Senin, 03 Juli 2006

goresan...

ada yang datang ada yg pergi
namun siapa yang mampu menghapus kenangan di hati

yang terpentang didepan seharusnya tak lagi sekedar menggoreskan kenangan
apalagi bayang bayang
tapi akan menggoreskan kenyataan

berat memang, untuk berjanji
tak kan menoleh lagi

Kamis, 29 Juni 2006

Menjaga dan Supaya Terjaga Olehnya

Al-Qamar ayat 17: And We have indeed made the Qur'an easy to understand and remember: then is there any that will receive admonition?
  • Mengakrabkan diri dengan Qur'an dan menjadikannya sahabat karib. Serta membuat diri familiar dengan kata kata di dalamnya. Kalau bisa mengikuti pelajaran bahasa arab.
  • Bagaimana mungkin mengharapkan bisa membawanya di dalam hati jika kurang akrab dan dekat dengan Qur'an.
  • Bagaimana mungkin mengharapkan bisa menjaga dan terjaga oleh Qur'an jika kita hanya sekedar membaca, menggugurkan kewajiban, tanpa mendekatkan diri lebih jauh dengan kandungan-kandungan yang ada di dalamnya
  • Jika ada waktu waktu kosong yang sedikit, lebih baik diisi dengan mengingat2 hapalan daripada ketiduran atau terserobok pemandangan2 yang tidak halal. Misal: Di bus, di MRT (mass rapid transit).
  • Membawa bawa Qur'an terjemahan yang kecil kemanapun, menetapkan target dan berusaha mencapainya. Mungkin dengan menerapkan frame capture system.
  • Mengenali kesanggupan diri, kecepatan menghafal, kecepatan memahami, kecepatan mencintainya, lalu berusaha sekuat tenaga mencapai target tersebut
  • Sebaiknya berguru kepada al hafidz atau di pusat tahfidz Qur'an, supaya sekalian bisa membenarkan bacaan. Talaqi mungkin cara terbaik.
  • Meluruskan niat dan mengamalkan apa yang telah diajarkan oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala kepadamu.  Dia berfirman : “Artinya : Dan bertaqwalah kepada Allah ; Allah mengajarimu" [Al-Baqarah : 282]
  • Engkau wajib memperbanyak membaca (Al-Qur'an). Mantapkan hafalanmu (yang sudah ada), jangan pindah dari satu ayat ke ayat lain, dari satu surat ke surat lain, kecuali setelah engkau memantapkan hafalan yang sebelumnya dan terpancang dalam ingatanmu.
2 Point terakhir dikutip dari Arully's blog: http://blog.ar.or.id/no/2005-04-25/tips-menghapal-quran/
That's all. Pada kesempatan ini ada rasa takut menerpa, takut telah mengatakan hal2 yang belum sepenuhnya diamalkan. “Boleh saya tambahkan sedikit?satu suara menimpali. Of course!!! Lalu pemilik suara menambahkan, katanya satu lagi tips yang penting juga adalah menjaga mata, menjaga pandangan. Jleb!!! Tepat sekali, justru mungkin itulah salah satu kunci utama.

Mata.. mata.. mata. Dari mata turun ke hati, dari hati naik ke fikiran, dari fikiran bisa menguatkan dan melemahkan iman. The choice is yours. Mau pilih mana, mau pilih pandangan yang berujung pada kelalaian atau pandangan yang berujung pada penguatan diri.

Singapura.. Singapura, aku teringat negeri yang kudiami 5,5 tahun ini. Dulu selalu kuanggap sebagai salah satu tempat yang mensyaratkan perjuangan yang sungguh-sungguh bagi insan yang ingin benar menjaga kehalalan pandangan. Dan ternyata mungkin Jakarta tak jauh beda

Mata.. wahai mata? Bagaimana menjagamu? Tentunya tidak melulu mengenai menundukkan mata dan hati di depan lawan jenis. Tapi seperti kata guru, juga terhadap benda-benda mati. Terutama buat akhwat, waaah susah nih (esp for me).

Mata.. wahai mata? Bagaimana menjagamu? Tentunya tidak melulu mengenai menundukkan mata dan hati di depan lawan jenis. Dari mata turun ke hati, dari hati naik ke fikiran, dari fikiran bisa menguatkan dan melemahkan iman. The choice is yours.

Mau pilih mana, mau pilih pandangan yang berujung pada kelalaian atau pandangan yang berujung pada penguatan diri. Mata.. wahai mata? Bagaimana menjagamu? Karena keberhasilan menjagamu berarti keberhasilan melawan diri sendiri. Dan semoga juga keberhasilan itu berujung pada lezatnya iman, berdekatan dengan Qur'an. Menjaga dan terjaga olehnya. Duh, indahnya. 

uNisA,
June06

Senin, 12 Juni 2006

[Cluster-1] Bunda

//ini hasil migrasi blog, 7 Juli 2015. Pindahan dari unisa81.net//

Tulisan lama: http://unisa81.multiply.com/journal/item/14

Ijinkan kubuka tulisan kali ini dengan syair nasyid anak anak kesukaanku:
bersinar sang surya 
menyinar cahayanya 
begitulah berseri 
wajah ummiku sayang
bila pulang sekolah 
ummi sambut kami 
sembahyang sama ummi 
Alhamdulillah...

Semangkuk mee siam dan sepotong chicken wing bersama segelas air mineral berbaris rapi dihadapanku, siap untuk dinikmati. Hmm sore yang indah. Memilih duduk dipojokan banquet nya Raffles hospital. Memandang senja yang perlahan merambat dan mengamati lalu lalang arus balik kantor. Andai punya laptop, sebenarnya banyak tempat2 menarik di sudut-sudut Singapura yang mendatangkan inspirasi. Atau... aha.. ke muslim convert association aja, berbagi cerita dengan mualaf, maka tunggulah, kau akan kebingungan mengumpulkan sekian banyak hikmah berceceran, dengan nilai2 yang kualitasnya bersifat objective dan variatif buat setiap individu.

Aku mensketsa cinta buat bunda. Ya, cuma mensketsa, karena melukisnya aku tak kan bisa. Teringat kata2 seorang penulis favoritku. Cobalah melukis cinta, dan kau akan kehabisan warna sebelum cinta itu selesai disketsa. Tapi cinta ini bukan cinta biasa. Hmm kau pasti bilang semua orang juga punya. Ah yakinlah, itu karena kau belum benar benar mengenal bunda. Tolong biarkan saja aku menuliskannya, mungkin demikianlah salah satu caraku mensketsa cinta. Buat ibunda...

Bunda, bukan wanita biasa. Duduklah dengan tenang, kan kuceritakan tentangnya. Namun berjanjilah untuk tidak ikut ikutan jatuh cinta. Cinta bunda cuma boleh untukku. Tangan ajaib bunda mampu mengubah hari hari yang susah menjadi tetap penuh senyum dan canda. Semangatnya yang membaja sanggup membuat bunda melupakan penat yang merajam ketika harus berlari ke sana ke mari menafkahi sang buah hati. Hatinya yang tegar mampu menghadirkan mentari di wajah kami. Kapanpun. Dengan berbagai cara. Sendirian. Dengan kemana mana membawaku sebagai tumpuan segala kasih. Kasih yang teramat sayang.

Sayangku sebesar apa padanya?.
Ah kamu tak kan paham. Bahkan berderai derai airmata ketika menuliskan ini tak kan sanggup membalas sedikit saja ketulusan di hati bunda. Tangan bundalah yang membimbingku mulai dari belajar membaca, mengenal matematika (bundaku guru SD), berjalan di pematang sawah(kita punya sawah lo..), mencuci di sungai(kampungku dikelilingi sungai2 besar berair jernih), sampai mencari kayu bakar di hutan. Masih teringat cerita cerita berhikmah yang dituturkan bunda di sepanjang jalan dari hutan ke rumah. Semuanya tentang ketabahan. Tentang perjuangan. Dan semua itu diceritakan supaya kepala mungilku tidak merasakan lelah yang sangat karena harus memikul seikat kayu bakar yang tentu saja beratnya belum ada apa apanya dibanding beban yang dibawa bunda di kepalanya. Sesekali kami berhenti sekadar menghapus penat. Sering juga berbuka di tengah perjalanan karena kadang kadang masih di tengah jalan ketika adzan magrib berkumandang. Berdua memandang senja yang merah dan kawanan burung yang melesat membelah langit persawahan. Sesaat penat terlupakan. Bahkan wajah bunda yang kotor tersaput debu debu nakal di sepanjang jalan begitu indah di mata kanak kanakku.

Sayangku sebesar apa padanya?.
Ah kamu tak kan paham. Bahkan berderai derai airmata ketika menuliskan ini tak kan sanggup membalas sedikit saja ketulusan di hati bunda. Mata bunda mengajarku cara bertanggung jawab terhadap diri sendiri. Sehingga berbohong dan membuang2 waktu adalah kesia2an yang akan terluluh lantakkan oleh tatapan kecewa dari matanya. Kemandirian adalah PR sehari hari yang ditekankan begitu kuatnya. Bunda tak pernah menanyaiku tentang pekerjaan pekerjaan sekolah atau tanggung jawab apapun. "Kerasnya hidup seharusnya membuatmu paham bahwa masing2 kita punya tanggung jawab besar terhadap masa depan kita", demikian kata bunda suatu hari sambil mengipas ngipasi api pembakaran batok kelapa untuk kami menyetrika. Ups jangan salah ya. Buatku setrikaan tradisional beda wanginya dengan setrikaan listrik yang memang tak mampu dimiliki bunda. Lebih wangi.

