun langkah memilih arah.Tapi sepertinya waktu masih menempatkan posisinya sebagai musuh. Dan kuharap waktu itu jualah yang kelak menjadi proses pengobatan. Untuk setiap perih yang pernah lewat.

Lamunanku terputus. Ternyata sudah di ujung jalan. Al Falah Mosque. Begitu bunyi papan penunjuk di seberang sana. Sudah sampai ternyata. Seperti oase di tengah2 hiruk pikuk kota. Perbedaan yang kontras suasana di dalam dan di luar mesjid akan membuatmu kadang enggan pulang. Tak peduli pagi, siang ataupun malam, jalanan ini tak pernah sepi. Kucoba saja nikmati hangatnya mentari pagi menjelang siang. Hangat yang menenangkan setelah 'coba' disusupi penuh penuh dengan sabar, sabar dan sabar. Apakah beliau tercinta merasakan hangat yang sama?. Ketenangan yang sama?. Entah kapan bisa kudengar jawabannya.

//Singapura awal ramadhan, saat Al Falah memasuki pertengahan surat Ali Imran


Kamis, 21 Oktober 2004

Istafty Qalbak

Untuk yang selalu menerima kabar kabar terbaru dari aku. 

Malam ini bibirku bergetar, dan ada luapan luapan emosi yang ingin termuntahkan. Kediamanku menyuarakan banyak hal. Aku sadar, ini bukan masalah ketidaksamaan saja. Tapi juga masalah bagaimana kita menempatkan satu kata yang bernama toleransi.
Namun aku tidak akan pernah menyesali proses panjang yang telah aku lewati. Aku belajar banyak hal. Sungguh!. Sekarang aku sadar sepenuhnya, dimana sebetulnya tempat aku merasa paling nyaman. Yaitu di tengah tengah kalian. Antuna semua.

Aku tidak pernah bisa berhenti menoleh. Ya tentu saja. Karena perapianku di rumah lama tidak pernah padam. Dan tak ada yang bisa menandingi kehangatan di sana. Sejauh apapun aku meninggalkannya. Karena ada dikau2 tercinta yang selalu menjaganya. Hari ini juga. Aku memutuskan untuk tidak lagi sekedar menoleh. Tapi berlari sekencang2nya. Kembali bergandengan tangan. Walau proses pembelajaranku tidak akan pernah berhenti. Tapi setidaknya sekarang semakin sadar apa yang seharusnya aku pilih. Sekarang aku sadar sepenuhnya, dimana sebetulnya tempat aku merasa paling nyaman. Yaitu di tengah tengah kalian. 

Sabtu, 16 Oktober 2004

Mar'ah Sholihah???

ah dia cuma manusia biasa 
wanita akhir jaman
yang berusaha menjunjung tinggi kehormatan
dan harga dirinya
dan tetap teguh dengan martabatnya

ah dia cuma manusia biasa
wanita akhir jaman
yang mencoba bertahan sekuat tenaga di pulau kecil
demi sebuah idealisme
yang bernama pengakuan
dan pengabdian terhadap keluarga

ah dia cuma wanita biasa
yang kadang2 perfeksionis tidak pada tempatnya
paling tidak suka tempat tidur yang berantakan
itu salah satunya
apalagi hal2 yang lebih besar dari itu...
bisa mencak mencak gak karuan

menjadi sholehah
ternyata baru sebatas cita2 yang terucap di bibirnya
belum banyak usaha..

teringat satu paragraf dari karyanya izzatul jannah
yaitu;
menjadi perempuan adalah karunia sekaligus perenungan
Sebab warna dunianya lebih bergradasi dibanding dunia laki laki
Konflik konflik dalam menjalani peran kodratinya lebih variatif dan unik.

Dan bagaimanapun, hitam putihnya dunia perempuan tidak terlepas dari peran lingkungannya, jika ia istri ia tidak terlepas dari pengaruh suaminya, jika ia gadis ia akan terpengaruh lingkungannya, jika ia perempuan pekerja ia akan terpengaruh lingkungan kerjanya. Sebab itu, menuju cita cita "Mar'ah Sholihah" (perempuan yang shalih) bukanlah hal yang mudah. Ia memerlukan perjuangan yang maha berat dan pengorbanan yang tidak sedikit

//jelang ramadhan, Singapura, saat mencoba menikmati sebuah 'lelah' 

Senin, 11 Oktober 2004

Gamis ijo lumut

Singapura, kampus NTU 11 siang

"Lagi ngapain un?"
Satu suara yg akrab mengusik kesibukanku mengetik surat lamaran kerja untuk yg kesekianpuluh kalinya.
Suatu kesibukan yg lama2 menjadi kenikmatan tersendiri. Saat tingkat 'harap' semakin menjadi2. Saat rasa 'takut' jika tiba2 menjadi lupa bersyukur, semakin membesar. Dan saat rasa 'cinta' ingin selalu terpelihara di sini, dalam hati ini, dalam setiap hembusan nafas. Takut... cinta.. harapan... tentu saja hanya padaNya. Pada siapa lagi =)

