Tampilkan postingan dengan label schoolInHolland. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label schoolInHolland. Tampilkan semua postingan

Selasa, 12 Januari 2016

Suntikan Semangat dari Pembimbing Proposal



Baru saja menghadiri pertemuan dengan pembimbing buat proposal thesis.
Dia tanya "Why did you  radically change your topic?". Saya jelaskanlah alasan saya kenapa mendadak ganti topik tesis, di saat-saat injury time deadline buat submit proposal. Alasan teknis, dan non teknis. Trus dia bilang lagi "did you do the proposal yourself? and how long?". Saya  jelaskan lagi bahwa saya hanya ada waktu mengerjakannya 4 hari,  sebab baru ada lampu hijau dari seorang kawan setelah konsultasi ama professornya (boleh sebut nama gak di sini? hehe). Sambil saya minta maaf juga karena terlalu mendadak melakukan perubahan, dan mohon maaf jika banyak kekurangan. Maklumlah, proposal yang udah digarap 1 bulan mendadak harus digantikan oleh yang baru mulai ditulis kamis malam. 4 hari 4 malam. Sampai demam kemaren malam, hehe...

Lalu beliau melanjutkan. "Kamu tahu gak kenapa saya menanyakan ini sejak email semalam?". Saya bilang, saya gak tahu pak, mungkin karena terburu-buru jadi banyak kekurangan. Trus dia jawab "because, I think your proposal is outstanding, and I suspect that it is belong to someone else, not you".

WUTT. Sempat bengong dulu sebentar. Antara senang karena dipuji, dan sedih karena dicurigai. Terus saya jelaskan bahwa ini beneran saya yang nulis sendiri, from scratch. Saya sampai memperlihatkan backup2 dokumen di google drive. Karena setiap progress pasti di back up minimal 2x sehari. Jadi terlihat segala history perubahan dokumen, dll. Saya tambahkan, karena ini tahapnya proposal, tentunya banyak sekali literature dari jurnal-jurnal lain. Pastinya. Tapi proposal ini beneran milik saya. Terus dia tertawa terpingkal-pingkal. Kenceng banget.  "the grammar is outstanding, and the proposal has been written in a very good logical order. Very scientific". Serius deh, ampe gemeteran dengerinnya. Dia menambahkan bahwa menurut dia ini dah hampir selesai, kalaupun ada input hanya minor. Jika terbukti original, dia akan memberi nilai yang sangat bagus. Dst dst.... berkuah-kuah lah itu pujian.

Speechless banget. Dan saya gak tahu apa kisah ini pantas disharing di sini. Tapi beneran gak nyangka pujiannya bakal berkuah-kuah begitu. Dan gak mengharapkan segitunya juga. Sebab selama 4 hari ini saya begitu kuatir bahwa yang saya kerjakan gak berarti, karena dikerjakan terburu-buru. Dan selama 4 hari ini saya sibuk berprasangka buruk terhadap hasil yang akan diterima. Sempat marah juga pada diri sendiri, kenapa kok jadi orang plin plan banget. Malah sempat berfikir ga akan lulus mata kuliah ini. Kasian sama anak-anak karena selama 4 hari ini selalu dikasih lampu merah
"Nak, main berdua dulu ya hari ini bunda sibuk banget"
"Nak, bunda mau sendirian dulu 3 jam, jangan masuk kamar bunda ya"
"Nak, bunda gak masak, kita pesen delivery aja ya"
"Nak, bunda ga masak sayur, ga sempat"
"Nak, sabtu minggu ini kita di rumah aja ya"
dll.

Pada akhirnya bapak pembimbing tetap memberi beberapa saran perbaikan. Pastinya. Sebab bagaimanapun pasti banyak hal-hal yang kita belum tahu tentang penulisan ilmiah. Tapi saya sibuk grogi, gemeteran, ke GR an, dll. Maklum, orangnya grogian dan GR an, walau dah emak-emak... hehe

Lama sekali kita diskusi. Saya jelaskan gimana proses penulisannya. Hal-hal yang masih gak saya pahami baik dari buku maupun dari literatur. Kebingungan-kebingungan saya. Sempat bilang juga bahwa setahu saya bahasa Inggris saya gak bagus, karena saya lulusan S1 di Singapore, yang mana selama di sana  bukannya belajar bahasa Inggris yang baik dan benar, saya malah Singlish abieeez. Speaking berantakan, nulis apalagi. Kalau bicara lebih kayak uncle-uncle di pasar malam di Boon Lay, atau makcik makcik yang jualan jilbab di Pasir Ris. Makanya suka ga PD kalau disuruh presentasi, apalagi nulis. Saya bilang juga score terjelek saya kalau test IELTS adalah writing. Pokoknya segala borok2 dikeluarin lah.