Sayangku sebesar apa padanya?.
Ah kamu tak kan paham. Bahkan berderai derai airmata ketika menuliskan ini tak kan sanggup membalas sedikit saja ketulusan di hati bunda. Bahasa tubuh dan guratan2 lelah di wajah bunda mencerminkan setiap tetes2 peluh dan kecapaian rutinitas yang harus digeluti sendirian. Keikhlasan yang membahasakan cinta. Kecintaan yang... ah, bahkan mensketsanya pun aku tiada mampu. Masih teringat suatu hari dengan wajah teramat sedih bunda menyerahkan sebungkus besar perlengkapan baju baju sekolah buatku. "Ini baju baru buatmu, seragam SMU, seperti janji ibu" kata bunda. Lalu beliau menangis tersedu sedu. Bunda sayang kenapa?. Kenapa menangis?. Ketidakmengertian itu terjawab ketika bungkusan itu dibuka. Ternyata nama nama di baju itu bukanlah namaku. Tapi entah nama siapa. Ah, bukan baju baru sepertinya. Mungkin hadiah dari seseorang. Lalu akupun tersenyum lebar lebar. Sedikit pahit memang kala itu. Bunda.. bunda... tak apa. Bukankah tinggal kita ganti namanya.

Sayangku sebesar apa padanya?.
Ah kamu tak kan paham. Bahkan berderai derai airmata ketika menuliskan ini tak kan sanggup membalas sedikit saja ketulusan di hati bunda. Bundalah yang mendorong cita cita menuntut ilmu setinggi tingginya. Menemani sampai tengah malam ketika harus begadang untuk ujian. Bahkan masih tetap semangat melucu walau sering kutimpali dengan cueknya, "lucunya dimana?". Masih ingat binar di mata bunda saat melepasku menuntut ilmu di kampus Ganesha. Campur aduk rasa hati. Bahagia mendapat kesempatan merantau ke seberang pulau. Menuntut ilmu di negeri orang. Sedih karena harus meninggalkan dirinya sendirian. Siapa lagi yang akan mendengar cerita ceritanya setiap hari. Bunda akan sendirian menikmati warna warni hidup, setelah 18 tahun lamanya membaginya bersamaku. Lalu air mata itupun menderas seperti hujan saat melambaikan tangan dari jendela bus ekonomi non AC Padang-Bandung yang aku tumpangi. Lalu suatu hari mulutpun terasa begitu pahit menelan makanan kala sadar bahwa kiriman kiriman bunda buatku diperantauan cuma menyisakan beberapa rupiah untuk dirinya.

Sayangku sebesar apa padanya?.
Ah kamu tak kan paham. Bahkan berderai derai airmata ketika menuliskan ini tak kan sanggup membalas sedikit saja ketulusan di hati bunda. Masih kuingat ketercengangan di suara bunda ketika suatu siang kukabarkan bahwa perjalanan takdir segera akan membawaku ke Singapura. "Melepasmu ke bandung saja masih begitu berat terasa, sekarang malah mau ke negeri yang jarang terdengar namanya", demikian bunda membahasakan kekuatirannya. Berbulan bulan kemudian aku tahu dari tetangga, bahwa bunda termenung menung, tak henti menangis dan tak mau makan sebelum menerima telpon dariku. Kala itu memang berangkatnya cuma berbekal surat panggilan dari NTU dan tak mengenal seorangpun di negeri itu.

Sayangku sebesar apa padanya?.
Ah kamu tak kan paham. Bahkan berderai derai airmata ketika menuliskan ini tak kan sanggup membalas sedikit saja ketulusan di hati bunda. Siang yang basah suatu ketika saat pulang kampung ketika mataku tertumbuk pada jubah manis merah muda di Al fitri tunggul hitam. Toko buku buku islam dan assesoris muslim/muslimah yang selalu kami kunjungi kala liburan semester. Kala itu hujan lebat dan berangin sehingga harus berlama lama di tempat itu. "Suka ya?" tanyanya. "Sangat" jawabku pendek. Beberapa hari kemudian jubah itu menjelma menjadi kado yang sangat istimewa dari bunda. Saat berkesempatan menelponnya dari rantau, beliau ternyata menyiapkan kejutan buatku. "Kamu mau hujan gerimis yang warna apa?" tanya bunda di seberang sana. "Hujan gerimis? apa itu?" sahutku tak mengerti. "Itu loh yang kemaren berwarna merah muda, katanya suka baju seperti itu" sahut bunda kalem. Oh, gamis ternyata maksudnya. Hehehe.. bunda.. bunda... Semenjak itu gamis seperti menjadi kado rutin darinya.

Sayangku sebesar apa padanya?.
Ah kamu tak kan paham. Bahkan berderai derai airmata ketika menuliskan ini tak kan sanggup membalas sedikit saja ketulusan di hati bunda. Bunda sangat romantis dengan kata kata. Selamat ulang tahun ke-18 anakku sayang, begitu tulis ibu beberapa bulan kemudian di kertas khas buku tulis yang dirobek tengahnya. Begitu terus setiap tahun. Sederhana namun indah. Kecuali pada ulang tahun yang ke-21 bunda mengirimi kartu merah jambu. hehe tumben. Mungkin kehabisan buku tulis. Bunda juga yang mengajarkan tentang berbahagia dalam kesederhanaan. Bunda suka memberi hadiah atau oleh oleh. Lucunya, saat liburan semester bunda masih sering membawakan coklat sebagai oleh oleh sepulang beliau mengajar. Bunda seolah olah lupa bahwa aku bukan anak kecil lagi. Ciyeee... sok gedhe. Sepatu yang kupakai kemana mana masa inipun hadiah istimewa dari bunda awal tahun lalu. Hiasan bunga disebelah kirinya suah copot sempurna tapi belum ingin menggantinya. Masih teringat Saat itu dengan malu malu bunda menyerahkannya sambil berkata "Buat kamu, tapi harganya cuma 25 ribu". Ah bunda, siapa yang sanggup menilai harganya cinta.

Suatu siang di Singapura menjadi salah satu saat yang paling indah dalam sejarah hidupku ketika melihat begitu indah binar di mata bunda saat melambaikan tangan dari jauh padaku. Padaku yang sedang berjalan di panggung wisuda yang berisi jejeran 'lecturer yang telah menempaku dengan bekal bekal ilmu dunia 4 tahun lamanya. Padaku yang sedang berdebar debar melangkah menuju pimpinan tertinggi universitas untuk menerima pengesahan gelar sarjana. Begitu cerah wajah ibunda walau nilaiku biasa biasa saja. Bintang kejora di mata bunda kala itu, tak terlupakan. Dan ingin melihatnya selalu. Sungguh!!!

Lamunanku terputus saat langit memerah mengakhiri senja. Langkah kaki menuju Al Falah Mosque di somerset sana. Mesjid yang terletak persis di pusat keramaian Singapura itu sangat nyaman untuk singgah sejenak atau berlama lama. Nuansa perbedaan suasana yang kontras di dalam dan di luar mesjid akan membuatmu kadang enggan pulang. Tak peduli pagi, siang ataupun malam. Semoga suatu waktu berkesempatan menikmatinya berdua bunda. Sekian dulu kisah tentang bunda. Jangan ikut ikutan jatuh cinta. Karena bundalah hartaku yang paling berharga. Dan aku tak ingin membaginya denganmu. Maaf ya...

Ijinkan kututup tulisan ini dengan lanjutan syair dari nasyid yang sama dengan pembukanya: walaupun ummi letih 
mengasuh kami ini 
namun masih tersenyum 
menyejukkan hati
ummiku sayang kaulah srikandi 
semoga Allah kan berkahi

Dari Abu Hurairah R.A. katanya: Datang seorang lelaki berjumpa dengan Rasulullah S.A.W. dan bertanya, "Siapakah yang lebih berhak bagiku untuk berbuat baik kepadanya?" Jawab Rasulullah: "Ibumu" ; "Kemudian siapa?" tanya lelaki itu. Jawab Rasulullah : "Ibumu"; "Kemudian siapa lagi?" tanya lelaki itu ; Jawab Rasulullah: "Ibumu. Sesudah itu siapa lagi?" tanya lelaki itu. Jawab Rasulullah: "Ayahmu

Singapura, April 2005

Jumat, 09 Juni 2006

Hadiah Nya untukku

Ada banyak warna warni, mungkin saat ini KAU pilihkan yang hitam untukku
Ada mentari ada bulan, mungkin saat ini KAU hadiahkan cukup lentera mungil untukku
Ada siang ada malam, mungkin saat ini KAU selendangkan gelap untukku
Ada banyak bentuk rasa, mungkin saat ini KAU buatkan pahit untukku
Ada panas ada dingin, mungkin saat ini KAU selimutkan getir untukku
Ada awan ada hujan, mungkin saat ini masih KAU sembunyikan pelangiMU untukku
Ada tawa ada duka, mungkin saat ini masih KAU didik aku dengan tarbiyahMU
Ah biarlah, tak ada alasan untuk berhenti mencintaiMU...

