Tampilkan postingan dengan label mystory. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label mystory. Tampilkan semua postingan

Selasa, 24 Mei 2016

Laskar (emak-emak) van Holland

*tulisan ini ditulis buat memeriahkan "Laskar van Holland" by PPI Belanda

“Ibu, tanganmu yang mengepal adalah kepak sayap burung-burung. Yang membawa benih dan menebarkannya di belantara matahari”

Kalimat di atas adalah kalimat pembuka buku “La Tahzan for working mothers” (2008), yang merupakan kumpulan tulisan dari ibu-ibu muda yang memilih untuk berkarya di luar rumah. Working mom, istilah kekinian masa itu. Saya turut menulis di sana. Menceritakan salah 1 episode menarik dalam hidup, yaitu ketika harus dinas jauh beberapa waktu meninggalkan bayi kecil. Saat-saat ketika seorang working mom dihadapkan pada konsekuensi logis atas sebuah pilihan hidup yang dibuat dengan penuh kesadaran. Tanggung jawab professional sebagai pegawai yang disiplin. Tanggung jawab keilmuan sebagai seorang penjelajah oase ilmu pengetahuan. Dan tanggung jawab sebagai seorang ibu kesayangan. Semuanya berkejar-kejaran seiring berlarinya sang waktu. Setiap kita punya kisah yang unik, bukan? Kebetulan kisah seru saya di antaranya adalah menyiapkan ASIP di perjalanan, termasuk di pesawat dan di sudut ruang-ruang rapat nun jauh di belahan bumi yang lain.

Siapa sangka 6 tahun kemudian saya kembali dihadapkan pada situasi yang mirip, walau dengan tingkat kerumitan yang jauh lebih melilit. Dua koper besar yang sudah dipenuhi dengan peralatan tempur 2 bocah yang hendak ikut berpetualang membuka wawasan di negeri yang asing, mendadak hanya bisa teronggok membisu. Seiring sebuah peristiwa fenomenal yang membuat suami saya tidak bisa ikut ke Negeri yang Oren. Setiap kita punya kisah yang unik, bukan? Kebetulan kisah unik saya di antaranya adalah berusaha membesarkan hati saat mengantarkan kedua cahaya mata ke ranah minang.

Maka kemudian saat rindu melanda, saat sibuk menghitung ratusan hari menuju perjumpaan berikutnya, saya sampaikan gumam mesra melalui angin.

Bergembiralah Nak, terus bergembira. Semoga kaki, tangan dan badanmu semakin kuat.
Pun hati dan jiwamu.
Cerialah Nak, terus ceria. Semoga do'a-do’a kami sanggup membuka pintu-pintu langit, memohonkan penjagaaan kepada Yang Maha Menjaga.
Tersenyumlah Nak, terus tersenyum. Mulai belajarlah riang menapaki mushola-mushola ranah minang, mengikuti pemuda-pemuda Surau kampung halaman. Sebuah kemewahan yang jarang ada di kota-kota besar. Salam rindu emak.

Staying abroad mom

Jadi mana bagian dari tulisan ini yang menyangkut tema Laskar Van Holland?  Pada dasarnya ini adalah tulisan mengenai Laskar pencari ilmu di segmen tertentu, yang mungkin jarang dibahas karena dianggap tabu (mungkin). Yaitu para ibu yang kebetulan dihadapkan pada kondisi harus berpisah dengan sang buah hati. Sebutlah studying abroad mom. Tidak hanya di Belanda. Saya mungkin termasuk yang bawel dan lebay, karena setiap saat sibuk sekali membuat puisi dan prosa menceritakan kerinduan kepada anak-anak. Namun saya yakin ada banyak sekali kaum ibu yang bahkan tidak kuasa menuliskan kerinduan itu. Ada banyak sekali para ibu yang bahkan harus setiap saat menyibukkan diri di kampus menepis rindu. Ada banyak sekali para ibu penuntut ilmu yang diam-diam menangis di kesendiriannya setiap mengingat kesayangan. Ada banyak sekali para ibu-ibu penuntut ilmu itu yang tertegun kelu setiap mengunyah makanan lezat sambil berfikir “andai bisa kubagi ini dengan anakku”.

Tulisan ini saya persembahkan khusus buat ibu-ibu ini. Tapi tolong. Tolong jangan tanya mereka mengapa tega meninggalkan Ananda jauh di mata. Percayalah, setiap orang punya kisah yang unik. Sungguh, ada banyak kisah. Dunia tidaklah putih dan hitam saja dengan garis batas yang tegas antara keduanya. Ada banyak warna. Cukup kaum-kaum tertentu yang sibuk berpolemik working mom vs staying at home mom. Cukup kaum-kaum tertentu yang meragukan dan mempertanyakan kesohihan naluri keibuan jutaan wanita yang meninggalkan anaknya > 8 jam sehari. Tulisan ini juga tak hendak membela diri. Tidak, tidak perlu. “Jangan menjelaskan tentang dirimu kepada siapapun. Karena yang menyukaimu tidak butuh itu, dan yang membencimu tidak percaya itu” (Ali bin Abi Thalib).

Satu tahun saya ditakdirkan untuk berpisah dengan anak-anak. TarbiyahNya untuk kami luar biasa. Kaki dan tangan mereka yang biasa lemah karena jarang berinteraksi dengan alam, dalam setahun menjadi jauh lebih kuat karena sehari-hari bermain-main di belukar mengejar belalang, jalan kaki jauh ke sekolah, bahkan buat mereka nyemplung dan nyungsep di sawah itu keren abis. Mereka yang awalnya hanya mengerti hewan ternak dari buku-buku, jadi paham sekali segala jenis hewan ternak, bahkan gembira bermain dengan cacing dan ulat.  Akan halnya saya, tentunya harus mengisi hari dengan kegiatan belajar. Tak dapat saya pungkiri bahwa saya senang sekali kembali ke nuansa akademis. Berenang-renang di lautan ilmu pengetahuan yang rasanya seperti tak bertepi. Di balik beratnya perkuliahan, senantiasa merasa takjub setiap menemukan fenomena keilmuan yang baru. Sungguh, bagi penuntut ilmu rasanya pertanyaan-pertanyaan di kepala itu tak ada habisnya. Dan jawaban akan setiap misteri akademis seolah berisi lapisan-lapisan yang selalu menunggu untuk dipahami.

Dibanding mahasiswa lain, saya termasuk yang paling tua. Atau mungkin memang yang paling tua. Rata-rata beda usia dengan teman sekelas mencapai 7 – 11 tahun. Tertekan gak? Wah sempat banget. Takut banget otak yang tua dan lelah ini bakal tertinggal habis-habisan bersaing dengan usia-usia muda yang imut dan cemerlang. Namun kemudian saya teringat tempaan budaya kiasu selama 5,5 tahun kuliah dan kerja di Singapura. Sekuat tenaga saya panggil kembali ruh kiasu yang mestinya bersemayam di sebuah persembunyian di aliran darah ;-). Dan untuk melecut diri, saya berusaha mengingat bahwa saya punya tanggung jawab besar terhadap instansi yang menyekolahkan saya ke Belanda. Setiap orang punya kisah yang unik bukan? Kebetulan kisah saya adalah sebuah tekad untuk menyandingkan hasrat menjadi mahasiswa yang cemerlang, dengan tetap memegang impian menjadi ibu tersayang.

Academic culture

4 tahun kuliah di Singapura dan hampir 2 tahun kuliah di Belanda, mau gak mau alam bawah sadar melakukan perbandingan. Perbedaan yang paling terasa adalah student culture. Aura kiasu sangat kental di Singapura. Suasana mulai mencekam 1 bulan menjelang ujian. Iya, 1 bulan. 30 hari. Saat di mana segala sudut perpustakaan penuh, tutorial room fully booked, segala bench dipenuhi manusia, kantin-kantin tumpah ruah dari sore sampai pagi, bahkan bawa bantal segala. Wajah-wajah ngantuk hilir mudik di kampus. Kampus seolah 24 jam hidup. Mesin-mesin kopi berisik. Asrama mahasiswa heboh, di dapur, di selasar, di taman. Tampang-tampang jutek lelah belajar menggurita. Membuat jantung kadang tertekan, merasa diri  onggokan kuah rendang yang lupa ditaburi rengginang. Rengginangnya bahkan gak ada!

Sebaliknya, mahasiswa di Belanda itu ramah banget, dan tidak terasa aura persaingan yang mencekam. Setiap orang sharing bahan-bahan ujian, summary, atau alat bantu belajar lainnya. Persaingan kita adalah bertempur melawan kemalasan diri dengan alasan segala ke-unyu-an cuaca. Terhadap nilai-pun mereka cenderung ‘santai’. Mungkin saya salah, tapi persepsi yang saya tangkap adalah mereka sangat menikmati hidup dan jarang sekali membicarakan stress-nya kuliah. Mereka kadang bingung menghadapi kita (saya?) yang kadang tak puas dengan nilai ujian dan sibuk membahas ‘mestinya saya bisa lebih baik’. Pernah ada yang nyeletuk ‘bukannya yang penting kamu sudah lulus ya, abis itu liburan, have fun-lah’. Mungkin di dalam hati mereka “stress amat sih emak-emak satu ini”…. pantes gemuk. ~_~

Saya pernah kerja kelompok dengan 4 orang students selama 2 minggu. Dan selama 2 minggu itu pula mereka ber-4 gantian liburan ke luar negeri. Hal yang gak akan bisa dijumpai kalau sekelompok kerja dengan Sporean. Can not lah. Namun demikian, mereka rata-rata sangat bertanggung jawab. Selama liburan bergilir itu senantiasa hadir online meeting untuk rapat harian. Dan rapat dilaksanakan dengan serius dan efektif. Selesai rapat ya mereka liburan lagi, sementara fikiran kiasu saya rasanya susah diajak se-asyik itu. Setelah nilai keluar, kalau bagus ya mereka senang.  Kalau hasilnya kurang bagus juga cuma pundung sejenak, lalu abis itu ketawa-ketawa lagi. Terus, tahu-tahu pasang status facebook udah berjemur di benua mana. Beda banget dengan saya yang kalau nilai ujian gak sesuai harapan bisa karokean lagu minang sendirian non-stop 2 hari 2 malam mengobati sedih. Di sana lah saya kemudian berkesimpulan bahwa mereka menganut prinsip play hard party hard. Di sisi yang ini saya takjub.