Aku menoleh. Tersenyum. Mbak 'uni junior' ikut2an memandang layar monitor. Ups..adek yg satu ini memang beda. Dengan pedenya menyebut dirinya uni junior. Padahal jelas2 kita gak ada mirip2nya. Yaah.. kalau sama2 manis sih.. ngg.. hehehe... gak tahu yak *bledug..* ups kok serasa ada yg nimpuk aku yak :P
"Biasa... lamar lamaran" sahutku kalem *tapi bo'ong, sejak kapan coba jadi kalem :P*
"abis ini mau kemana?"
"pengen ke bugis sih kayanya. Mau cari rok. Masa ilang di jemuran empat euy. Nah sekarang kan jadi bingung. Tinggal coklat, coklat lagi dan ijo. Hiks, yang item2 ilang semua"
"yuk.. sekalian aku juga pengen ke paya lebar"

Mesjid sultan, Arab street bbrp saat menjelang ashar

"Makan dulu yuuk, di depan mesjid sultan ada warung padang kesukaanku".
Eitts.. jangan heran ya, dimana bumi dipijak, disitu nasi padang dicari. Akhirnya mampirlah kita ke sana. Abis itu muter2 di arab street, dan ga ketemu juga itu si hitam manis yg dicari2. Kalaupun ketemu pasti harganya selangit. Yah maklumlah, arab street kan salah satu tujuan wisata di Singapore, penganguran kayanya dilarang nyoba2 belanja di sana hehe. Tapi gpp deh, hawa2 ramadhan mulai terasa di sini. Tenda2 buka puasa udah disiapin. Juga stall2 yg bakal penuh banget sama makanan2 yg menggoda. Ah jadi rindu ramadhan di Singapura.

Paya lebar, setelah ashar

Pencarian di bugis yang gagal tidak menyurutkan tekad. Paya lebar menjadi tarhet operasi berikutnya =). Kalau berada di sini, serasa di malaysia. Muslimah2 berjilbab terlihat di mana2. Jalan2 di sini juga penuh kenangan.
Teringat masa2 belajar bahasa arab di muslim convert association bareng deedee and sti, 3 semester yg lampau. Rasanya nikmaaat banget, walau harus pulang malam. Kala itu kita bertiga masih belum begitu paham bahwa akhwat tidak seharusnya pulang selarut itu. Bahkan untuk menuntut ilmu sekalipun. Yang ngingetin jelas ada, tapi kala itu kenikmatan mendapat ilmu rasanya mengalahkan segala nasehat2 yg sangat berharga. Serunya berdiskusi sepanjang perjalanan paya lebar- boon lay rupanya membuat kita terlupa. Kenangan yg mempunyai tempat tersendiri. Bagiku. Bagi kami. Mungkin.

"uNi, aku ingin beli jubah baru. Nanti uni pilihin ya..."
"boleh!!!"
Hampir dua jam muter2 di tj katong plaza. Nyari gamis euy, siapa yg gak semangat =). Akhirnya pilihan jatuh ke gamis ijo lumut yang oke punya. Manis. Sayangnya kepanjangan. Hampir sejengkal di bawah mata kaki. Tapi adek yg satu ini ttp ngotot.
Bisa dijahit katanya. Senangnya... aku ketemu si hitam manis, dan mbak ini ketemu jubah yang dia mau. Perjalanan kali ini sukses ;-). Alhamdulillah.

Senja merangkak di Geylang serai, lampu2 jalan mulai dinyalakan, dan ornamen2 penyambutan ramadhan yang menghiasi jalan2 semakin jelas terlihat. Marhaban yaa Ramadhan... dan ucapan2 senada terlihat begitu indah di sela2 keramian. Menghadirkan rona2 kerinduan yang... entah. Tiba2 Iedul Fitri tergambar jelas di ruang mata. Mungkinkah ini ramadhan terakhir di Singapura. Ah entahlah, saat ikhtiarku sudah sepenuh2nya, akan kuisi seluruh nafas ini dengan tawakal seluruh penuh. Kemanapun takdir akan membawaku nantinya, semoga keimanan, syukur dan sabar selalu menancap erat di dalam jiwa. Ya Rabb, sungguh aku berserah diri...

"uNi suka gak sama jubah baruku?"
"suka... bagus kok =)"

Ba'da zuhur, kampus NTU, di acara tarhib ramadhan, keesokan harinya.

"uN, ada titipan nih...."
Roommatenya si mbak yg kemaren menemani jalan2 menghampiri dan mengangsurkan satu bungkusan besar. Manis sekali. Berwarna krem dengan pita pink di sudutnya. Oow.. ada apa gerangan?. Ulang tahunku sudah lewat 36 hari yang lalu. Gak sabar nih, buka sekarang aja deh. Dan aku terdiam beberapa saat. Gamis ijo lumut dengan jilbab senada, terbungkus rapi dengan kertas lembut berwarna pink. Satu kertas terselip, ada sebentuk tulisan di sana. Pantesan kemaren ngotot banget minta aku ngepasin gamis ini juga. Ada misi2 terselubung rupanya, hehe.

"Istiqomah dan tetap teguh..." begitu salah satu kalimat di dalamnya.
Tiba tiba, aku merasa dicintai...