Selasa, 06 Juni 2006

Tentang (2006)

//ini hasil migrasi blog, 7 Juli 2015. Pindahan dari unisa81.net//

oh well, my beloved http://unisa.f2o.org/ is being SPAMed by 'something'. Let me review my used-to-be-short-term-memory about hmm.. about me?. Pemilik website ini menghabiskan 18 tahun pertamanya di Ranah Minang . Asalnya dari sebuah perkampungan yang dikelilingi sungai-sungai besar nan jernih serta area persawahan nan hijau. Daerah dimana adat, semangat gotong-royong dan kesederhanaan masih berurat berakar. Part time di warung sate kecil-kecilan milik sang kakek sampai lulus SMA,hingga sempat mahir membuat sarang ketupat dari daun kelapa ^_^. Lalu merantau setahun (1999-2000) di institut yang dikelilingi kuda-kuda di Bandung, sebelum akhirnya terdampar di pulau kecil di seberang Batam (2000). Pulau ini dahulu kala bernama Temasek Lulus dari Universitas di pinggir barat pulau tsb, tepatnya di jurusan yang paling banyak komputernya pada Juni 2004. Sempat kerja part time sebagai guru privat anak SD kelas 5 selama beberapa bulan.

Sekarang bekerja sebagai pegawai kontrak di sebuah kantor pemerintah di sana sampai February 2006. Selalunya mencari-cari peluang untuk menetap dan berislam di negeri sendiri namun belum menunjukkan hasil Insan biasa yang sangat banyak khilaf, sedikit amal, banyak kekurangan dan always butuh tausiyah

Minggu, 08 Januari 2006

[Cluster 11]: meniti hari hari di tempat baru (start: 24 des 2005)

Bismillah, daku berada di kota baru, lingkungan baru, teman-teman baru, ukhuwah baru, nomor telpon baru (???). Petualangan dimulai..!

Silaturahmi 3 propinsi

Huff, daku menikmati pelan rembesan air hujan yang membasahi kaos kaki. Dingin euy!! Tapi nampaknya jika hujan saja sudah menimbulkan keluh kesah maka bisa lupa diri atas nikmat-nikmat yang luar biasa melimpah. Terminal Kampung Rambutan penuh sesak oleh manusia-manusia yang mencari celah-celah perlindungan diri dari terpaan angin dan hujan. Kubiarkan saja ibu Kebagusan Raya menggamit lenganku lalu kita berbagi berlindung di bawah sepotong payung yang udah mulai mengkhawatirkan keadaannya. Musti dipegangin atasnya biar tetap mengembang dengan cantiknya (hehe afwan buk, beli payung baru dunk ah!!).

Langkah-langkah kaki mantap mengikuti 4 muslimah di depan kami. Aku pasrah saja dan mempercayakan nasib pada mereka (Kite kan orang baru ceritanyaaa…). Saking pasrahnya diri ini ngikut aja ketika di hari ke-2 kedatangan di Jakarta sudah dibawa jalan-jalan “Silaturahmi 3 propinsi “. Capek ?, waaah bangeeed. Terbukti malamnya daku tidur dengan nyenyaknya di kos an my kembaran setelah sukses menghabiskan seporsi besar pecel lele (nyam nyam…). Tapi capeknya insyaAllah untuk sesuatu yang indah. Diawali dengan silaturahmi ke rumah akhwat super-bijak nun di Tanggerang sana. Maka berbahagialah siang itu daku, my kembaran, adiak-nan-manih dan ibu Kebagusan Raya menghadapi suguhan-suguhan istimewa yang punya rumah. Petualangan hari ke-2 itu ditutup dengan silaturahmi ke Bekasi, ta’ziah di rumah ukhty fillah yang baru saja dapat musibah. Innalillahi wa inna ilaihi roji’un. Subhanallah mbak, ketegaranmu insyaAllah akan menjadi sesuatu yang menancap erat di dalam dada. Daku yakin tidak semua orang mampu sehusnuzhan dan setabah itu dalam hidup. InsyaAllah atas ketabahan melewati ujian ini engkau naik level setingkat dalam pemaknaan hidup.

Tentang kesederhanaan

Begitu banyak metoda pembelajaran jiwa
Begitu banyak cara untuk menjadi dewasa
Begitu banyak cara melecut jiwa agar selalu bersyukur
Semoga langkah tetap selaras dengan niat...
Semoga perbuatan tetap seiring dengan hati dan perkataan...

Al hadid masih menjadi surat favourit dan ayat 20-nya masih menjadi salah satu kesukaan ketika futur melambai-lambai menggoda jiwa. Ayat ini juga yang menjadi hiburan ketika bertemu rupa-rupa realita hidup di Jakarta. Mendendangkan ayat ini mengembalikan kepercayaan diri untuk fokus lagi ke fastabiqul khairat... (Niscaya tidak akan sanggup tanpa bantuanmu yaa teman-temanku..)

Bertemu dan bergaul dengan Jakarta membuatku seperti terjaga dari mimpi-mimpi panjang yang melenakan. Kemewahan yang drastis berganti dengan kesederhanaan. Bukan meratapi pergantian-pergantian parameter kenyamanan. Kamar yang berganti dari 4 kali 5m full AC plus kamar mandi modern menjadi 2,5m kali 2m yang cuma muat tempat tidur, lemari dan sholat buat satu orang. MRT yang sejuk berganti dengan angkot-angkot dan bus-bus tua yang seringkali melaju sebelum kaki sempurna naik atau turun. Kebiasaan membawa kamera dan motret sana-sini ketika di jalan juga tak bisa dilakukan di Jakarta. Kehati-hatian yang musti ekstra kuat ketika berjalan sendiri, membuat ironi. ”Belajar Qana’ah uN”, terngiang kata-kata ibu Kebagusan Raya di hari pertama kedatanganku. InsyaAllah bu!, daku sudah 10 bulan mempersiapkan mental untuk semua ini. Semenjak 15 maret 2005

Jika sesekali mata ini memerih ngilu bukan meratapi pergantian-pergantian parameter kenyamanan itu. Karena sampai saat ini masih yakin diri bahwa nikmat yang dilimpahkan Allah atas diri ini sungguh luar biasa. Jika sesekali mata ini memerih ngilu semata karena ketidakmampuan menyaksikan pergolakan begitu banyak manusia dalam pertarungan dengan waktu untuk tetap bertahan hidup dari hari ke hari. Padang-ku tak semewah Singapura. Namun tak kujumpai di sana drama kehidupan seperih Jakarta. Minggu pertama di sini daku sudah demikian malu...

Malu!!
Karena 5,5 tahun ini masih sering mengeluh atas segala cobaan-cobaan kecil bahkan terhadap hal-hal biasa yang dibesar-besarkan dan dianggap cobaan!

Malu!!
Karena mata ini begitu tertutup dan tidak mampu mengetahui bahwa ternyata standard kehidupan selama ini sudah begitu luar biasa ketimbang jutaan manusia lainnya yang tersendat-sendat untuk sekadar bisa makan

Malu!!
Atas segala keluhan, keluhan dan keluhan. Mengeluh karena begitu banyak tugas kuliah (banyak yang sekolah menengah aja ga bisa neng!), mengeluh karena makanan yang dimakan ga enak (banyak yang ga bisa makan neng!), mengeluh karena dizalimi kawan (Jika temanmu buruk jangan tinggalkan ia, bisa jadi saat itu dia buruk namun di saat lain ia baik, begitu kata Abu Darda), memanglah insan mudah mengingat yang buruk namun suka lupa atas kebaikan orang lain. Mengeluh karena kegemukan (salah siapa coba...!), mengeluh karena nilai kurang bagus dst dst. Malu!!! Karena ternyata 5,5 tahun ini duniaku cuma berputar-putar kuliah, asrama, makan, tidur, dan ibadah yang sedikit. Sibuk memikirkan diri sendiri dengan bergunung keluhan. Padahal seharusnya kita senantiasa menjadi muslimah yang produktif, produktif dan produktif untuk diri dan orang lain. Bukan mengeluh, mengeluh dan mengeluh lalu lupa atas segala nikmat.

Teringat sebuah kutipan singkat...
Ada yang mendapat hidayah dengan membaca
Ada yang mendapat hidayah dengan mendengar
Ada yang mendapat hidayah ketika bercermin dari musibah orang lain
Dan ada yang mendapat hidayah setelah ujian menerpanya
Semoga kita bukan termasuk yang terakhir

...Wamal hayaatuddunyaa illaa mataa’ul ghuruur..


Seminggu aku tidak bisa melihat

Pernah kebayang gak kalau tiba-tiba menjadi buta? Jujur saja daku ga pernah membayangkan itu. Walaupun diri tahu tentang teori-teori betapa mahalnya sehat betapa indahnya sehat dan semua nikmat panca indera serta tubuh.

Malam ini aku terhenyak saat mengunjungi seorang akhwat yang membagi kisah hidupnya. Dia pernah seminggu tidak bisa melihat akibat suatu jenis penyakit yang dideritanya. Penyakit yang kerapkali menyerang bagian tubuh terlemah sewaktu-waktu.