Falsafah kuah rendang

Tentang dosen juga menarik. Dosen-dosen di NTU-Singapura akan nyaris selalu ada kapanpun kita perlukan. Kalau ada pelajaran yang gak ngerti? Tinggal email atau datangi aja ruangannya. Jarang sekali ada kejadian susah nyari dosen. Makanya tak jarang di saat-saat tertentu kita berbondong-bondong antri di ruang dosen untuk minta penjelasan tentang pelajaran. Ditambah pula dengan budaya ‘tak mau kalah’, nunggu giliran bertanya sambil menyimak yang ditanyakan teman ;-).

Di sisi lain, dosen Belanda punya jadwal yang sangat sangat disiplin. Kalau gak email dulu, jangan GR bisa ketemu kapan saja. Jangan kaget juga di saat-saat tertentu mereka ada agenda liburan yang gak bisa kita ganggu gugat. Maka bagi mahasiswa thesis seperti saya, masa-masa yang sangat menegangkan  adalah ketika mencari jadwal kick off meeting, green light meeting (rapat yang menentukan kelulusan), dan jadwal sidang akhir. Susah! Sebab perlu menyatukan jadwal 3 dosen yang mazhab liburanya beragam. O iya, tambahan lagi, dosen Belanda cenderung ketat soal nilai, maka siap-siapin mental aja ya, saat sudah GR membayangkan 3 kg rendang, namun yang diterima hanyalah kuah-kuah gulai nangka di ujung nasi putih rumah makan Padang. Namun dampaknya adalah kitapun jadi berusaha keras menjadi pribadi yang disiplin dan berusaha mencapai target, agar segala kesempatan yang ketat itu bisa membuahkan hasil maksimal. Ingat, rendang yang enak itu adalah yang warnanya menghitam legam karena lama bertempur di dalam kuali menghadapi bara api. Itu falsafahnya!

Jadi kesimpulannya? Memang gak untuk disimpulkan. Hanya deskriptif. Masing-masing punya daya pikat yang khas. Yang jelas saya bersyukur pernah mengalami keduanya, dan masing-masing academic culture punya kontribusi signifikan dalam menempa ketangguhan jati diri kita. Tinggal kita mau memilih untuk ditempa atau tidak? Sebenarnya mau kuliah di manapun akan kembali lagi ke tekad individu. Ya, gak sih?

Belajar sejarah di PPI Leiden

Kenapa memilih Belanda? Salah 1 alasannya adalah saya penasaran seperti apa sebuah negeri yang begitu lama mendiami nusantara. Apa sih yang membuat bangsa yang relatif kecil secara geografis mampu begitu lama mendiami negeri lain yang jauh lebih besar, bahkan mendirikan kekuasaan segala. Maka gembira sekali rasanya ketika ada kesempatan mengikuti acara keren by PPI Leiden. HistoRun.
Oleh-oleh acara ini gak sekedar keindahan kota serta sejarah berdirinya universitas Leiden. Atau "semata" deskripsi napak tilas tentang tautan sejarah Indonesia di kota yang cantik itu. Leiden. Tidak “sekedar” mengetahui lokasi-lokasi yang menjadi sejarah perjuangan bapak-bapak bangsa. Acara itu berhasil menjadi trigger untuk memaknasi kembali catatan-catatan historis bangsa dan meninjau kembali tujuan perjalanan kita. Kita jadi memaksa diri untuk menyelami  konsep memori kolektif sebuah bangsa dan imbasnya terhadap sikap mental masa kini. Kita juga jadi merenungkan kembali bagaimana sebaiknya menempatkan diri kita terhadap semua sejarah panjang masa lalu. Juga pada pemikiran bahwa leverage sebuah bangsa akan terjadi ketika ada orang-orang yang tidak hanya memikirkan diri sendiri, tapi memikirkan diri sebagai suatu kesatuan bangsa, suatu peradaban, yang mempengaruhi konsep berfikir secara kolektif. Menanggalkan sejenak identitas mikro.
Sampai juga pada sebuah pertanyaan menarik "Sepulang dari sini, apa sih yang mau kamu sumbangkan kepada tanah air? Selain ijazah dan foto-foto cantik?"
Maka kemudian saya mendapati diri saya sering sekali menceritakan tentang Histo-run kepada 2 bocah kecil di rumah. Sampai-sampai dalam imajinasi saya, belasan tahun ke depan ketika hendak masuk universitas, anak-anak mengatakan ingin kuliah ke Belanda, lalu ketika ditanya alasannya mereka akan jawab “ingin ikut Histo-run PPI Leiden”. Persis emaknya puluhan tahun sebelumnya ketika ditanya kenapa ingin kuliah S1 di ITB, jawabnya “ingin ikut Unit Kesenian Minangkabau, ITB”. Somehow, saya percaya bahwa tujuan ‘sampingan’ yang menyenangkan, akan menambah semangat belajar. Ini sungguh cara special saya mengungkapkan pujian kepada acara tahunannya PPI Leiden yang bagi saya sangat berkesan.

Epilog

Sebelum tulisan ini menjelma menjadi novel saking panjangnya, maka saya tutup dengan persembahan kembali untuk staying abroad mom. Semangatlah bunda, teruslah semangat. Semoga segala perih perpisahan itu kelak akan menjadi kisah yang manis ketika kita menengok ke belakang saat semuanya lewat. Sepemahaman saya, tak ada ibu yang berbesar hati berpisah jauh dengan anak-anaknya. Tak ada. Namun tak semuanya perlu dijelaskan, sebab kita bukanlah seporsi kapsalon pasca ujian, yang pasti disambut perut-perut lelah dengan suka cita. Lagian tetap lebih enak lontong sayur… *eh*. InsyaAllah semua penantian perjumpaan dengan buah hati akan membuahkan hasil yang manis.
Saya kemudian teringat perjumpaan kembali dengan anak-anak setelah ratusan hari tak bertemu. Kalimat pertama mereka "kenapa kok Bunda nangis?"Gak bisa jawab. Bisu beberapa menit. Jumpa lagi setelah ratusan hari gak ketemu, malah kehabisan kata-kata. Manusia memang aneh. Kemudian saat mereka terlelap malam harinya, saya tuliskan buat mereka ungkapan hati.
“Dalam sekejap, duniaku yang sunyi kembali hingar bingar. Tiba-tiba ada remah-remah biskuit di karpet, tumpahan yoghurt di bawah meja, papan tulis penuh gambar, alat tulis di 8 penjuru angin, wajah cemong-cemong yang cengar cengir, posisi benda-benda berubah-ubah, ada jeritan-jeritan, kejar-kejaran. Heboh. Mendadak ada banyak pembagian peran. Gak lagi sekedar masak bareng, atau gotong royong bersihin rumah. Di dalam dunia khayal mereka, diriku menjelma menjadi dinosaurus, monster lumpur yg gemuk, penyihir besar atau pohon raksasa (entah kenapa perannya harus big size semua ~_~)”
Menjadi ibu. Bukan lagi ibu jarak jauh. Tapi ibu yang bisa memegang tangan anaknya.
.. yang berkesempatan mendengarkan cerita2 dan gelak tawa mereka, tanpa masalah gangguan sinyal.
.. yang berkesempatan memastikan mereka menjemput malam dalam keadaan tersenyum dan bahagia.
Percayalah, staying abroad mom, saat itu akan tiba. 
Deft, 3 May 2016


Minggu, 08 Mei 2016

Berhenti memaksa diri

Ada kalanya mungkin, kita harus berhenti berusaha
Apalagi kalau usaha-usaha itu sebenarnya dipaksakan
Dan membuat hati lelah

Terkadang mungkin memang ada hal-hal yang harus kita lepaskan
Di mata lingkungan mungkin kita menjadi tampak buruk
Tapi bukankah hidup ini kita yang menjalani,
dan pertanggungjawabannya kelak juga akan nafsi-nafsi?

Masalahnya adalah...
Secara teknis, lepas melepaskan itu susah
Walau secara emosional jauh lebih mudah

Sekarang aku yang bertanya-tanya
Kapan semua ini usai?


Prague, 8 May 2016
*sambil mengerjakan thesis bab 6

Minggu, 21 Februari 2016

Pengalaman sakit di Belanda

-- Crocus --

Pukul 1 malam waktu Belanda. Suara angin menderu-deru memilukan. Pastinya di luar sangatlah dingin menggigit. Kurang paham juga dengan kondisi cuaca saat ini. Tadinya sempat mengira musim dingin telah sampai di penghujungnya, saat mulai menjumpai rumput-rumput sendu yang telah ditumbuhi bunga-bunga cantik berwarna kuning di sepanjang Voorhof, Delft. Kurang paham itu bunga apa namanya. Cantik sekali, seolah memberi warna lain pada hamparan karpet hijau yang telah bosan monoton berbulan-bulan sendirian. Seorang kawan pernah memberi tahu bahwa salah satu pertanda munculnya musim semi adalah kehadiran bunga Crocus, si ungu cantik. Tahun lalu saya dan beberapa kawan sempat memperhatikan kawanan Crocus yang tumbuh di rerumputan di depan fakultas kami. Tumbuh malu malu dengan latar belakang telaga beku yang mulai mencair. Akan tetapi jika memang musim dingin telah berakhir kenapa beberapa hari lalu turun hujan salju walau hanya beberapa menit? Entahlah.

Jam 1 malam waktu Belanda. Suara angin menderu-deru memilukan. Pastinya di luar sangatlah dingin menggigit. Tapi suara bel berbunyi. Bergegaslah kubuka pintu, dan munculah sosok itu. Gadis cantik berdarah Palembang Minangkabau, namun belasan bulan silam saat pertama jumpa kupikir blasteran timur tengah. Beberapa menit sebelumnya saya memang menanyakan nomor telpon Rumah Sakit di sebuah group mahasiswa Indonesia. Ada rencana membawa H1 ke rumah sakit saat itu juga. Lalu tanpa dapat dicegah, datanglah dia. Katanya sekedar memastikan semuanya baik-baik saja, sambil menyodorkan setumpuk parasetamol dan vitamin. Terharu. Sangat. Speechless juga.