Saya juga bilang, nanti kita lihat aja di TurninIt, aplikasi buat cek originality sebuah karya tulis, tentang originalitas tulisan ini. Saya bahkan minta di test saat itu juga. Soalnya ga enak banget dicurigain.....

Tapi bapak ini baik banget. Dia bilang soal originalitas nanti bisa kita cek,dan itu adalah proses yang akan dilalui semua murid, tapi yang mau dia tekankan adalah bahwa dia suka sekali dengan apa yang telah saya tulis. Saat diskusi selesai, dia menutup dengan kalimat berikut "We need to have a good contact, and I am sure that you will have a very good career in your life"

Kalimat penutup yang bagi dia mungkin biasa aja, tapi tanpa dia sadari telah menajamkan tekad seorang emak-emak paruh baya untuk berusaha lebih keras lagi dalam hidup. Untuk berusaha meningkatkan prasangka positif terhadap diri sendiri, terhadap usaha yang sudah dilakukan, dan terhadap jalan hidup yang telah dipilih dan digariskan oleh Allah. Telah membuat seorang emak emak yang tadinya sempat putus asa, lelah, kehilangan kepercayaan diri, dan sibuk menyalahkan diri sendiri atas banyak hal, kembali ingin bangkit berdiri, berjalan.... berlari.

Rabu, 11 November 2015

Teko's in de Holland [Adegan 16] Parent's Meeting Day di sebuah SD di Belanda

I have just attended parent's meeting at the primary school this morning. In Dutch . Fortunatelly, one of the teacher decided to sit next to me and being a translator. Kalau gak ada guru baik itu, puyeng banget dah. Cuma ngerti beberapa butir vocab, itupun karena diajarin anak2 di rumah.

Pertemuan diadakan untuk membahas bagaimana sekolah melakukan monitoring terhadap perkembangan murid. Sebelumnya pernah juga ketemu guru kelas abang dan dedek, namun sifatnya lebih private. Face to face. Yang ini sifatnya lebih umum, berupa forum. Diawali dengan minum teh bersama, makan kue-kue kecil yang disediakan sekolah, serta ramah tamah dalam beragam bahasa. Bagian ramah tamah diriku cuma cengar cengir tentunya, sebab bahasa utama yg digunakan adalah bahasa belanda (oleh guru), dan sejenis bahasa arab (karena banyak wali murid dari Turki dan Maroko.. kayaknya sih).

O iya, lagi-lagi 1 hal yang selalu menarik perhatian saya terkait SD di sini. Mereka gak punya staf! Sebutlah sekretaris, tata usaha, you name it lah, apapun. Cuma ada 1 kepala sekolah dan para guru. Itu aja. Jadi mulai dari mengoperasikan komputer, nyiapin teh dan cemilan buat orang tua murid, melayani ortu yang mau ingin daftar program buah-buahan mingguan, menjawab telpon, semua dilakukan oleh kepalas seklolah dan guru. Efisien banget. Cerita tentang ini ada di tulisan awal saya saat survey SD-SD di sekitar Delft.

Kembali ke acara rapat, kebanyakan muatan penilaian dan monitoring yang dibahas adalah attitude dan kedisiplinan. Jadi, penilaian secara umum terbagi atas 3 tema : attitude, language, dan pelajaran sekolah.

Lumayan lama membahas tentang attitude. Sebab di dalamnya terdapat prilaku terhadap guru, prilaku terhadap orang lain (kerjasama, pergaulan, inisiatif, cara mengatasi konflik, dll), prilaku saat belajar (stamina, konsentrasi, kecepatan gerak, kemandirian) dan prilaku terkait rasa tanggung jawab (bagaimana menjaga barang-barang di sekolah, bagaimana sikap dalam menyelesaikan tugas), dll. Masih banyak lagi mestinya, sebab pembahasan bagian ini sangat lama. Cuma ini aja yang berhasil dicatat. Tentunya setelah diterjemahin dulu oleh ibu guru baik hati yang duduk di sebelah saya.