Buta total itu menyerangnya saat dia sedang tilawah. Begini katanya:
”Sedih sekali rasanya saat itu. Bayangkan engkau tiba-tiba tidak bisa melihat al Qur’an yang sedang kau pegang. Engkau tidak bisa melihat apa-apa lagi. Semuanya hitam kelam. Sudah terbayang bahwa aku akan belajar huruf braille, tidak bisa hidup normal dan bayangan-bayangan lainnya. Tapi hati ini paling sedih mengingat bahwa aku tidak akan pernah bisa tilawah lagi. Padahal tilawah adalah hiburan terbesar bagiku. Sedih sekali membayangkan bahwa aku tidak akan pernah bisa membaca ayat-ayat Allah lagi dengan mata ini. Rasanya sedih sekali. Seminggu kemudian ketika alhamdulillah bisa melihat lagi, rasanya syukur tak hingga membuncah-buncah di dalam dada”

Subhanallah... nikmat mata.... Kita sering terlena karena mungkin menganggap bahwa nikmat mata itu wajar, telinga, kaki, tangan, dan organ-organ lainnya. Keterlenaan yang membuat kita sering lupa bersyukur.

...Fabiayyi ’alaa i robbikuma tukadziban...

Dan kisah ini akan terus berlanjut, karena perempuan yang sedang belajar dewasa baru saja memulai petualangan barunya. Do’akan dia ya teman-teman ^_^

Intermezo -About My Kembaran

Pertama bertemu di ketemuan founder komunitas muslimah-IT, satu akhwat bilang kita berdua mirip. Reaksinya biasa-biasa aja. Saat makin banyak yang bilang kita ber2 benar-benar mirip, mulai deh satu sama lain jadi gemar berkaca dan suka saling memuji (hehe dasar…). Takdirpun membuat dia adalah orang yang paling aku repotkan ketika hari-hari pertama.

Gimana bisa mirip ya? Yang satu 100 persen asli urang-awak dari Ranah bundo-kanduang minang-kabau sedang satu lagi Sunda Purwakarta. Selidik punya selidik ternyata memang banyak kesamaan dan yang dipaksakan disama-samain *_*. Mulai dari wajah, karakter, melankolisnya, ekspresi, jenis jilbab, cara berpakaian, jenis Qur’an, merek sabun, ukuran tubuh, porsi makan, makanan kesukaan, waktu makan, cemilan kesukaan, waktu ngemil, tempat makan favorit, makanan-makanan idaman, jenis makanan yang ingin dimakan (loh??
Kok jadi all-about-food??). Tapi yang paling mirip adalah ngambeknya. Dahsyat!! Dan akan semakin parah jika lagi deket-deket Ibunda Umar. Habis dibilang lucu sih, ya ngelunjak deh dua-duanya hehe DEZIGH! Jangan ditiru yah ^_^

Kembaran daku itu sampai hari ini masih sibuk nyariin kos-kosan buat kembarannya tercinta ini. Sementara dakunya diselamatkan oleh umm Umar ke daerah Cipayung.

Terharu deh pokoknya ketika baru dateng akhwat-akhwat keren ini sibuk banget ngebantuin daku buat settled (sampai hari ini). Ada ibu Kebagusan Raya yang ngakunya udah ringkih tapi sibuk nelponin tiap hari, juga akhwat-akhwat M-IT lainnya yang maju terus pantang mundur dengan bermacam alternatif kos-kosan, ada adiak-manih yang dengan gagah berani mengajarkan cara menyeberang yang OK di Jakarta Raya. Menyeberang? Wah perlu banget. Soalnya daku dengan tabahnya and pasang wajah ’please-let-me-cross-happily’ menunggu bus-bus itu melambatkan kecepatan dan melambaikan tangan menyuruh daku lewat (ya gak nyebrang-nyebrang atuh, emangnya masih di Singapuro :P). Adik yang ini daku salut berat deh. Umur saat ini belumlah genap 21 tahun tapi jiwa petualangannya mengalahkan uni nya ini. Melanglang buana di negaranya paman Bush seorang diri sampai sarjana, lalu membulatkan tekad menaklukkan Jakarta saat usia yang begitu muda (waduuw hiperbolanyaa...), dan tidak pernah lupa dengan bahasa Minang with aksen Pariaman yang totok banget itu (hehe punteun Sha!). Gadih minang yang kemana-mana selalu membawa peta Jakarta ini juga dengan gagah berani suka menawarkan jalan-jalan ke tanah abang jika ingin berbelanja. Yah begitulah dia si petualang sejati. Bukan seperti daku yang naik angkot sendirian dari cipayung ke pondok gede aja masih deg-deg an sampai jeduk-jeduk.

Jazakumullah khairan katsiran ya ibu-ibu ^_^. So much love fur akhwat-akhwat muslimah-IT !!! Maju terus pantang mundur!!

Dan kisah ini akan terus berlanjut, karena perempuan yang sedang belajar dewasa baru saja memulai petualangan barunya. Do’akan dia ya teman-teman ^_^



Sabtu, 24 Desember 2005

[Cluster 14] De Javu

Desember 2005



 Malam merayap menjemput hari. Tak ada sinar bulan keperakan memantul mantul di Singapore river seperti di cerita2 fiksi. Yang ada hanyalah lampu lampu kota menyala benderang dengan angkuh. Terkesan bangga akan cantiknya yang semu. Seakan lupa bahwa sinar bulan tetap tak terkalahkan. Cantiknya alami. Walau tak terlihat namun semua tahu bahwa ia ada. Walau tak mencolok namun semua tahu bahwa indahnya abadi. Menawan. Carilah sinarnya di desa bukan di kota ini. Lalu kesederhaan yang memukau itu akan memenjarakan hatimu untuk betah berlama lama membersamainya

 [it's not about the money] 
5,5 tahun belakangan ini dia selalu kesini kala perasaan hati tidak normal. Tempat yang indah, mengingatkan pada kampung halaman yang dikelilingi sungai-sungai besar dengan lebar puluhan meter. Mesjid Mohd Ali terletak under ground, di bawah gedung-gedung perkantoran, hanya beberapa meter dari pinggir sungai. Malam merayap, sebentar lagi mungkin Isya. Bangku bangku di pinggir sungai dipenuhi manusia. Ada yang kelelahan abis jogging, ada yang sekadar berkumpul-kumpul, kebanyakan sedang jepret sana sini. Nun di sebelah kiri berjejer tenda-tenda menaungi sepanjang pinggirian sungai sampai ke ujung jalan. Itulah Boat Quay, salah satu tempat tujuan wisata turis-turis. Disebut Clarke Quay juga. 

Awalnya dia bingung bedanya apa?. Ternyata tempatnya sama. Cuma yang satu adalah di North part of Singapore River. Satunya lagi di South part of Singapore river. Sungai Singapura bersih dan dipenuhi kelap kelip kapal yang membawa pelancong mengarunginya dari ujung ke ujung. Di sebelah kanan Fullerton Hotel berdiri gagah dan mewah. Seperti istana mungil. Disekelilingnya gedung-gedung pencakar langit menjulang angkuh Sesekali kilatan kamera turis-turis dari perahu memantul di keremangan. Mengabadikan kemegahan di pinggir sungai. Kepalanya berdenyar-denyar. Setiap masalah adalah pijakan bagi kita untuk melompat lebih tinggi lagi memang. Yang dia takutkan hanyalah jika sampai lupa bersyukur. Dia memang musti meninggalkan negeri ini segera. Suasananya tak lagi baik untuk ruhiyah. Newton menemukan teory relativitas, tapi seharusnya dia juga menemukan teori sensitivitas. Kadang begitu lelah ketika satu-persatu sekelilingnya mulai menuntut jawaban. Jiwanya tak lagi ada di sini. Orang-orang bilang kalau mau kaya tetaplah disini, but tak semua orang paham bahwa, it's not about the money 


09.00 pm, Tepi sungai, Singapura [Kamu meninggalkanku-1]
Lama-lama perempuan itu sadar, tak mungkin untuk menyenangkan semua orang dan melelahkan untuk meyakinkan semua orang. Lama-lama perempuan itu sadar tidak perlu untuk melakukan itu semua. Dan akhirnya memutuskan bahwa senyuman adalah jawaban paling cukup. Singkat, padat dan sakral. Lagipula, kepala tak mampu menampung banyak hal dalam bersamaan.Teringat sahabat yang lagi di Jakarta bulan ini melengkapkan separuh agamanya. Wah kangen berat. Beliau yang begitu menyejukkan dengan segudang positive thinking dan nasihat2 bijaknya. Dengannya kadang ada hal-hal yang sama-sama manis jika dibiarkan tak terbahas. Dengannya mudah saling memahami bahwa keidealan yang kadang dituntut dan dibentuk oleh suatu golongan tak bisa dipaksakan untuk setiap orang, kembali karena latar belakang, kisah hidup dan keberuntungan setiap orang berbeda-beda. Apalagi mengatakan suatu prinsip yang kemudian malah disalahi sendiri prakteknya. Dengannya tak semua cerita musti mengalir karena kadang ada saatnya bagi jiwa untuk merenung, berfikir dan butuh waktu sendiri. 

Dengannya teori sensitivitas membalur erat dan rapat. Maka sungguh nyaman ketika ada hal-hal tertentu yang tidak saling dibicarakan. Persahabatan yang dihiasi husnuzhon dan penjagaan atas cerita satu sama lain. "Kamu tega meninggalkanku" kata perempuan itu ketika menyadari bahwa setelah menikah tentunya sahabatnya akan ikut sang pangeran ke negeri tulip. "Bukannya kamu yang meninggalkanku", jawab sobatnya kalem "Kamu duluan menetap di Jakarta, bukan aku". Ah ya benar juga. Mungkin kita saling meninggalkan. 