Kebetulan anak-anak memang udah 6 hari panas tinggi, flu, dan batuk yang lumayan berat sehingga kehilangan nafsu makan. Di hari ke-4 udah dibawa ke Huisart, general practitioner. Menurut dokter saat ini memang lagi ada virus flu yang cukup berat, dan gejala panas demamnya bisa 5 hari. Jika hari ke-5 tiada membaik, disarankan dibawa lagi ke dokter. Anak-anak gak dikasih obat apapun, cuma disuruh istirahat, pastikan banyak minum cairan, dan makan parasetamol jika diperlukan untuk membantu tidur nyenyak. Sebelum ke Belanda saya memang sudah baca beberapa referensi bahwa di sini dokter sangat hati-hati memberikan obat. Lumayan kontras dengan beberapa pengalaman di Jakarta, yaitu tiap anak sakit saya biasanya bawa pulang minimal 5 jenis obat per-anak. Tapi tentunya masing-masing Mazhab punya pertimbangan sendiri ya. Mungkin kondisi geografis, budaya, pola hidup, dll mempengaruhi gaya pemberian obat-obatan oleh dokter. Mungkin. Hipotesis aja. Gak ada ilmu tentang itu. Dan kebetulan juga saya termasuk generasi emak-emak rempong kekinian yang berharap anak-anak gak minum terlalu banyak obat. Jadi ya udah aja, pulang tanpa obat.


Saya banyak diskusi jarak jauh juga dengan Abahnya teko-teko. Beliau yang koleris maksimal kemudian mengirimkan sederet artikel tentang kenapa negara-negara maju cenderung terkesan lebih pilih-pilih memberikan obat

Tapi di hari ke-6 si kakak masih begitu2 saja. Adiknya membaik Alhamdulillah. Akhirnya tadi ke rumah sakit lagi deh, dan kembali diyakinkan bahwa mereka gak mengalai infeksi apapun pada mulut, telinga, hidung, tenggorokan. Paru-paru bersih. Semua ini hanya flu biasa yang memang menunggu waktu untuk sembuh. Tidak perlu obat apapun, kata sang Dokter. Tapi saya memberanikan diri minta ijin ngasih obat batuk ke H1. Dan disetujui dokter, walau gak dia resepkan. Tinggal beli di apotek RS katanya. Dia bilang kalau dalam 10 hari (sejak hari pertama) ga sembuh juga, disarankan balik lagi ke Huisart. Menurut dia wajar aja demam akibat virus mengakibatkan suhu tubuh tidak stabil.

Jadilah malam ini abang minum obat batuk. Parasetamol dihentikan dulu.
Semoga cepat sembuh yaaa, abang dan dedek..

-- ke dokter lagi--

Pukul 5 sore waktu Belanda. Angin kencang masih menderu di seantero Delft nan elok. Saya dan H1 berjalan bergegas-gegas, ingin secepatnya sampai di area tertutup. Angin kencang menderu di sepanjang jalan. Terutama di lorong-lorong yang diapit gedung-gedung tinggi. Kami berdua sempat GR mau terbang saat diterpa angin yang cukup kencang. Untungnya sebagian besar perjalanan ditempuh dengan bis, sehingga waktu interaksi dengan angin dan udara dingin lumayan minimal. Dulu sekali pernah ada yang bercerita bahwa angin kencang di Belanda terkadang mampu menerbangkan sebuah sepeda. Awalnya gak bisa membayangkan, tapi setelah mengalami sendiri lama-lama kebayang juga. Dahsyat memang angin di negeri kincir ini.

Sesampainya di rumah kami disambut H2 yang tertidur pulas dan tentunya seorang kawan yang menemani H2 selama saya dan H1 di Rumah Sakit. Terimakasih banget yaa, ucapku berulang-ulang. Sang gadis yang dikenal sebagai salah seorang ahli masak terbaik di angkatan kami itu menceritakan kisah bersama H2.  Sempat kutanya, apakah H2 gak rewel. "Manalah rewel mbak, asyik aja dia main, trus patuh aja disuruh bobok siang", jawab si putri blasteran Sumatera-Solo itu sambil tersenyum-senyum. Hebat juga pikirku, biasanya butuh waktu 1-2 jam untuk nyuruh H2 bobo siang.

Sore menjelang malam waktu Belanda. Angin kencang masih menderu di seantero Delft nan elok. Sang kawan pamitan pulang, menyongsong angin kencang bersama sepeda kesayangan, kembali ke tempat tidur yang hangat. Setelah mengikhlaskan sekian jam waktunya yang berharga untuk menemani H2.

Itulah sekelumit kisah hari ini dengan 2 kawan di perantauan. Tadinya ingin disimpan aja perasaan terharu dan rasa terima kasih di dalam hati, namun gak sabar juga ditulis di sini ~_~.  Semoga pertolongan yang telah diberikan ini, kelak akan menghasilkan limpahan barokah dan kebaikan dari arah yang tak disangka-sangka.

Pernah baca di suatu ketika bahwa khalifah ‘Umar bin Khaththab pernah berkata, yang kurang lebih isinya, jika ingin mengenal karakter saudaramu, bepergianlah, menginaplah, dan berniagalah bersamanya.  Dua kawan yang rasanya cukup kukenal, sebab pernah melakukan perjalanan jauh dengan yang satu, dan pernah nginap beberapa malam bersama yang satunya.

Kudoakan juga deh semoga mendapatkan jodoh yang sholeh. Amin...


Rabu, 17 Februari 2016

Mie ayam van Holland

Mie ayam van Holland
(Chicken Noodle dari Belanda)

Pagi ini anak-anak dapet rejeki hantaran mie ayam dari one of the best chef van Delft. Kakak Fitri Yustina. Mereka yang udah 2 hari ogah2an banget makan karena panas tinggi, mulai menunjukkan minat pada makanan. Tadi malam H1 sempat makan lahap juga sih, minta makanannya kakakAdiska Fardani yang sempat berkunjung. So far, hasil-hasil karya Bundo Reni Unisa di dapur masih dicuekin dengan sentosa ~_~. Introspeksi diri lah mak wink emoticon. Siang ini H2 juga mau makan sedikit setelah dinasehatin kakak Lusi Martalia donk. Alhamdulillah walau suara masih serak di sana sini, abang dan adik udah jauh lebih ceria. Beda banget dengan hari kemaren, layu seperti benang basah.

Kembali ke mie ayam, tentunya bundo juga jadi ikut mencicipi. Pada suapan pertama, bundo langsung freeze. Enaaaaak. Ingatan langsung melayang ke warung2 mie ayam terbaik di jabodetabek. Kakak fitri sempat ceritain sih resep rahasianya, namun belum mampulah otak ini mencerna ðŸ˜†.

Buka PO donk sis wink emoticon

Terimakasih ya kakak2, semoga kebaikan hatinya dibalas dengan nikmat dan barokah yang berlipat ganda. Semoga kita semua diberi kelancaran menghadapi sisa perkuliahan ini. Amin.

Selasa, 16 Februari 2016

Pangkuan Bunda

Saya pernah nonton film "Opera Jawa" karya Garin Nugroho bersama teman-teman di sebuah acara di dalam kantor. 100% pake boso jowo. Gak ngerti pol. Tapi karena saya suka sekali dengan konsep filmnya yg teatrikal. Ya enjoy aja. Apalagi saat itu lagi suka banget mendengar logat-logat jawa yang terasa unyu di telinga wink emoti
Satu adegan yang paling menarik dan membekas di ingatan sampai sekarang adalah ketika Artika Sari Devi, pemeran utama, yang sedang sedih, memeluk dirinya sedemikian rupa, seperti pose bayi di dalam perut ibu. Menurutnya, itu adalah pose alami yg membuat diri nyaman. Menurutnya (atau menurut narator ya?) secara naluri manusia akan melakukan pose itu saat diri bersedih atau membutuhkan kenyamanan lebih.

Nah, siang ini Hanif yg demam dan abis muntah-muntah semalaman tiba-tiba minta bobok di perut bunda. Katanya pengen jadi bayi lagi. Hafidz juga demam sih, tapi anaknya nyante aja, ga sempat drama tongue emoticon
Cuma ikut2an bobok juga aja. Tumben2an demam berjamaah.

Mendadak teringatlah saya dengan adegan di film itu. Melayang juga ingatan ke sebuah kalimat di komik Astro Boy era 90-an, di episode berjudul Topeng hitam. Di akhir adegan, topeng hitam mencari ibunya dan minta maaf di pangkuannya. Adegan kemudian ditutup dengan kalimat oleh Ozamu Tezuka "tempat paling nyaman di dunia adalah pangkuan ibu"

Cepat sembuh yaaa, Nak. Semoga di setiap drama kehidupan kalian kelak selalu lah kejadian hari ini mengingatkan bahwa selalu ada Bunda tempat bercerita.

Segala drama tesis minggir dulu lah...

Sabtu, 13 Februari 2016

Hulk-nya Bunda

Hanya ditinggal 2 jam "main berdua" sementara bundo bersemedi di kamar bikin tugas, mereka menyulap pewarna makanan menjadi cat lukis untuk mewarnai....... lantai kayu. 
Pantesan terdengar sangat akur dan penuh canda tawa ~_~. Akhirnya disuruh gotong royong ngepel lantai berdua sampai bersih. 
Sekarang lagi sibuk bersihin telapak kaki, karena jadi berwarna HIJAU. Ya eyalah, pewarna klepon.
"Bunda! Kami jadi Hulk!"
*imajinasi masa kecil memang indah ya, Nak kiki emoticon