Di bagian language, dibahas mendetail tentang aspek listening, speaking, writing, writing stories dan reading. Fokus pembahasan bukan kepada aspek akademis semata tetapi lebih banyak penekanan pada ranah psikologis. Misalnya tentang cara meng-encourage anak untuk mengoptimalkan kemampuan berbahasa, tentang kreativitas yang harus dimiliki orang tua dalam memantau kemampuan berbahasa anak-anak, tentang motivasi untuk menggunakan bahasa yang baik dan benar, tentang keberanian mengemukakan pendapat, tentang sikap yang baik dalam berbahasa, dan masih banyak lagi. Saya pernah dapat penjelasan bahwa metode pendidikan di sini adalah 50% dari sekolah dan 50% dari orang tua. Jadi, orang tua juga dituntut untuk aktif melakukan pendampingan.

Dijelaskan juga, para guru sangat menyadari bahwa aspek bahasa ini tidak mudah untuk anak-anak, apalagi yang sehari-hari memakai 2, 3 bahasa atau lebih. Karena itu kadang mereka menyediakan pendampingan khusus untuk anak-anak yang perlu waktu tambahan belajar bahasa Belanda (seperti halnya abang dan dedek yang dapat pelajaran tambahan tiap hari Kamis). Saking senangnya belajar bahasa, di hari Kamis mereka senantiasa bangun sangat pagi dan berharap semoga cuaca bagus, sehingga tak ada kemungkinan untuk bolos sekolah.

Aspek ilmu pengetahuan tentu juga penting, walau terasa sekali di dalam setiap pembahasannya kembali ditekankan masalah prilaku, bahasa dan kedisiplinan. Dibahas tentang metode pengajaran matematika di sekolah, bagaimana menerapkan belajar matematika sambil bermain, tentang pentingnya memahami peta dunia untuk membuka cakrawala, tentang mengenal diri pribadi, keluarga dan lingkungan. Terus terang nyaris ga ada pembahasan tentang sisi akademis yg canggih2 (fisika, kimia, biologi, kalkulus, apalagi ekonometric...hehe). Tapi saya percaya sekali sekolah juga ngajarin science, sebab setiap pulang sekolah mereka pasti cerita (ceritanya rebutan tentunya, secara bundo kesayangan cuma 1 hehe). Mulai dari cara membuat kertas, daur ulang makanan, organ tubuh, dll. Hanya saja di pertemuan orang tua murid ini nampaknya para guru lebih menekankan pada pentingnya aspek prilaku, kedisiplinan dan kemampuan berbahasa.

Sekolah memantau perkembangan akademis anak secara individual. Jika ada anak yang dicurigai cukup tertinggal secara akademis, maka sekolah akan mendatangkan psikolog untuk melakukan investigasi bertahap agar dapat menggali apa penyebab ketertinggalan itu. Apakah ada masalah pribadi, masalah emosional, masalah dengan teman, atau mungkin ada masalah di rumah. Sebab mencari akar masalah sangat penting untuk mendapatkan treatment yang sesuai.

Akan diadakan ujian akademis secara rutin, baik yang sifatnya nasional maupun yang sifatnya internal sekolah. Jadwal ujian internal di sekolah biasanya tidak diumumkan, karena guru-guru tidak ingin membuat siswa stress dan takut menghadapi yang namanya "hari ujian". Ujian dan test dari sekolah dapat dilakukan kapan saja tanpa ada pemberitahuan. Dengan demikian siswa dapat menikmati nuansa bermain dan belajar tanpa tekanan.

Tentunya dibahas juga tentang aspek motorik (motorik halus dan motorik kasar), yang ditunjang dengan kegiatan olahraga 3x seminggu. Seperti kisah sebelumnya, diriku pernah dipanggil wali murid karena abang dan dedek dianggap masih perlu peningkatan motorik halus dan kasar. Terutama motorik halus sih yang dirasa kurang banget. Sehingga guru kemudian meminjamkan secara rutin alat-alat bantu yang diharapkan dapat men-stimulate perkembangan gerak mereka. Agar lebih gesit, lebih tangkas dan lebih sehat tentunya.

Itu aja yang keinget, ntar kalau hadir di lintasan fikiran, akan ditambah lagi. Semoga abang dan dedek senantiasa mendapat ilmu baru selama 1 tahun mereka bersekolah di sini, dengan segala keterbatasan yang mereka miliki dibanding teman2 lainnya (terutama kendala bahasa). Cemunguuud!!!