09.00 pm, Tepi sungai, Singapura [Kamu meninggalkanku-2] 
 Huff mana pernah perempuan itu menyangka kalau suatu saat mereka akan terpisah demikian jauh ya? Dengannya masa-masa belajar semasa kuliah terasa begitu menyenangkan. Dan pasti dijamin jatah 500 sms gratis sebulan bakal ga cukup jika sudah sibuk sms-an dengannya. Ah ya, bukan sahabatnya yang meninggalkannya, tapi tepatnya mereka saling meninggalkan. Ia berharap mereka masih akan tetap saling mendoakan ketika saling mengingat satu sama lain.

09.00 pm, Al Falah Mosque [the song that I sing]
Malam memeluk hari, seharusnya sudah Isya dari tadi. Perempuan itu beranjak perlahan. Ah ya, dia sudah memutuskan sesuatu dan setiap keputusan punya aturan main sendiri. The Art of choosing. Seperti hidup yang terus berjalan maka tak ada alasan untuk menyerah kalah dan berhenti. Akan berpisah juga dengan sahabat-sahabat lama. Akan berpisah dengan negeri yang menawarkan begitu banyak kenyamanan. Akan berpisah dengan kemapanan. Maka adalah sebuah tantangan untuk merambah dunia yang benar-benar baru sendirian. Melangkah sendiri adalah suatu keniscayaan dan bukankah dari dulupun demikian. Jadi seharusnya tak ada alasan untuk gentar Baginya ini keputusan berat, namunà cerita perempuan ini akan terus berlanjut...

  /Rupanya begitu banyak yg telah terjadi dalam 2 tahun ini *kangen spore river

Jumat, 23 Desember 2005

[Cluster 10]: Perempuan dan sepotong perpisahan

//ini hasil migrasi blog, 7 Juli 2015. Pindahan dari unisa81.net//

Prolog: puisi dari FLP

Entah hari yang keberapa saat ia termenung menatap pelangi sehabis hujan tadi sore
Bau kayu yang basah menyelusup dalam rongga hidungnya,
Pun tanah yang tak lagi menyisakan retak
Dan semilir angin segar mengelus wajah manis ditepian jendela, lembut

Lalu pada kedua tangannya ia menggenggam sepucuk surat kumal bergaris pinggir merah
Ada hela napas yang terdengar berat ketika pelangi mulai samar terlihat
Akhirnya, berembun juga kabut yang sedari tadi bergayut manja dikelopak matanya

Tertunduk, menatap haru pada lembaran kertas surat bergaris pinggir merah yang bertuliskan
: kebersamaan kita adalah hal terindah dalam hidupku,
lalu berhakkah kita salahkan takdir
bila kebersamaan itu tak lagi memihak kita?


--------- end puisi------

Well,

Ini hari-hari terakhir di Singapura, dan aku merasa kehilangan bakat untuk merangkai kalimat-kalimat tak langsung, puitis, berkias dan melankolis. Kali ini ingin bercerita apa-apa yang terasa tanpa perlu mencari kalimat kiasan dan bahasa yang indah. Ingin menulis selancar aliran air di sungai-sungai di kampungku, secepat ibu ketika mengaduk bumbu-bumbu masakan menjadi rendang yang enak. Ingin meresapi ketukan jari-jari di keyboard dengan sepenuh jiwa seperti ketika aku mendengar musik tari piring lalu meneguhkan dua piring di dua tangan, memejamkan mata dan berkonsentrasi menari mengikuti alunannya (sekarang cuma berani nari di depan akhwat). Mempertahankan keharmonisan, kecepatan dan ketepatan gerakan agar piring-piring tidak jatuh lalu pecah. Bukan hal yang mudah, namun begitu indah. Diriku begitu menikmatinya, menikmatinya dengan sempurna. Dan itulah yang ingin dirasakan saat ini. Menikmati Singapura sampai detail-detail terindahnya.

Bingkisan-bingkisan kasih

Sebuah bingkisan manis berwarna merah jambu. Bingikisan pengikat jiwa. Syukran alal hadiah al jamilah ya ummi Nida, ummi Zahra, ummi wafa and ummi Aisyah. Jazakumullah khairan katsiran. Arigatou banged deh. Cakep!!! Mohon do'anya supaya tetap teguh dan istiqomah di tempat yang baru.

Dan, ah masih banyak lagi. Sebuah kotak mungil dari adik mungil di NTU sana, eits jangan salah, mungil-mungil gitu mahasiswi Phd loh. Kebanting deh unina. Beserta sebuah puisi manis tentang.. ehm, seorang perempuan.

Berbicara tentang bingkisan, sungguh rasanya syukur tak terkira kepadaNya. Aku dianugerahi lingkungan yang manis dalam menjaga dan mengekspresikan ukhuwah. Dari dulu sampai sekarang tak terhitung banyaknya paket-paket mungil bersampul ukhuwah dan berbalut sayang yang dikirimkan lewat hati-hati yang tentunya senantiasa berkumpul karena Allah semata. Ada adik lucu yang hobinya membelikan hadiah tanpa pandang harga dan situasi, bahkan pernah menyeretku ke Paya lebar untuk memaksaku memilihkan sebuah gamis untuknya, pilihanku jatuh pada gamis manis hijau lumut dan jilbab senada, yang ternyata untukku.

Ada gadih minang nan elok budi yang pernah menghadiahi buku resep masakan nusantara (Ondeh uni, barajalah mamasak lai). Belum lagi perhatian, kasih sayang dan kepeduliannya yang tentunya tak bisa diukur dengan materi. Selalu siap, selalu ada bahkan ketika aku berada di puncak keegoisan dalam menapaki hari-hari. Ada juga another gadih minang sarjana teknik sipil NTU, yang kerap mengirimi bingkisan mungil atau sekedar menunjukkan wajah cerah seperti taman bunga. Bahkan tanpa diduga-duga mengisi pulsa telefonku di saat-saat sekarat, saat saldo ditabungan tinggal beberapa puluh dolar. Atau uni-ku di bukit batok sana yang nampaknya tak kenal lelah setiap kali aku datang dengan segudang perasaan, persoalan dan kepenatan. Selalu tersenyum, selalu mendoakan dan selalu sabar. Ondeh, di rantau iko ruponyo urang sakampuang lah manjadi sanak se sadonyo… Alhamdulillah. Denai simpan rindu nan jo taragak, semoga awak basuo baliak nantinyo dalam kondisi iman yang labiah baik yo ummi Zahra.... Amin…

Ah siapa lagi yang musti kusebut? Begitu banyak nama dan peristiwa berkejaran di kepala. Ada sajadah merah, indah luar biasa di hari saat usia berkurang. Dari dua sosok yang selalu menolak disebut romantis. Padahal yang satu adalah adik manis yang suatu hari langsung meluncur ke Raffles place begitu tahu aku sedang 'memikirkan' sesuatu yang 'berat'. Sosok yang dibalik diamnya selalu berusaha memikirkan yang terbaik untuk keluarganya, teman-temannya dan sekitarnya. Sedang yang satunya lagi adalah seorang akhwat yang pernah berkutat 4 hari di kamar dan tidak pergi kuliah, untuk menemani aku yang sedang sakit dan tidak bisa bangun. Seorang akhwat yang baru kukenal namun darinya aku banyak belajar tentang pengertian, kesabaran, ketulusan dan kedewasaan dibalik keceriaan yang dia tebarkan. Seorang akhwat yang baru kukenal namun punya kepribadian yang begitu kokoh, ibadah yang bagus, luar biasa cerdas dan punya wawasan yang luas.

Suatu malam di bulan april aku terluka parah dan merasa remuk redam. Aku memberitahunya. Beliau yang seharusnya bolos kajian Sirah nabawiyah untuk mengejar tesis, malah memaksakan diri datang menempuh 1,5 jam perjalanan dari kampus untuk menemaniku yang malam itu begitu tidak focus dengan penjelasan ustadz tentang peristiwa2 uhud. Kedewasaannya membawaku pada suasana diam sepanjang jalan membiarkan hati sembuh sendiri. Lalu dengan bijaknya malam itu dia tidak langsung mengajakku pulang namun malah membawa ke sebuah taman lalu kita duduk di sebuah bangku memandang langit malam. Dia diam, akupun diam, namun lama-lama tangispun pecah dan dia tetap diam sama sekali tidak menghibur. Membiarkan aku meredakan sesak yang merajam-rajam sambil sesekali mengusap punggung atau memeluk. Saat hujanku luruh menjadi gerimis, dia yang ibadahnya berkali-kali lipat jauh lebih sempurna ini berkata lirih sambil tersenyum bijak:

"Sudah reda tangisnya? Coba lihat ke atas sana. Di langit sana?" akupun mengikuti arah tunjuknya. Lalu dia meneruskan:
"Di langit itu ada bintangnya Reni, bintang yang sangat indah dan terang. Dan bintang itu milikmu. Sekarang mungkin tidak kelihatan dan langitnya sunggguh gelap. Namun yakinlah, lihat saja terus ke langit itu, lihat saja terus dan terus. Suatu saat dia pasti muncul karena saat ini mungkin sedang tertutup awan" Dia tersenyum, lalu diam kembali dan tidak mengatakan apa sampai akhirnya kami pulang menjelang tengah malam.