Jumat, 22 Januari 2016

Sepotong Siang di Delft


Seorang bapak berpeci dan bergamis menyeberangi jalan dengan tenang, tampaknya habis sholat Jum'at. Tak jauh darinya, seorang kakek sendirian menyusuri trotoar dengan kursi roda modern. Tampak pula rombongan pemuda lewat menuntun hewan kesayangan mereka, hewan yang terkenal paling setia, yang rupa-rupa macamnya. Diriku lagi menggigil di halte bis. Biasanya walau sepeda rusak, jalan kaki ke kampus yang hanya berjarak 2 km dari rumah, asyik aja. Tapi dingin betul hari ini. Tulang-tulang paruh baya di dalam raga yang biasa bermewah-mewahan matahari khatulistiwa berontak meronta-ronta gak mau jalan kaki.
Jauh di ujung sana, kanal-kanal kota Delft membisu menghayati cuaca yang beku walau tanpa salju. Satu dua pengemudi sepeda terkadang melintas bersicepat segera mencari hangat. Nun di dalam gedung-gedung kampus TU, para mahasiswa juga berlomba-lomba dengan waktu. Mencari ilmu, berusaha memenangkan perjalanan, berpacu dengan waktu, menerabas rintangan, dan menaklukan diri sendiri. Pertarungan yang serius. Permainan yang sungguh-sungguh. Seperti kata Fahd Gibran, 'tidak ada satupun permainan yang bisa dimenangkan dengan main-main, bukan?'
Kembali ke halte bis. Seru juga 'ngobrol' dengan seorang nenek Belanda yang sibuk mengagumi dompet rajutku, si produk rajut asli Indonesia. Sang nenek sibuk membahas banyak hal walau nyaris gak satupun yang aku paham, kecuali beberapa patah kata. Jadi terpaksalah cengar cengir aja. Mungkin nenek ini nyaman ngobrol dengan yang disangka seusia dengannya (he..he..he). Eh jangan salah, dulu pernah di angkot kota Depok, saat jalan-jalan berdua nak Hafidz, seorang nenek ramah menyapa "ini cucu pertama ya?". Mau pingsan rasanya. Padahal kala itu usia belum lagi kepala 3 ðŸ˜‚😂😂.
Tak terasa 5 menit berlalu cepat. Bis kami datang. Saatnya melambaikan tangan ke nenek ramah yang masih berbinar-binar menatap dompet unyuku. Bangga sekali tadi memperlihatkan tulisan 'made in Indonesia' di dalamnya.
Bis yang senantiasa tepat waktu ini kemudian menyusuri jalan-jalan sunyi. Sapaan ramah pengemudi bis terhadap penumpang, juga lambaian tangan dan seruan-seruan terima kasih dari penumpang saat supir mengalami pergantian shift di tengah-tengah perjalanan adalah hal lumrah. Hangat dan menyenangkan.
Mungkin suatu saat, perlu waktu agak lama untuk bisa move on dari suasana syahdu kota ini. Kota Delft.
//H-5 menjelang exam

Selasa, 12 Januari 2016

Suntikan Semangat dari Pembimbing Proposal



Baru saja menghadiri pertemuan dengan pembimbing buat proposal thesis.
Dia tanya "Why did you  radically change your topic?". Saya jelaskanlah alasan saya kenapa mendadak ganti topik tesis, di saat-saat injury time deadline buat submit proposal. Alasan teknis, dan non teknis. Trus dia bilang lagi "did you do the proposal yourself? and how long?". Saya  jelaskan lagi bahwa saya hanya ada waktu mengerjakannya 4 hari,  sebab baru ada lampu hijau dari seorang kawan setelah konsultasi ama professornya (boleh sebut nama gak di sini? hehe). Sambil saya minta maaf juga karena terlalu mendadak melakukan perubahan, dan mohon maaf jika banyak kekurangan. Maklumlah, proposal yang udah digarap 1 bulan mendadak harus digantikan oleh yang baru mulai ditulis kamis malam. 4 hari 4 malam. Sampai demam kemaren malam, hehe...

Lalu beliau melanjutkan. "Kamu tahu gak kenapa saya menanyakan ini sejak email semalam?". Saya bilang, saya gak tahu pak, mungkin karena terburu-buru jadi banyak kekurangan. Trus dia jawab "because, I think your proposal is outstanding, and I suspect that it is belong to someone else, not you".

WUTT. Sempat bengong dulu sebentar. Antara senang karena dipuji, dan sedih karena dicurigai. Terus saya jelaskan bahwa ini beneran saya yang nulis sendiri, from scratch. Saya sampai memperlihatkan backup2 dokumen di google drive. Karena setiap progress pasti di back up minimal 2x sehari. Jadi terlihat segala history perubahan dokumen, dll. Saya tambahkan, karena ini tahapnya proposal, tentunya banyak sekali literature dari jurnal-jurnal lain. Pastinya. Tapi proposal ini beneran milik saya. Terus dia tertawa terpingkal-pingkal. Kenceng banget.  "the grammar is outstanding, and the proposal has been written in a very good logical order. Very scientific". Serius deh, ampe gemeteran dengerinnya. Dia menambahkan bahwa menurut dia ini dah hampir selesai, kalaupun ada input hanya minor. Jika terbukti original, dia akan memberi nilai yang sangat bagus. Dst dst.... berkuah-kuah lah itu pujian.

Speechless banget. Dan saya gak tahu apa kisah ini pantas disharing di sini. Tapi beneran gak nyangka pujiannya bakal berkuah-kuah begitu. Dan gak mengharapkan segitunya juga. Sebab selama 4 hari ini saya begitu kuatir bahwa yang saya kerjakan gak berarti, karena dikerjakan terburu-buru. Dan selama 4 hari ini saya sibuk berprasangka buruk terhadap hasil yang akan diterima. Sempat marah juga pada diri sendiri, kenapa kok jadi orang plin plan banget. Malah sempat berfikir ga akan lulus mata kuliah ini. Kasian sama anak-anak karena selama 4 hari ini selalu dikasih lampu merah
"Nak, main berdua dulu ya hari ini bunda sibuk banget"
"Nak, bunda mau sendirian dulu 3 jam, jangan masuk kamar bunda ya"
"Nak, bunda gak masak, kita pesen delivery aja ya"
"Nak, bunda ga masak sayur, ga sempat"
"Nak, sabtu minggu ini kita di rumah aja ya"
dll.

Pada akhirnya bapak pembimbing tetap memberi beberapa saran perbaikan. Pastinya. Sebab bagaimanapun pasti banyak hal-hal yang kita belum tahu tentang penulisan ilmiah. Tapi saya sibuk grogi, gemeteran, ke GR an, dll. Maklum, orangnya grogian dan GR an, walau dah emak-emak... hehe

Lama sekali kita diskusi. Saya jelaskan gimana proses penulisannya. Hal-hal yang masih gak saya pahami baik dari buku maupun dari literatur. Kebingungan-kebingungan saya. Sempat bilang juga bahwa setahu saya bahasa Inggris saya gak bagus, karena saya lulusan S1 di Singapore, yang mana selama di sana  bukannya belajar bahasa Inggris yang baik dan benar, saya malah Singlish abieeez. Speaking berantakan, nulis apalagi. Kalau bicara lebih kayak uncle-uncle di pasar malam di Boon Lay, atau makcik makcik yang jualan jilbab di Pasir Ris. Makanya suka ga PD kalau disuruh presentasi, apalagi nulis. Saya bilang juga score terjelek saya kalau test IELTS adalah writing. Pokoknya segala borok2 dikeluarin lah.

Saya juga bilang, nanti kita lihat aja di TurninIt, aplikasi buat cek originality sebuah karya tulis, tentang originalitas tulisan ini. Saya bahkan minta di test saat itu juga. Soalnya ga enak banget dicurigain.....

Tapi bapak ini baik banget. Dia bilang soal originalitas nanti bisa kita cek,dan itu adalah proses yang akan dilalui semua murid, tapi yang mau dia tekankan adalah bahwa dia suka sekali dengan apa yang telah saya tulis. Saat diskusi selesai, dia menutup dengan kalimat berikut "We need to have a good contact, and I am sure that you will have a very good career in your life"

Kalimat penutup yang bagi dia mungkin biasa aja, tapi tanpa dia sadari telah menajamkan tekad seorang emak-emak paruh baya untuk berusaha lebih keras lagi dalam hidup. Untuk berusaha meningkatkan prasangka positif terhadap diri sendiri, terhadap usaha yang sudah dilakukan, dan terhadap jalan hidup yang telah dipilih dan digariskan oleh Allah. Telah membuat seorang emak emak yang tadinya sempat putus asa, lelah, kehilangan kepercayaan diri, dan sibuk menyalahkan diri sendiri atas banyak hal, kembali ingin bangkit berdiri, berjalan.... berlari.

Selasa, 22 Desember 2015

Selamat jalan, Amak kami tercinta

“Terkadang kesedihan memerlukan kesendirian, meskipun seringkali kesendirian mengundang kesedihan tak tertahankan.”

-Tere Liye

Innalillahi wa inna ilayhi roji'un. Di hari Ibu, salah satu ibu paling tangguh yang pernah kami kenal telah berpulang. Amak (Ibu dari Ibu saya). Be strong dear keluarga besar...

Sabtu, 12 Desember 2015

Seorang Amak

Seorang Amak tidak hanya ahli membuat bumbu sate, atau menanam padi, atau menyulap pakaian dari kain bekas (tanpa mesin jahit!), menjadi baju kebanggaan di masa kanak2 sehingga membuat diri serasa princess!
Tapi kami juga percaya bahwa koleksi lautan do'a, kesabaran dan kasih sayangnya mampu menggetarkan langit... supaya kami senantiasa diberi kemudahan menjalani enigma kehidupan, senantiasa diberikan bahu yang kokoh dan tekad membaja menghadapi rintangan, senantiasa maju terus pantang mundur, walau rasanya tak kan pernah mampu menandingi sepersepuluh saja kesabaran beliau.
Keteladanan Amak mengajarkan kepada kami konsep "rejeki tidak akan tertukar", saat di kondisi ekonomi seperti apapun, rumah kami selalu punya penghuni tambahan, bujang2 rantau atau saudara jauh yang datang dan pergi, menyibak gelanggang mencari peruntungan, bertahun-tahun menjadi anak Amak. Anak Amak menjadi sangat banyak. Sehingga memori masa kecil yang kental adalah : seputaran gerobak sate kebanggan itu senantiasa ramai saat tutup warung, dan kamipun bisa tidur nyenyak setiap malam karena rumah dijaga oleh banyak bujang-bujang.
Bagi saya pribadi, dalam setiap kejadian galau dalam hidup, salah 1 hal pertama yang saya lakukan adalah : menelpon ke Padang, meminta do'a khusus di dalam fragmen tahajud Amak nanti malam. Selalu. Sebab sependek pamahamanku, tiada lewat 1 malampun tanpa gemericik wudhu Amak untuk bermunajat. Bahkan dalam keadaan makin susah berjalan. Bagi Amak, tahajud itu wajib bagi dirinya.
Semoga cepat sembuh wahai Amak yang jauh di mato. Semoga bagi Amak, ringan saja rasanya segala penyakit itu...
Hafidz dan Hanif langsung minta dipulangkan ke Padang begitu tahu Amak sakit. Belanda jadi gak menarik lagi, kata mereka. Pengen pulang

Rabu, 11 November 2015

Teko's in de Holland [Adegan 16] Parent's Meeting Day di sebuah SD di Belanda

I have just attended parent's meeting at the primary school this morning. In Dutch . Fortunatelly, one of the teacher decided to sit next to me and being a translator. Kalau gak ada guru baik itu, puyeng banget dah. Cuma ngerti beberapa butir vocab, itupun karena diajarin anak2 di rumah.

Pertemuan diadakan untuk membahas bagaimana sekolah melakukan monitoring terhadap perkembangan murid. Sebelumnya pernah juga ketemu guru kelas abang dan dedek, namun sifatnya lebih private. Face to face. Yang ini sifatnya lebih umum, berupa forum. Diawali dengan minum teh bersama, makan kue-kue kecil yang disediakan sekolah, serta ramah tamah dalam beragam bahasa. Bagian ramah tamah diriku cuma cengar cengir tentunya, sebab bahasa utama yg digunakan adalah bahasa belanda (oleh guru), dan sejenis bahasa arab (karena banyak wali murid dari Turki dan Maroko.. kayaknya sih).

O iya, lagi-lagi 1 hal yang selalu menarik perhatian saya terkait SD di sini. Mereka gak punya staf! Sebutlah sekretaris, tata usaha, you name it lah, apapun. Cuma ada 1 kepala sekolah dan para guru. Itu aja. Jadi mulai dari mengoperasikan komputer, nyiapin teh dan cemilan buat orang tua murid, melayani ortu yang mau ingin daftar program buah-buahan mingguan, menjawab telpon, semua dilakukan oleh kepalas seklolah dan guru. Efisien banget. Cerita tentang ini ada di tulisan awal saya saat survey SD-SD di sekitar Delft.

Kembali ke acara rapat, kebanyakan muatan penilaian dan monitoring yang dibahas adalah attitude dan kedisiplinan. Jadi, penilaian secara umum terbagi atas 3 tema : attitude, language, dan pelajaran sekolah.

Lumayan lama membahas tentang attitude. Sebab di dalamnya terdapat prilaku terhadap guru, prilaku terhadap orang lain (kerjasama, pergaulan, inisiatif, cara mengatasi konflik, dll), prilaku saat belajar (stamina, konsentrasi, kecepatan gerak, kemandirian) dan prilaku terkait rasa tanggung jawab (bagaimana menjaga barang-barang di sekolah, bagaimana sikap dalam menyelesaikan tugas), dll. Masih banyak lagi mestinya, sebab pembahasan bagian ini sangat lama. Cuma ini aja yang berhasil dicatat. Tentunya setelah diterjemahin dulu oleh ibu guru baik hati yang duduk di sebelah saya.

Di bagian language, dibahas mendetail tentang aspek listening, speaking, writing, writing stories dan reading. Fokus pembahasan bukan kepada aspek akademis semata tetapi lebih banyak penekanan pada ranah psikologis. Misalnya tentang cara meng-encourage anak untuk mengoptimalkan kemampuan berbahasa, tentang kreativitas yang harus dimiliki orang tua dalam memantau kemampuan berbahasa anak-anak, tentang motivasi untuk menggunakan bahasa yang baik dan benar, tentang keberanian mengemukakan pendapat, tentang sikap yang baik dalam berbahasa, dan masih banyak lagi. Saya pernah dapat penjelasan bahwa metode pendidikan di sini adalah 50% dari sekolah dan 50% dari orang tua. Jadi, orang tua juga dituntut untuk aktif melakukan pendampingan.

Dijelaskan juga, para guru sangat menyadari bahwa aspek bahasa ini tidak mudah untuk anak-anak, apalagi yang sehari-hari memakai 2, 3 bahasa atau lebih. Karena itu kadang mereka menyediakan pendampingan khusus untuk anak-anak yang perlu waktu tambahan belajar bahasa Belanda (seperti halnya abang dan dedek yang dapat pelajaran tambahan tiap hari Kamis). Saking senangnya belajar bahasa, di hari Kamis mereka senantiasa bangun sangat pagi dan berharap semoga cuaca bagus, sehingga tak ada kemungkinan untuk bolos sekolah.

Aspek ilmu pengetahuan tentu juga penting, walau terasa sekali di dalam setiap pembahasannya kembali ditekankan masalah prilaku, bahasa dan kedisiplinan. Dibahas tentang metode pengajaran matematika di sekolah, bagaimana menerapkan belajar matematika sambil bermain, tentang pentingnya memahami peta dunia untuk membuka cakrawala, tentang mengenal diri pribadi, keluarga dan lingkungan. Terus terang nyaris ga ada pembahasan tentang sisi akademis yg canggih2 (fisika, kimia, biologi, kalkulus, apalagi ekonometric...hehe). Tapi saya percaya sekali sekolah juga ngajarin science, sebab setiap pulang sekolah mereka pasti cerita (ceritanya rebutan tentunya, secara bundo kesayangan cuma 1 hehe). Mulai dari cara membuat kertas, daur ulang makanan, organ tubuh, dll. Hanya saja di pertemuan orang tua murid ini nampaknya para guru lebih menekankan pada pentingnya aspek prilaku, kedisiplinan dan kemampuan berbahasa.

Sekolah memantau perkembangan akademis anak secara individual. Jika ada anak yang dicurigai cukup tertinggal secara akademis, maka sekolah akan mendatangkan psikolog untuk melakukan investigasi bertahap agar dapat menggali apa penyebab ketertinggalan itu. Apakah ada masalah pribadi, masalah emosional, masalah dengan teman, atau mungkin ada masalah di rumah. Sebab mencari akar masalah sangat penting untuk mendapatkan treatment yang sesuai.

Akan diadakan ujian akademis secara rutin, baik yang sifatnya nasional maupun yang sifatnya internal sekolah. Jadwal ujian internal di sekolah biasanya tidak diumumkan, karena guru-guru tidak ingin membuat siswa stress dan takut menghadapi yang namanya "hari ujian". Ujian dan test dari sekolah dapat dilakukan kapan saja tanpa ada pemberitahuan. Dengan demikian siswa dapat menikmati nuansa bermain dan belajar tanpa tekanan.

Tentunya dibahas juga tentang aspek motorik (motorik halus dan motorik kasar), yang ditunjang dengan kegiatan olahraga 3x seminggu. Seperti kisah sebelumnya, diriku pernah dipanggil wali murid karena abang dan dedek dianggap masih perlu peningkatan motorik halus dan kasar. Terutama motorik halus sih yang dirasa kurang banget. Sehingga guru kemudian meminjamkan secara rutin alat-alat bantu yang diharapkan dapat men-stimulate perkembangan gerak mereka. Agar lebih gesit, lebih tangkas dan lebih sehat tentunya.

Itu aja yang keinget, ntar kalau hadir di lintasan fikiran, akan ditambah lagi. Semoga abang dan dedek senantiasa mendapat ilmu baru selama 1 tahun mereka bersekolah di sini, dengan segala keterbatasan yang mereka miliki dibanding teman2 lainnya (terutama kendala bahasa). Cemunguuud!!!

Minggu, 23 Agustus 2015

Ini tidak mudah tapi akan kita lewati, Nak

Jauh sebelum mereka datang ke Belanda, aku tahu dan sadar banget bahwa hari ini akan datang. Tepatnya malam ini. Malam menyiapkan keperluan sekolah mereka besok hari. Hari pertama mereka sekolah di Belanda. Dengan bahasa Belanda!

Ketika mereka mendarat di Schipol lebih dari 1.5 bulan yang lalu, kepercayaan diriku begitu tinggi. Ah, masih ada 1.5 bulan, fikirku saat itu. Masih cukup waktu untuk ngajarin mereka tentang toilet ala Belanda. Masih cukup waktu untuk belajar dasar-dasar bahasa Belanda bersama (aku buta banget soal ini). Masih cukup waktu belajar memasak, akan aku pelajari banyak resep masakan yang enak. Masih cukup waktu kami untuk saling mengenal lagi setelah 1 tahun gak berinteraksi intensif. Masih cukup waktu untuk kami memahami bahwa kita ber-3 memang harus saling membantu untuk menghadapi 1 tahun ke depan. Bahkan aku cukup percaya diri aku akan ada waktu untuk nyicil belajar pelajaran tahun ke-2 kuliah, karena yakin banget bakal sering bolos kuliah (terutama kuliah sore). Atau kalau bisa malah mulai mikirin thesis. Terlalu pede!

Namun aku salah.
Bergulirnya sang waktu ternyata jauh lebih cepat dari rencana-rencana kita di atas kertas.

Berpisah selama 1 tahun adalah waktu yang tidak singkat. Apalagi mereka di usia-usia pertumbuhan. Aku memang tak mampu mengembalikan waktu. Dan tak ada yang akan mampu aku lakukan untuk menebus kehilangan 1 tahun kebersamaan itu. Hanya berbekal tekad untuk menghadapi segala rintangan bersama, dan bermodal keyakinan bahwa abang dan adik adalah anak-anak yang baik.


Toilet issue
Toilet things bagi Abang sama sekali gak masalah. Entah kenapa, Abang membuat dirinya begitu mandiri gak lama setelah adik lahir. Di usia 3 tahun kurang udah gak ngompol. Di usia menjelang 4 tahun udah minta bobok sendiri dengan lampu dimatiin. Abang gak banyak ngomong, anaknya indirect. Bahkan jika ada yang dia inginkan, akan dia sampaikan secara tidak langsung. Misal, abang akan memilih ngomong "sepertinya donat itu enak, gimana ya cara bikinnya", daripada "aku ingin makan donat". Lalu matanya akan berbinar-binar bahagia saat aku sambung "hmm, kayaknya enak deh, bunda mau makan donat, abang mau?"

Sebaliknya, bagi adik toilet issue ini adalah hal yang berat. Sodara yang mengasuh adik dari kecil begitu menyayangi adik, bahkan merasa seperti anak sendiri. Masalahnya, kadang bentuk ungkapan rasa sayangnya tidak aku setujui. Misalnya, dengan tetap memakaikan diapers ke adik selama 1 tahun terakhir di Padang, dengan alasan kasihan ~_~. Hasilnya, adik tampak tertatih-tatih belajar mengurangi ketergantungan pada diapers. Minggu-minggu pertama begitu sulit. Adik ngompol, pup di celana, bisa berkali-kali dalam sehari. Dia lelah dan merasa bersalah. Aku juga lelah, sedih dan merasa bersalah atas segala yang dia alami 1 tahun terakhir. Kami berdua belajar. Aku tahu ini gak mudah.

Hal yang membahagiakan adalah, walau adik terllihat tidak semandiri abang dalam mengurus dirinya, namun adik begitu perasa. Aku tahu dia berusaha keras membuktikan dirinya gak ngompol dan gak pup di celana lagi. Diam2 menangis, meminta maaf berulang2, menggigau, bahkan menghukum dirinya jika suatu hari dia keseringan ngompol dan BAB.