Ya, itulah dia. Seorang yang dengannya aku merasa menemukan sparing partner, teman diskusi terbaik, merasa tertantang untuk bertambah pintar, dan merasa terlengkapi dalam jalur-jalur pembahasan yang berat. Seseorang yang membuatku sedih karena entah kenapa kesibukan membuat kita menjadi jauh, jarang bersua dan jarang berbicara.

Suatu sore di tepian Raffles, ketika bibirku benar-benar terkunci namun hati benar-benar rindu padanya, rindu berdiskusi seperti dulu, aku menanyakan kabar akhwat itu lewat seorang ukhty fillah. Bagaimana kabar terakhirnya, apakah dia lagi bermasalah, bagaimana keadaan dunianya, materinya, hatinya, ibadahnya dst dst. Ukhty fillah tersebut berbicara padaku dengan suara yang lirih..
"Hanya keadaan yang membuat kalian tiba-tiba kehilangan banyak kesempatan untuk banyak-banyak berdiskusi lagi. Setelah pembicaraan yang panjang dengannya, aku tahu dan aku yakin bahwa kalian berdua, demi Allah… saling mencintai, saling menyayangi dan saling peduli. Dia selalu menanyakan kabarmu, setiap hari dan aku tahu engkaupun begitu. Demi Allah kalian saling menyayangi dan kalian berdua adalah sosok yang akan sangat kuat jika digabungkan. Menghasilkan energi yang besar ketika pemikiran dan ide-ide disatukan. Percayalah, hanya keadaan yang membuat kesempatan itu terasa hilang. Demi Allah, kalian saling mencintai. Kalian benar-benar saling mencintai"
Dan air mataku menderas seperti hujan. Hatiku gerimis namun ada lega yang menghasilkan pelangi.

Begitu banyak nama yang begitu susah kueja satu persatu untuk mengingat segala kebaikan-kebaikan mereka. Mencari teman di kala senang adalah hal yang gampang, namun menemukan teman di kala susah tidaklah mudah. Dan aku benar-benar pernah berada di titik terendah dalam kelemahan diri, kelemahan hati dan kemiskinan materi. Dan mereka, tak pernah pergi. Begitu banyak nama yang begitu susah kueja satu persatu untuk mengingat betapa pada banyak kesempatan tentunya aku telah menorehkan banyak salah dan alpa. Maafkan, maafkan… jika sering terlalu egois diri sehingga terlupa mengatakan 'apa kabar cinta' saat sebenarnya kau ingin ditanya. Khusus untuk phepi, dinciw, ratih dan neng Lia, teman-teman serumah, sehati, sejiwa di muslimats apartemen, maafkan jika tiba-tiba aku mengeluarkan jurus ngambek yang dahsyat. Atau maafkanlah jika di atas jam 12 malam tiba-tiba menjadi manja ga karuan, minta ditemenin tidur, merajuk, minta ini-itu atau suka ribut tak tentu arah.

Begitu banyak nama yang begitu susah kueja satu persatu untuk mengingat segala kebaikan-kebaikan mereka. Duhai kawan, jika namamu tak tersebut secara tersurat ataupun tersirat dalam tulisan kali ini bukan karena aku lupa pada engkau sekalian. Justru saat ini aku sedang memandang foto-foto pertama kita di tahun awal di NTU. Mengingat-ingat segala pembelajaran jiwa yang kita alami bersama-sama. Aku tumbuh bersama engkau wahai saudari-saudari terkasih. Saudari-saudari yang terasa begitu erat ikatannya dalam aliran darah. Karena, ikatan ini lebih dari ikatan darah yaitu pautan hati karena rahmat dari Allah. Duhai kawan, jika namamu tak tersebut secara tersurat ataupun tersirat dalam tulisan kali ini bukan karena aku lupa pada engkau sekalian. Justru karena tangan ini semakin bergetar dan airmata menderas, sehingga aku memilih untuk tidak meneruskannya. Memilih untuk tidak melanjutkannya dalam untaian kata. Seandainya bisa berangkat ke Jakarta tengah malam ingin rasanya hati, biar tidak usah melihat wajah-wajah terkasih kala perpisahan.

Gerimis hatiku ketika acara perpisahan, farewel dinner dengan teman2 seteam di kantor atau lunch dinner dengan teman-teman kantor berkebangsaan Indonesia, tak ada apa-apanya dibanding sedihku berpisah dengan dikau semua. Membayangkan bahwa keterbatasan materi membuatku tidak akan segampang dulu lagi mengirimkan sms ini itu ketika tiba-tiba mendapat inspirasi kalimat-kalimat yang indah atau bertemu nasehat-nasehat yang memikat hati. Dan tidak bisa tiba-tiba mengangkat telpon lalu saling berbicara berjam-jam lamanya. Namun kalian kuletakkan di dalam hati, tidak di pelupuk mata. Jadi walau sudah tak tampak lagi secara fisik, insyaAllah kekal adanya dalam ruang-ruang hati.

Tak hanya muslim saja

Satu bab di Ayat-ayat cintanya Kang Abik memberiku pencerahan yang indah tentang pengaturan hubungan dan sikap kita yang semestinya terhadap non-muslim. Subhanallah, andai semua non-muslim di dunia mengetahui bahwa ada aturan yang manis dan perlindungan yang indah dalam hubungan terhadap non-muslim dibawah islam yang bercahaya. Sampai sekarang juga : Kingdom of Heaven" yang mengisahkan keharmonisan King Baldwin dan Salahuddin al Ayubi dalam batas toleransinya yang mempesona, begitu terukir di hati. Islam sungguh indah! Terutama bagi yang makin memahaminya. Maka aku tak heran lagi jika menjumpai banyak teman-teman non muslim yang kadang lebih islami dari kita yang muslim. Dalam hal kebersihan, kedisiplinan, menghargai, membantu dst dst.

Beberapa jam yang lalu aku meninggalkan computer untuk bertemu ummu Iffah di Somerset MRT. Beberapa saat kita berbincang tentang hidup, kehidupan, paradigma, ketabahan, perjuangan dan nasehat-nasehat. Keakraban yang baru saja terjalin (makasih ya mbak atas sokongan ketegaran jiwa dengan celetukan-celetukan ringan dan segar yang tanpa mbak sadari justru sering membuatku tegar berlipat-lipat). Ketika kembali ke kantor aku mendapati sebuah ucapan singkat di kertas notes berlabel kantor ini:
Reni,
Good Luck!!
All the best in your dream work!



Saat kucari kemana orangnya ternyata sudah pergi ada briefing sampai malam. Dan subhanallah aku menangis. College yang ini (sejatinya baru berumur 27 tahun) adalah yang paling sabar membimbing masa-masa sulit di awal-awal ketika baru masuk kantor. Dia menempati tempat yang istimewa dalam segi penghormatan, respek dan rasa seganku. Segan atas kebaikan dan bimbingannya. Hormat atas perlakuannya yang sopan dan terjaga. Suatu hari dia memberi penjelasan panjang lebar ketika aku begitu bingung dengan macam-macam kejutan di kantor. Penjelasan yang menenangkan.

Dia memang buddy-ku, ditugaskan untuk membimbingku. Namun dia tidak sekedar membimbing secara teknis, tapi juga mampu menggali potensi-potensi dalam diriku dan membuatku terus merasa nyaman, percaya diri dan merasa begitu dihargai. Saat menyadari bahwa aku akan meninggalkan kantor ini, dia yang pertama kuberitahu dan dia berkali-kali datang menanyakan kabar, mengucapkan selamat, menanyakan detail dst dst dalam batas-batas yang terjaga. Bahkan penghormatannya padaku sebagai seorang muslimah kadang mencengangkan, tentang toleransinya terhadap waktu sholat dan sisi-sisi sensitive peribadatan lainnya. Dan berikut adalah kalimat balasannya ketika aku mengucapkan terimakasih yang tulus atas segala bantuannya:
"I am just glad that I have manage to help you in any ways. I am happy for you that you found your dreamjob =), workhard Reni!!! And who knows we may work together again"

Dan tahu apa reaksiku. Kembali air mata menderas. Ups moga-moga aku hati tidak mengaguminya melebihi batas yang dibolehkan, (Astagfirullah al adzim, Istih!! Gimana nih!!). Gawat juga nih, coba kalau yang seperti itu muslim, waduh hati ini bisa ketar ketir. Aku gak kebayang teman-teman akhwat yang bekerja di Indonesia dengan teman-teman muslim dimana-mana. Hebat!!! Aku mulai kurang yakin dengan diriku jika bekerja di Jakarta ntar. Duh, kayaknya aku musti cepat-cepat nikah nih (hehehe nyari-nyari alasan)

Subhanallah nampaknya sisi-sisi melankolisku lagi mendominasi. Padahal tadi malam ketika membahas habis-habisan dengan mb Phepi, roommate, tentang 4 sifat manusia (sampai setengah 4 pagi!!!) aku meledek dia habis2an diatas sifat melankolisnya yang gedubraks-gedubraks. Tapi ternyata, aku...

Saat perpisahan tiba

Sudah hampir pukul 4 sore. Dua jam lagi aku harus mendelete semua file pribadi di computer, mematikannya dan melenggang meninggalkan kantor ini untuk yang terakhir kalinya. Dan, ah ya mendekati Istih!! Mengembalikan buku "Diary Pengantin" yang kemaren dipaksa dipinjamkan dan musti tamat dalam sehari (Moga2 ga ada maksud-maksud terselubung heheh).

Itulah hal terberat yang harus aku lakukan sore ini. Berjalan ke meja Istih, mengembalikan bukunya. Ya Allah, apa yang harus aku katakan. Kepada beliau yang seakan ditakdirkan untuk bersama-sama terus dari tingkat 1, belajar, di kampus, mengenal dakwah, belajar dewasa bersama, merasakan jatuh bangun persahabatan, pahit manis ukhuwah, tangis, suka, duka, bahkan setelah lulus kantorpun sama, selantai. Masa-masa perkuliahan seakan baru kemaren. Saat kita kabur ke rumah makan Padang sehabis tugas robotic serasa kemaren. Saat mendesign website nikahnya, mendengarkan cerita-ceritanya, saat gembira ketika dia juga diterima di kantor ini. Makan siang bareng, ke mesjid bareng, menggosip di sela-sela waktu kantor, pulang bareng, bahkan menemaninya saat-saat hamil mudanya ketika sang suami musti jauh di rantau demi sebuah tugas. Saat berdiskusi tentang konsep-konsep dakwah, ukhuwah, persahabatan, kepedulian, bahkan tentang rumah tangga! Lima setengah tahun, benar-benar bukan masa yang singkat.

Tadi pagi dia menyodorkan dua foto. Foto 5,5 tahun yang lalu, ada belasan wajah di sana. "Coba liat kamu tingkat 1. Jeleeeek dan cemberut, serem!" katanya singkat. Aku tersenyum simpul. TENTU SAJA!. Kalianlah yang telah mengubahku wahai sahabat. Kelembutan kalianlah yang perlahan menorehkan tinta-tinta manis dalam persepsiku memandang dunia. Dalam 5,5 tahun terakhir aku lebih banyak tersenyum, ceria, tertawa, lebih husnuzhon, walau mungkin dibanding antunna semua tetaplah aku yang paling galak dan super plin-lan (hehe, tapi tayank dunk yaaa). Antunna semua yang membuat aku (merasa) diriku lebih berarti, diperlukan, dan memerlukan (dasar deh, sanguinis sejati !!!). Dan dari engkau semua aku belajar tentang kehangatan dan bahwa hidup ternyata begitu indah ketika kita saling sayang. Dari antunna semua aku merasakan bahwa level ukhuwah yang engkau tawarkan tak lagi pada level Salamatus sadr, tapi sudah pada level Itsar. Subhanallah, Allahu akbar. Betapa indah karuniaNya.

Lalu apa yang akan kukatakan pada ibu hamil itu 2 jam lagi? Pada dia yang begitu banyak berjasa menentramkan batin ketika diri berada dalam keadaan terlemah baik lahir, batin bahkan materi! Pada dia yang di jaman kuliah adalah orang pertama tempat berbagi catatan, pelajaran, sekolah, kuliah, ilmu-ilmu agama sampai bahasa arab. Pada dia yang mengaku tidak bisa romantis namun menunjukkan cinta dengan cara yang berbeda. Pada dia yang setiap pagi kutemui sebelum memulai pekerjaan sekedar melayangkan senyum dan melambaikan tangan. 5,5 tahun bukan masa yang singkat bagi kita untuk saling mengenal dan jika aku disuruh menyebutkan nama siapa yang paling tahu diriku dan segala keburukan-keburukannya yang dahsyat dan banyak banget, tentu namamu yang akan aku sebut. Apa yang harus kukatakan? Aku takut air mata ini menderas lagi sebelum kalimatku abis. Gengsiku yang tinggi membuatku tak ingin terlihat cengeng. Dan karena itu jugalah aku melarang beberapa orang yang begitu berarti bagiku untuk mengantar ke bandara. Aku takut menghadirkan hujan di depan mereka. Gengsi dan malu.

Apa yang harus kukatakan? Oh mungkin ini: "Istih, aku besok siang terbang ya. Ini bukunya. Diary pengantin. Aku dah baca loh, bagus deh =) Moga-moga kamu belajar banyak hal dari buku ini dan aku juga. Udah 6 bulan nih si dedek, jaga kesehatan yah, jangan pulang malam-malam. Kirim-kirim email ya ke email yang di Gmail. Kalau ponakanku dah lahir unina musti dikabarin yah. Maafkan atas kesalahanku yang tentunya sudah tak terhitung banyaknya selama 5,5 tahun ini. Maafkan atas segala keegosian yang tentunya demikian bertumpuk-tumpuk dari hari pertama engkau mengenalku. Maafkanlah aku. Semoga Allah selalu mengukuhkan iman di hati-hati kita. Karena iman adalah nikmat terpenting yang kita punya. Semoga iman yang setipis kulit bawang ini senantiasa terpelihara dan bertambah kokoh. Dan ukhuwah ini akan menjadi salah satu kenangan yang paling indah untuk kita kelak, untuk anak cucu kita dan penerus-penerus kita. Semoga catatan sejarah persahabatan kita semua bukan sekadar mencari keindahan dunia, tapi ditujukan untuk mencapai surga. Dan kita akan semakin tertata saat kita tidak jemu memaknai bahwa setiap tempat adalah tempat belajar dan setiap waktu adalah kesempatan untuk berbenah diri"

Selamat tinggal sahabat-sahabat terkasih. Apalah artinya jarak fisik untuk hati-hati yang saling mencintai karena Allah. Kenangku di dalam do'amu. Maafkan dan do'akan aku setiap kali kita saling mengingat. Demi Allah, jika saat ini air mata ini mengalir deras, insyaAllah bukan karena aku menangisi perpisahan. Tapi justru air mata syukur atas keindahan persaudaraan.

Lalu alunan Emilia tiba-tiba saja melesat dikepala ketika aku memutuskan untuk menghentikan tulisan ini:
But I do do will
But I do do feel
Miss you much…
Miss… you much



uNi: Istiiii... aku mau boneka iniii.. beliiiin..
istih: ih, kamu ini.. udah mau punya ponakan juga



Malam terakhir dengan teman serumah

Di rumah ini kita berlima saling mengenal
bercanda..
tertawa...
memutuskan saling cinta...
saling sayang...
dan belajar dewasa bersama....

Dan aku akan selalu rindu....
menyontek syair arab....

Sahabat, apakah engkau melihat bulan sabit yang bersinar itu?
Sungguh engkau tempat dan cahaya yang tinggi
Sahabat, pernahkah kau berjalan-jalan diantara taman-taman?
Sungguh engkau lebih indah dari burung-burung


Uhibbukum Fillah...




Komentar


ichal :: [E-Mail] [Web] Hai uni, jumpa lagi ya... aku dah pindah blog sekarang...


dany wicaksono :: [E-Mail] [Web] Tumben Ukh, ada photo di blog ini :)


dany wicaksono :: [E-Mail] [Web] jadi agak ngga nyaman baca blognya, soalnya sambil nunduk2 nih :)


uNi :: [E-Mail]  dear tmn2 di Singapura, daku ganti nomor ke XL, nomornya tanya ke tmn2 di plet 664D ya =). makasih... maap ga di sms in satuh2


yumni :: [E-Mail] [Web] teristimewa untuk Mu

teruntuk insan-insan yang kusayang
ada yang ku cinta kerana senyum nya
ada yang ku jatuh cinta pandang pertama
juga ada yang setelah mengenal jiwa raga
berguling-guling hatiku menahan rasa

teristimewa untuk insan-insan yang ku kasih
ada yang ku kasih kerana kasihnya pada Tuhan
mengetuk-ngetuk pintu hatiku dengan bait-bait agung
melihat mereka taqwaku jadi malu
imanku terserlah kurus
berbanding dengan kemantapan cinta di hati mereka
asyik dengan kalimah ALLAH itu sempurna
maka apa perlunya cinta selainNya?

teristimewa untuk Allah
Kekasih sesiapa yang menjadikan Dia Kekasih
merindui secara batin akan WajahNya
merangkak ke syurga kerana di situ Dia ada
sanggup ke neraka jika di situlah Dia
cinta si Rabiatul Adawiyah menekan jiwa
merasa ni'mat solat sunnah hanya kerana Dia
asyik dengan halawatul iman setelah sabar menanggung ujian
setelah air mata taubat mengalir deras tak mahu henti
hidup di dunia seperti mati kerana jiwa sudah ke sana
melayang-layang mengetuk-ngetuk pintu-pinti rahmat ALLAH
pohon simpati meminta sedekah, cinta,perhatian dari Al Quddus

Oh Tuhan! terlalu banyak ni'mat yang perlu ku syukuri
terlalu banyak titik hitam yang perlu ku suci
terlalu jauh penat lelah ranjau istiqamah
tapi aku terlalu ingin melihat WajahMu
lalu bangun menyempurnakan Taubatku
lalu menerangkan indahnya KashMu
pada insan lain dan juga diri sendiri
kami semua rindu padaMu!!!

oleh sakinah utk adeq tersayang

Minggu, 18 Desember 2005

[Cluster 7]: [revised] Bukan cinta benalu

//ini hasil migrasi blog, 7 Juli 2015. Pindahan dari unisa81.net//

Ada sosok-sosok dengan jiwa-jiwa yang mengagumkan bertebaran di sekeliling saya. Sosok-sosok yang tidak hanya hadir ketika matahari kehidupan bersinar cerah. Namun mereka juga hadir ketika langit hitam dan awan retak retak. Menawarkan kehangatan, menenangkan, menangis bersama, sekadar mendengarkan dengan sabar berjam-jam atau melesat bagai anak panah menembus jarak-jarak yang jauh ketika saya dirundung duka lalu menyodorkan bahunya sehingga kesedihan bisa menjelma seketika menjadi senyuman. Senyuman yang begitu indahnya.