Suatu hari saat kita bertiga jalan-jalan ke Leiden, adik ngotot gak mau dipakein diapers. Aku biasanya pakein kalau bepergian ke luar Delft. Dia ngotot, katanya dia ingin seperti abang. Sesampainya di Leiden ternyata dia pup di celana. Saat bersihin celananya, kran air macet, tanganku belepotan BAB-nya. Perasaanku campur aduk, dan tanpa sadar aku menangis. Hahla cengeng yak. Setelah itu aku pindah toilet, dan membersihkan tanganku dan membersihkan badan adik dalam diam.

Malamnya, abang bilang adik barusan curhat bahwa dia menyesal membuat bunda menangis. Adik meminta supaya abang menyampaikan ke bunda bahwa : "Dedek juga akan sehebat abang, gak akan ngompol lagi, karena dedek juga sayang bunda".

Adik yang belum lagi 6 tahun menyampaikan pesan itu untukku. Aku mencari adik. Memeluknya. Mengatakan bahwa bunda juga selalu menyayangi adik, dan bunda sangat bahagia dan menghargai usaha adik untuk gak pakai diapers lagi.

Aahhh, sayang. Di umur sekecil ini kalian dihadapkan pada kondisi-kondisi seperti ini hanya karena aku gak ingin lagi berpisah dengan kalian. Semoga kita semakin saling paham ya, Nak.

Dan besok adalah hari pertama kalian sekolah. Semoga adik dberi kemampuan ya untuk ke toilet sendiri dan belajar membersihkan sendiri, walau dengan kondisi hanya ada tisue. Khas toilet Belanda. Sekolah ini menekankan dari awal bahwa kemandirian adalah salah satu hal yang mereka tekankan di sini. Setiap anak harus bisa ke toilet sendiri dan membersihkan dirinya sendiri. Semoga adik kuat dan semakin tangguh!

Selera Makan

1 tahun sudah mereka di Padang, dan rupanya banyak sekali ketertinggalanku dalam memahami selera makan mereka. Rupanya selama di sana, atas dasar kasih sayang, menu makanan mereka sehari-hari adalah "mau makan apa Nak?", dan bukan "ayo Nak, kita makan".

Lumayan lama waktu yang aku butuhkan untuk menanamkan kembali kepada abang dan adik tentang konsep syukur atas nikmat, termasuk rejeki makanan. Bukan hanya karena kemampuan memasakku yang terbatas, namun aku tak ingin mereka berfikir bahwa rumah adalah restoran, sehingga apapun jenis makanan yang mereka minta akan segera tersedia.

Akhirnya kami belajar lagi dari dasar tentang penghargaan terhadap masakan. Kami bahkan kadang memasak bareng. Mereka jadi tahu proses bikin gulai ayam, cara membuat bakso, dan konsep-konsep dasar memasak sayur. Mereka juga belajar tentang manfaat makanan-makanan itu. Perlahan mereka belajar untuk menghargai apapun yang tersedia di meja makan. Mensyukuri dan menikmati. Tentang berterimakasih. Menghargai perjuangan menghadirkannya ke meja makan. Menikmati sebuah proses, terlibat di dalamnya, dan menghargai hasilnya.

Alhamdulillah sekarang apapun yang aku masak mereka akan makan. Namun tentunya pembelajaran ini masih terus berlanjut. Tarbiyah untukku dan untuk mereka. Luar biasa. Kepayahan dan keletihan yang aku yakin akan menghasilkan buah yang insyaAllah manis. Aku yang tadinya bahkan gak tahu bedanya ketumbar, jahe dan lengkuas, tiba-tiba menjadi harus mampu menghasilkan sesuatu yang layak dimakan di meja makan.  Mereka yang tadinya terbiasa menyebutkan menu-menu lauk pauk, tiba-tiba dihadapkan pada sebuah rumus-rumus panjang tentang dunia dapur, mengolah makanan dan menghargai setiap prosesnya.

Selera Belajar 

Seperti sudah kuduga, rasa ingin tahu adik terhadap pelajaran semakin tak terbendung.  Di usia 2 tahun sudah mengerti abjad, di usia 4,5 tahun sudah lacar membaca textbook berbahasa Indonesia. Sebuah kondisi yang terus terang bukan aku yang merancangnya. Adik sendiri yang menantang dirinya dan mengkondisikan dirinya menjadi seperti itu. Selama di Jakarta aku nyaris selalu pulang malam, yang aku lakukan biasanya hanya menyediakan alat2 bermain dan perangkat belajar mandiri. Dan aku tidak membuat target apapun buat mereka di usia dini. Yang penting masa kecil mereka bahagia, mereka menghargai dirinya dan orang lain. Jadi hanya bisa  terkaget-kaget setiap kali adik menunjukkan progress yang mencengangkan.

Namun aku mulai menangkap perasaan tak nyaman pada diri Abang, ketika dia menceritakan bahwa setiap kali ngerjain PR di Padang, beberapa anggota keluarga selalu meminta agar adik yang ngajarin. Dan aku yakin sesekali pasti terselip ucapan-ucapan yang membanding-bandingkan mereka berdua. Maka di Belanda ini, aku berusaha menetralkan segala perasaan-perasaan yang tak nyaman yang mungkin pernah ada. Baik perasaan tak nyaman Abang yang selalu merasa dibandingkan, mau pun perasaan tak nyaman adik yang selalu di kondisikan pada ultimate position "pasti lebih tahu".

Lagi-lagi ini gak gampang. Akupun masih belajar. Belajar mengenal mereka kembali. Belajar memahami kembali apa core interest masing-masing mereka. Aku masih meyakinin bahwa, setiap anak unik, dan memerlukan penanganan yang berbeda.

Belajar Mandiri

Demikianlah beberapa issue utama yang kami hadapi. Adapun  dalam hal urusan kerumahtanggaan, kami bagi-bagi tugas, Abang dan adik belajar memahami bahwa kerapian dan kebersihan rumah adalah tanggung jawab bersama. Perlahan mereka juga mulai merhargai usaha  mereka untuk membuat suasana rumah menjadi rapi dan bersih. Sebuah pengalaman yang setahun terakhir tak lagi mereka dapatkan, karena masalah kebersihan dan kerapian rumah adalah sesuatu yang berada di luar diri mereka.

Demikian, sekelumit kisah.

Besok mereka sekolah untuk pertama kalinya di Belanda. Alhamdulillah jadwal sekolah mereka 1 minggu lebih awal daripada jadwal kuliahku. Sehingga aku masih ada waktu 1 minggu untuk mempelajari bagaimana mereka menghadapi situasi baru ini. Aku ada waktu seminggu untuk meng-adjust diriki, menyesuaikan ekspektasi, menyamakan persepsi, dll, sehingga berharap menemukan sebuah pola yang akan menjadi win win solution untuk kelanjutkan perkuliahanku di Belanda ini sambil tetap menjalankan keselarasan fungsi sebagai ibu bagi mereka.

Berpisah selama 1 tahun adalah waktu yang tidak singkat. Apalagi mereka di usia-usia pertumbuhan. Aku memang tak mampu mengembalikan waktu. Dan tak ada yang akan mampu aku lakukan untuk menebus kehilangan 1 tahun kebersamaan itu. Hanya berbekal tekad untuk menghadapi segala rintangan bersama, dan bermodal keyakinan bahwa abang dan adik adalah anak-anak yang baik.

Semoga Allah memampukan diriku untuk menjadi ibu yang membuat mereka kembali nyaman. Menjadi ibu yang membuat mereka akan selalu berfikir bahwa kelak mereka akan punya bekal yang selalu membuat mereka yakin bahwa "tak ada badai yang tak selesai".

Selamat berjuang, wahai anak-anakku sayang...

Delft,
23 Agustus 2015

Senin, 10 Agustus 2015

Turunkan Standar, Mak

Beberapa waktu lalu, seorang kawan menasehati (setelah sebelumnya minta ijin mau ngomel) :
"Suatu saat tiba masanya ketika kita harus berdamai dengan diri sendiri. Menurunkan standar. Sambil menengok ke belakang, dan menunduk takzim. Mengucapkan selamat tinggal kepada masa-masa ketika tempat tidur harus licin sempurna, lantai bebas dari remah-remah, semua baju harus disetrika, dan tata letak barang sesuai definisi".
Lalu tambahnya "gw bisa survive setahun di sini tanpa nyetrika baju! jadi begini tipsnya... blablabla dst dst"
Sip deh. Ayo kita move on :D:D:D

Selasa, 02 September 2008

[Cluster] Kenangan Ramadhan Dulu dan Sekarang


Tadi malam ketika menikmati berbuka puasa sambil menimang bayi kecilku (almost 6 months) yang berusaha menjangkau-jangkau piring di tangan saya, tiba-tiba saya tersadar bahwa ini adalah Ramadhan pertama saya bersamanya. Ramadhan yang rasanya begitu berbeda. Baru kali ditemani si mungil yang gemar tersenyum (beda banget ama emaknya yee..), dengan kejutan-kejutan baru setiap hari. Hadirmu sungguh istimewa, Nak.

Kemudian tanpa direncanakan mengalirlah segala kilasan memori mengenai beberapa cerita ramadhan yang telah berlalu beberapa tahun terakhir :  

1999 : 
Ramadhan di penghujung tahun (Desember) dilewatkan bersama keluarga di Padang karena bertepatan dengan liburan semester 1. Pulang dari rantau (Bandung) dengan acara "pulang basamo" bersama Unit Kesenian Minangkabau ITB (UKM-ITB), suatu organisasi yang mungkin paling melekat erat di hati saya sampai saat ini (meskipun hanya berada di sana 1 tahun lamanya)



H-1 sebelum pulang ke Padang, saya sempat 'nongkrong' di TPB-ITB. Tak disangka ada pengumuman aplikasi Singapore Scholarship. Iseng-iseng saya coba mendaftar. Suatu keisengan yang ternyata kemudian mengubah banyak hal dalam hidup saya.

2000 : 
Bulan ramadhan kembali dinikmati di kampung halaman karena bertepatan dengan liburan semester 1 (semester 1 lagi!) di Universitas yang baru. Ini adalah ramadhan terakhir dimana saya masih bisa menyaksikan tradisi"balimau:.  Yaitu suatu tradisi di Sumatera Barat, di hari H-1 ramadhan penduduk beramai-ramai membanjiri lokasi wisata sungai, danau dan laut untuk "membasahkan" diri. Basah deeeh.

2001: Singapura! 
Sejak juli 2000 - sampai des 2005 saya tinggal di Singapura.



Ramadhan pertama di Singapura. Ketika ngabuburit di daerah Bugis, saya berbuka puasa di Mesjid Sultan. Sejak saat itu saya paham bahwa hampir di setiap mesjid di Singapura menyediakan ta'jil buka puasa. Saya dan teman-teman melakukan aktivitas buka puasa di hall, di komunitas dan di beberapa mesjid. Bahkan pernah nyasar ke mesjid 'kuburan' di Choa Chu Kang. Mesjid favorit saya adalah mesjid al Falah. Lantunan qur'an yang begitu indah, mesjid yang nyaman dan bersih, ta'jil buka puasa yang nikmat (duh, kangen sama buburnya!) dan makanan sahur saat I'ikaf yang sedap betul (kok orientasinya makanan? :P). Itikaf paling indah ya di sana deh. Pesertanya sedikit, khusyuk, imamnya merdu, sepi dan makanannya uenaak (cumi bakar, ikan bakar, glek glek glek). Mahasiswa sejati pasti tergoda :P. Tapi sungguh! Saya suka sekali mesjid yang satu ini. Ketika menjadi volunteer mendampingi calon mualaf di semacam-islamic-center Singapura, saya hampir selalu mengajak singgah dan berlama-lama di mesjid ini.



2002 dan 2003 : 
Hampir sama dengan tahun 2001. Kehidupan ramadhan-nya mahasiswa di asrama. Di tahun 2003 kita (mahasiswa NTU) sempat mengadakan Tarhib Ramadhan di Nanyang Roof Top yang dihadiri komunitas muslim Indonesia di Singapura. Ruameee! pada bawa anak-anak gitu deh, seru! Apalagi aktivitas 'mengamankan' anak-anak.



Sampai sekarang saya tak bisa lupa teriakan seorang bocah yang sedang berusaha "diamankan"oleh salah seorang akhwat karena ngotot lari-larian. Teriakannya begini : “ummmiiiii.. tolooooooong, aku dikejar-kejar oraaaaaaang". Hehehe, siapa yaaaaa..? Alhamdulillah acara berlangsung sukses. Di tahun-tahun itu juga banyak hal yang (rasanya) berubah dalam diri saya, terutama dari sisi cara pandang terhadap kehidupan. 

2004 : 
Saya telah bergabung dengan komunitas Ah Beng Society , plesetan untuk yang sudah sarjana, karena gelar yang melekat adalah B.Eng-Bachelor of Engineering (tapi entah kenapa di Jakarta sini di database kantor kata B.Eng diubah menjadi BOE, hiks hiks padahal susah payah mendapatkanya :P). Kali ini saya menjalani ramadhan di Singapura dalam keadaan pengangguran. Aktivitas sehari-hari "celingukan" di apartemen, masak-masak bareng flatmate (currently sudah menjadi ibu Zhaf and bunda khansa), ngajar private anak kelas 5 SD di Yishun, dan nongkrong malam atau sampai pagi di mesjid-mesjid favorit. Mesjid Sultan dengan rumah makan minang yang OK punya juga suka jadi inceran. Jangankan puasa, hari kuliah biasa aja saya dan seorang sahabat (curently ummi yusuf) pernah bela-belain dari NTU (Jurong West) ke Bugis demi sepiring nasi Padang yg sedaaaap di rumah makan ini.


Btw dulu saya seringkali sedih sepulang ngajar private. Entah kenapa itu murid kok kayaknya buenciii banget sama saya (hiks hiks), segala cara dilakukannya untuk membangkang. Tapi Alhamdulillah kebandelan itu hanya bertahan beberapa minggu, setelah itu dia tumbuh menjadi anak yang manis. Saya mengajar seluruh mata pelajaran, dan paling stress di Bahasa Melayu. Stres-stres lucu, habis bahasanya susah hehehe, terutama di pelajaran kata ulang dan nama-nama profesi dalam bahasa melayu.. haduuuuh, mending saya disuruh lari keliling lapangan sepakbola jam 11 malam dengan k'Dila (ini sih hobi)

2005 : 
Udah kerja nih Alhamdulillah. Nge-apartemen di 664D (sepertinya sudah menjadi flat legendaris saat ini) bareng teman-teman yang sungguh menginspirasi (miss u all!). Saya masih suka nongkrong di Al-Falah (Somerset)  karena tidak begitu jauh dari kantor (Novena). 

2006 : 
Jakarta! Saya pindah ke Jakarta sejak Desember 2005



Ramadhan pertama di Jakarta! Kota yang jedug-jedug banget deh dibanding Singapura ;). Tapi yah so far saya enjoy-enjoy aja. Pindah domisili dari Apartemen cantik di barat Singapura ke kamar kos 2.5 kali 2.5 m di Kampung Bali Tanah Abang hehehe sedap! Petualangan hidup yang  'berbeda' mulai saya lakoni. Alhamdulillah saya tidak terlalu kaget dengan kehidupan Jakarta meskipun 5.5 tahun sebelumnya tinggal di Singapura. Ibu di Padang sempat senewen waktu saya bilang daerah sini terkenal sebagai tempat pengedaran narkoba jakarta.Tapi itu bukan gosip. Salah seorang ibu rumah tangga yang sering memijat anak kos di tempat kami ternyata seorang pengedar narkoba! Saya satu kos dengan 12 teman yang berasal dari berbagai penjuru tanah air yang (kebetulan lagi) sekantor dan seangkatan. Ruameee!



Di tahun ini saya lebih banyak bertemu kehidupan yang 'keras', lingkungan yang 'tidak begitu ramah' mulai dari halaman rumah, jalan raya sampai kantor. Jakarta memang kota yang 'luar biasa'. Saya tanpa sadar kerap kali membandingkannya dengan Singapura. Dua kota yang sangat berbeda dengan bentuk tantangan yang berbeda pula. Saya suka keduanya, karena telah mengajarkan saya tentang banyak hal. 

2007 : 
Ramadhan saat itu saya sudah ganti status, menjadi istri dan sedang hamil muda. Alhamdulillah tidak lagi mengarungi rimba raya Jakarta seorang diri (sudah ada 'pahlawan berjenggot' yang rela menemani kemana-mana ^_^)



Ramadhan ini istimewa, dedek boy inside sepertinya suka menolak segala makanan yang masuk, sehingga saya punya hobi baru, yaitu muntah. Tapi saya tetep suka ngotot pengen iftar dimana-mana walau kerepotan. Iftar paling jauuuh adalah bersama teman-teman IMB (Indonesian Muslim Blogger) di Pasar Minggu, nyasar sana sini walau akhirnya nyampe juga. O iya, sejak Ramadhan 2007 saya memutuskan untuk menjaga ibunda selamanya (kasihan di Padang seorang diri). Ibu yang sangat saya sayangi dan punya kisah hidup yang  luar biasa. Mulai saat itu beliau menetap di Jakarta bersama kami. Semoga saya mampu membaktikan diri demi kebahagiaanmu, wahai ibu. 

2008 : 
Ramadhan kali ini saya 'mengundang' nenek ke Jakarta. Kontrakan sungguh ramai dengan adanya ibu, nenek dan si bayi mungil (si pangeran senyum). Jauh sebelum sahur kami semua sudah dibangunkan dengan celotehan dan senyumnya yang mampu merontokkan segala penat. Entah kenapa bayi kecil sangat suka tersenyum. Pun tak pernah ketinggalan melewatkan buka puasa bersama kita semua dengan aksi guling-guling, celotehan dan senyumnya. Sungguh berwarna! Semoga, ramadhan kali ini tidak berlalu 'begitu saja'.

Senin, 19 Mei 2008

[Cluster 15] Ayah meninggal tadi pagi

Ayah...
Tak banyak memang yang dapat aku ingat dan aku gambarkan jika bersentuhan dengan kata itu, kecuali selembar poto usang puluhan tahun silam. Di sana ada wajah kanak-kanakku yang sedang menangis dan memegang mainan, dan beliau memelukku sambil tersenyum riang. Laki-laki berkulit sawo matang, berpakaian sangat rapi, licin sempurna (sesuatu yang menurun pada adikku), dan senyumnya yang khas (sesuatu yang juga menurun pada adikku)

Ayah...
Saat kanak-kanak aku sering tak habis pikir. Kenapa yang kutahu tentangmu hanya selembar foto usang itu. Kenapa tak pernah muncul wujud nyatamu, sapaanmu, candamu atau senyummu seperti di foto itu. Padahal setiap orang mengatakan bahwa kau masih ada di dunia ini, bahkan kita masih sekota. Tapi kenapa kau tak pernah datang. Di kala itu aku merasa segalanya sungguh aneh. Pernah juga begitu iri kepada kawan-kawan mungilku yang kadang 'bertengkar' dengan ayahnya,bertengkar dengan seseorang yang tak pernah aku miliki

Ayah...
Ketika beranjak dewasa aku kemudian mengerti bahwa segala sesuatunya memang telah terjadi begitu rumit. Dunia orang dewasa itu rumit. Hal itulah rupanya yang kemudian memisahkan kita. Menghilangkan dirimu dari hidupku dan hanya menyisakan kenangan akanmu dalam selembar foto usang itu.

Ayah...
Selalu ada satu pertanyaan menghantui hidupku. Kenapa kau tak pernah datang, Yah. Kenapa kau biarkan kenangan akanmu perlahan hilang seiring berlalunya waktu. Kenapa kau biarkan rinduku perlahan tergerus berganti tanda tanya dan kehampaan. Kemana engkau, Ayahku. Suatu saat aku pernah sangat ingin bertemu. Sekadar menatap wajahmu, sekadar berusaha mencari garis-garis wajahmu di wajahku, sekadar ingin membandingkan seberapa jauh wajahmu dimakan usia dibandingkan dengan wajahmu di foto usang itu.

Tidak Ayah.
Aku ingin bertemu bukan karena ingin memelukmu, sebab sosokmu begitu asing. Aku ingin bertemu bukan karena ingin mempunyai sebuah foto keluarga lengkap denganmu dan ibu, sebab itu hal yang pelik. Aku ingin bertemu bukan karena ingin menceritakan kisah-kisahku, sebab kita tak akan pernah seakrab itu. Aku ingin bertemu bukan karena ingin marah padamu atas yang terjadi di masa lalu. Aku ingin bertemu sebab ingin menggenapkan sebuah rindu... Rindu saja. Sebentuk rindu yang mungkin cuma aku yang bisa memahaminya

Ayah...
Ternyata kemudian aku harus menuntut ilmu di sebuah tempat yang jauh, namun aku pergi tetap dengan membawa harapan-harapan itu. Harapan bahwa suatu saat akan ada kesempatan bagi kita untuk bertemu. Duduk berdua, mungkin berkenalan terlebih dahulu karena kita nyaris tak saling kenal. Lalu saling bercerita, itu saja.

Ah tidak Ayah,
Aku tidak berani mengharapkan kau akan memberikan saran-saran kebapakan kepadaku, putri sulungmu, sebab kita tentu masih terlalu asing. Aku juga tidak akan mengharapkan bisa tertawa terpingkal-pingkal denganmu dan kau mengusap-usap kepalaku dengan sayang. Ah tidak Ayah, khayalku terlalu jauh.

Aku cuma ingin bertemu dan sedikit bernostalgia... tentang foto itu terutama. Apa yang kau rasakan saat di foto itu, dimana kita kala itu, kenapa aku menangis, dan mengapa tawamu begitu matahari...itu saja

Namun kenapa kau tak kunjung datang. Bahkan saat saat sakral itu tiba.Tidak bisakah kau melipat jarak walau sejenak hanya untuk menyaksikan putri kecilmu di foto itu duduk bersanding dengan seseorang yang akan menggantikanmu menjadi wali hidupnya. Tidakkah terbayangkan rindu hatiku yang hanya bisa mengenalmu lewat foto usang itu? Bahkan suaramu pun tak kukenal. Tidak bolehkah aku bertemu denganmu Ayah? Atau kubalik saja pertanyaannya, tak tersisakah sejumput rindu untukku, wahai Ayah. Bukankah telah puluhan tahun kau tak pernah melihatku? Ada apa denganmu Yah? Tak tersisakah sedikit rindu untukku?

Lalu berita pagi ini sungguh mengejutkan. Engkau ternyata telah meninggal dunia pagi tadi karena serangan jantung. Engkau sekarat beberapa hari ini dalam rawatan adik dan keluargamu yang lain itu, namun kenapa tak seorangpun mengabariku Ayah. Semua orang mengatakan bahwa engkau selalu menanyakan kabarku di saat-saat terakhirmu (oh leganya, ternyata engkau masih mengingatku), namun melarang untuk sekedar memberi tahuku. Dengan alasan malu. Malu padaku. Malu dengan segala yang telah terjadi. Takut aku akan menolakmu

Ah Ayah. Bahkan untuk sekedar mendengar suaramu di saat-saat terakhirpun tak kudapat. Kemanakah rindu ini harus kukubur. Bahkan karena pendarahan hebat, jasadmu pun tak bisa menunggu kedatanganku untuk sekedar memandangmu terakhir kalinya.

Ayah...
Tak banyak memang yang dapat aku ingat dan aku gambarkan jika bersentuhan dengan kata itu, kecuali selembar poto usang puluhan tahun silam. Begitu indah senyummu di foto itu. Ah ayah, setidaknya aku tahu bahwa dulu di suatu masa, aku pernah sangat kau sayang..

bahwa dulu di suatu masa, aku pernah sangat kau sayang..
bahwa dulu di suatu masa, aku pernah sangat kau sayang..
bahwa dulu di suatu masa, aku pernah sangat kau sayang..
mungkin
bukankah di foto itu senyummu begitu lebar dan wajahmu begitu bangga

Selamat jalan Ayah...
Nampaknya waktu tak pernah mengijinkan kita untuk kembali mengulangi nostalgia di foto itu..

Selamat jalan Ayah, semoga Allah menerima amal shalihmu dan mengampuni dosa-dosamu.
Semoga keluargamu yang di sana diberi ketabahan berlipat-lipat atas kepergianmu dari hidup mereka.

Selamat jalan Ayah, semoga kau tahu bahwa selalu ada do'a-do'a tulus yang mengalir untukmu
Selamat jalan Ayah, andai kau tahu bahwa aku senantiasa rindu

Sabtu, 24 Desember 2005

[Cluster 14] De Javu

Desember 2005



 Malam merayap menjemput hari. Tak ada sinar bulan keperakan memantul mantul di Singapore river seperti di cerita2 fiksi. Yang ada hanyalah lampu lampu kota menyala benderang dengan angkuh. Terkesan bangga akan cantiknya yang semu. Seakan lupa bahwa sinar bulan tetap tak terkalahkan. Cantiknya alami. Walau tak terlihat namun semua tahu bahwa ia ada. Walau tak mencolok namun semua tahu bahwa indahnya abadi. Menawan. Carilah sinarnya di desa bukan di kota ini. Lalu kesederhaan yang memukau itu akan memenjarakan hatimu untuk betah berlama lama membersamainya

 [it's not about the money] 
5,5 tahun belakangan ini dia selalu kesini kala perasaan hati tidak normal. Tempat yang indah, mengingatkan pada kampung halaman yang dikelilingi sungai-sungai besar dengan lebar puluhan meter. Mesjid Mohd Ali terletak under ground, di bawah gedung-gedung perkantoran, hanya beberapa meter dari pinggir sungai. Malam merayap, sebentar lagi mungkin Isya. Bangku bangku di pinggir sungai dipenuhi manusia. Ada yang kelelahan abis jogging, ada yang sekadar berkumpul-kumpul, kebanyakan sedang jepret sana sini. Nun di sebelah kiri berjejer tenda-tenda menaungi sepanjang pinggirian sungai sampai ke ujung jalan. Itulah Boat Quay, salah satu tempat tujuan wisata turis-turis. Disebut Clarke Quay juga. 

Awalnya dia bingung bedanya apa?. Ternyata tempatnya sama. Cuma yang satu adalah di North part of Singapore River. Satunya lagi di South part of Singapore river. Sungai Singapura bersih dan dipenuhi kelap kelip kapal yang membawa pelancong mengarunginya dari ujung ke ujung. Di sebelah kanan Fullerton Hotel berdiri gagah dan mewah. Seperti istana mungil. Disekelilingnya gedung-gedung pencakar langit menjulang angkuh Sesekali kilatan kamera turis-turis dari perahu memantul di keremangan. Mengabadikan kemegahan di pinggir sungai. Kepalanya berdenyar-denyar. Setiap masalah adalah pijakan bagi kita untuk melompat lebih tinggi lagi memang. Yang dia takutkan hanyalah jika sampai lupa bersyukur. Dia memang musti meninggalkan negeri ini segera. Suasananya tak lagi baik untuk ruhiyah. Newton menemukan teory relativitas, tapi seharusnya dia juga menemukan teori sensitivitas. Kadang begitu lelah ketika satu-persatu sekelilingnya mulai menuntut jawaban. Jiwanya tak lagi ada di sini. Orang-orang bilang kalau mau kaya tetaplah disini, but tak semua orang paham bahwa, it's not about the money 


09.00 pm, Tepi sungai, Singapura [Kamu meninggalkanku-1]
Lama-lama perempuan itu sadar, tak mungkin untuk menyenangkan semua orang dan melelahkan untuk meyakinkan semua orang. Lama-lama perempuan itu sadar tidak perlu untuk melakukan itu semua. Dan akhirnya memutuskan bahwa senyuman adalah jawaban paling cukup. Singkat, padat dan sakral. Lagipula, kepala tak mampu menampung banyak hal dalam bersamaan.Teringat sahabat yang lagi di Jakarta bulan ini melengkapkan separuh agamanya. Wah kangen berat. Beliau yang begitu menyejukkan dengan segudang positive thinking dan nasihat2 bijaknya. Dengannya kadang ada hal-hal yang sama-sama manis jika dibiarkan tak terbahas. Dengannya mudah saling memahami bahwa keidealan yang kadang dituntut dan dibentuk oleh suatu golongan tak bisa dipaksakan untuk setiap orang, kembali karena latar belakang, kisah hidup dan keberuntungan setiap orang berbeda-beda. Apalagi mengatakan suatu prinsip yang kemudian malah disalahi sendiri prakteknya. Dengannya tak semua cerita musti mengalir karena kadang ada saatnya bagi jiwa untuk merenung, berfikir dan butuh waktu sendiri. 

Dengannya teori sensitivitas membalur erat dan rapat. Maka sungguh nyaman ketika ada hal-hal tertentu yang tidak saling dibicarakan. Persahabatan yang dihiasi husnuzhon dan penjagaan atas cerita satu sama lain. "Kamu tega meninggalkanku" kata perempuan itu ketika menyadari bahwa setelah menikah tentunya sahabatnya akan ikut sang pangeran ke negeri tulip. "Bukannya kamu yang meninggalkanku", jawab sobatnya kalem "Kamu duluan menetap di Jakarta, bukan aku". Ah ya benar juga. Mungkin kita saling meninggalkan. 

09.00 pm, Tepi sungai, Singapura [Kamu meninggalkanku-2] 
 Huff mana pernah perempuan itu menyangka kalau suatu saat mereka akan terpisah demikian jauh ya? Dengannya masa-masa belajar semasa kuliah terasa begitu menyenangkan. Dan pasti dijamin jatah 500 sms gratis sebulan bakal ga cukup jika sudah sibuk sms-an dengannya. Ah ya, bukan sahabatnya yang meninggalkannya, tapi tepatnya mereka saling meninggalkan. Ia berharap mereka masih akan tetap saling mendoakan ketika saling mengingat satu sama lain.

09.00 pm, Al Falah Mosque [the song that I sing]
Malam memeluk hari, seharusnya sudah Isya dari tadi. Perempuan itu beranjak perlahan. Ah ya, dia sudah memutuskan sesuatu dan setiap keputusan punya aturan main sendiri. The Art of choosing. Seperti hidup yang terus berjalan maka tak ada alasan untuk menyerah kalah dan berhenti. Akan berpisah juga dengan sahabat-sahabat lama. Akan berpisah dengan negeri yang menawarkan begitu banyak kenyamanan. Akan berpisah dengan kemapanan. Maka adalah sebuah tantangan untuk merambah dunia yang benar-benar baru sendirian. Melangkah sendiri adalah suatu keniscayaan dan bukankah dari dulupun demikian. Jadi seharusnya tak ada alasan untuk gentar Baginya ini keputusan berat, namunà cerita perempuan ini akan terus berlanjut...

  /Rupanya begitu banyak yg telah terjadi dalam 2 tahun ini *kangen spore river