Di depan mereka saya kadang-kadang merasa begitu minder. Merasa kalah dan tertinggal jauh dalam fastabiqul khairat. Dalam hal ini cukuplah goresan saya membicarakan tentang kualitas muamalah di luar konteks peribadatan kepadaNya. Walau saya percaya untuk soal yang inipun saya jauh tertinggal di belakang mereka.

Banyak hal-hal kecil yang mereka lakukan tampak biasa-biasa saja, namun terasa begitu menyentuh jiwa. Misalnya selalu ada saja yang ingat dan mengirimkan do’a ketika saya sedang mempersiapkan diri untuk hal-hal kecil yang wajar saja adanya, seperti ketika bersiap menghadapi ujian di kampus, ada benda-benda yang rusak, hari pertama masuk kerja bahkan tentang perkembangan urusan-urusan kecil yang sedang ditangani. Maka email-email, telpon dan SMS-SMS dari mereka tak pernah berhenti mengalir walau saya tak pernah merasa mampu membalas kepedulian mereka walau ingin sekali berusaha sekuat tenaga.

Kadang ketika bertemu wajah-wajah tulus itu ingin sekali hati berkata, wahai saudara-saudariku, maafkan kalau selama ini sering terlalu apatis dan tidak peduli walau sudah berusaha setengah mati. Maafkan jika terlupa hari ujianmu, lupa hari interviewmu, lupa hari-hari pentingmu atau tidak menanyakan "Apa kabar, cinta?" saat sebenarnya kau ingin ditanya. Maafkan aku. Sungguh, aku mengharap kita akan terus bergandengan tangan selamanya.

Padahal kejelian kita memanfaatkan hal-hal kecil dalam memberikan perhatian telah terbukti sebagai resep yang istimewa untuk merekatkan ukhuwah dan keberhasilan dakwah.
 Adalah Imam Hasan Al Banna yang tidak pernah melupakan nama ikhwan-ikhwan yang pernah ia temui. Tidak hanya nama juga informasi-informasi lainnya sehingga sang ikhwan yang ditemui lagi suatu masa di kemudian hari begitu tersentuh oleh hal tersebut. Adalah Rasulullah sendiri yang begitu cerdasnya menyentuh hati Adas -seorang Nasrani (ketika Rasulullah berlindung di kebun anggur milik dua saudara 'Uthba dan Syaiba) dengan menghubungkan antara daerah asal Adas dengan Nabi Yunus bin Matta. Maka bagi saya begitu berharganya buku “Sentuhan hati penyeru dakwah” karya Abbas As-sisi, yang tentu saja banyak mengupas tentang bagaimana cara-cara menyentuh hati. Semoga Allah merahmati penulis buku ini yang beberapa bulan yang lampau telah pergi menghadapNya.

Perasaan ini masih terbalut iri dengan ketangkasan sahabat-sahabat terbaik di sekeliling saya dalam mencurahkan perhatian terhadap hal-hal kecil dengan begitu indahnya. Apalagi saya tahu tindakan itu mereka lakukan spontan dari ketulusan jiwa . Rasanya malu sekali.

Saya malu karena rasanya belum mampu berbuat seindah itu. Saya malu dengan pembenaran atas segala keterbatasan-keterbatasan. Pembenaran yang mengada-ada dan justru semakin membuat malu. Ditambah lagi oleh sifat yang pelupa. Saya benar-benar hampir memutuskan untuk menyerah saja .

Namun kemudian suatu peristiwa menyadarkan saya bahwa saya tidak seharusnya berhenti berusaha untuk menjadi lebih baik dalam persahabatan (dan tidak lupa mempraktekkannya!, itu yang paling penting). Karena ternyata hal-hal kecil yang kita lakukan dan telah kita lupakan bisa jadi ternyata membekas erat kepada orang lain. Karena itu janganlah pernah berhenti memperindah ukhuwah dengan sentuhan-sentuhan kecil yang insyaAllah akan menjadi kekuatan besar.
Bagi saya, sahabat adalah anugerah;
Karena mereka tak hanya menasehati kita namun saya berharap juga memaafkan dan tak henti menasehati kealpaan kita.
Bagi saya, sahabat adalah amanah;
Karena ternyata butuh penjagaaan yang serius agar tetap indah selamanya. Menjadi seorang sahabat butuh empati, pemahaman terhadap perasaan orang lain, hal yang tidak mudah dan sering kali kita (saya) tersalah.

Bagi saya, sahabat adalah inspirasi;
Karena sosok-sosoknya sering kali membuat kita mengingatnya, merasa takjub akan gema dari jejak langkahnya, sering merasa iri karena belum mampu melompat tinggi sepertinya. Bahkan tak jarang merasa begitu kerdil karena dibanding mereka terlalu banyak hal yang tak dapat lagi saya lakukan, telah saya tinggalkan, telah meredup atau bahkan telah hilang dari hidup saya, semata karena halangan-halangan duniawi yang sungguh tak berarti kelak.

Walau saya sering merasa kalah, namun saya tidak boleh berhenti berusaha. Banyak sahabat mengalahkan saya tidak saja dalam hal perhatian-perhatian kecilnya namun juga dalam cara dia memaknainya dan cara dia mengekalkannya. Yang jelas menurutnya ukhuwah kita bukanlah cinta benalu, yaitu cinta yang pupus seiring berlalunya waktu

Percayalah, dibalik segala kesalahan, sahabat sejati tak pernah bersungguh-sungguh ingin menyakiti sahabatnya.

[Cluster-2] Teringat negeri seribu mesjid


//ini hasil migrasi blog, 7 Juli 2015. Pindahan dari unisa81.net// 

tulisan lama: 18 des 2005 , ditengok kembali sbg renungan atas bertubi2nya Jogja, sinjai dan sekarang Pangandaran. Setelah ini…?

Sudah lewat tengah malam waktu Singapura kala itu. Lima pasang mata menatap layar televisi dengan gejolak hati yang bermacam-macam. Namun saya yakin semuanya bermuara pada satu titik rasa walau berbeda cara pengungkapan dan pengekspresiannya. Ibarat karya sastra yang multitafsir, demikian juga raut muka dan gejolak jiwa. Channel news Asia memutar tayangan documenter tentang ledakan krakatau 26-27 August 1883. Salah satu bencana alam terbesar dalam beberapa abad ini. Layakkah disebut bencana jika pada hakikatnya itu adalah hukum alam yang sekadar berjalan mengikuti aturan dan sifatnya. Lalu yang menjadi pembeda apresiasi kita atasnya adalah bagaimana mengubah paradigma tentangnya dan menghubungkannya dengan konsep ketundukkan, kepatuhan dan kehambaan di hadapanNya.

The eruption of Krakatau (Krakatoa) in 1883 created the largest explosion ever heard and produced tsunamis which killed more than 30 000 people. Bunyi letusannya terdengar sampai ke selatan Australia dan kepulauan di sekitarnya. Debu-debu panas berhamburan, maka pesisir barat pulau Jawa laksana dihiasi hujan salju. Salju semu yang membakar. Ombak setinggi awan menyapu dan menghempaskan apa saja yang dilewatinya. Mercusuar seperti dipenggal dan roboh seketika. Semburan gas beracun merenggut ribuan jiwa. Manusia-manusia yang lemah berhamburan kemana-mana tak tentu arah. Daratan seketika berubah menjadi lautan dangkal untuk kembali surut. Keseketikaan yang maha dahsyat.                                                                                                          

Sudah lewat tengah malam waktu Singapura kala itu. Lima pasang mata menatap layar televisi dengan gejolak hati yang bermacam-macam. Narator membahas fenomena tersebut dari segi ilmu pengetahuan dengan ilustrasi-ilustrasi yang menggetarkan jiwa. Lima sosok jiwa tak mampu berkata-kata. Seperti sejarah yang kerap kali mengulang dirinya sendiri. Maka saat inipun turunannya Krakatau akan terus hidup, membesar dan berkembang dan mungkin menunggu saat juga untuk memuntahkan isi perutnya. Mulailah kembali teringat bahwa dalam kitabNya tertulis akan ada hari yang lebih dahsyat dari itu.

Gunung gunung belumlah di hamburkan…
Bintang bintang belumlah berjatuhan…
Lautan belumlah sempurna meluap..
Matahari belumlah digulung…

Langit belumlah terbelah…
Bumi belumlah memuntahkan semua isinya…
Belum… belum diguncangkan dengan sempurna
Ketika seharusnya saat itu benar benar tiba…

Belum.. belum apa apa…
Dibanding hari yang Kau janjikan
Tapi kami sudah menggigil begini hebat
Masih punyakah alasan untuk sombong dan tidak tahu diri?

Sudah lewat tengah malam waktu Singapura kala itu. Lima pasang mata menatap layar televisi dengan gejolak hati yang bermacam-macam. Narator menyajikan cuplikan documenter edisi pekan mendatang, yaitu Asian Tsunami, yang memporakporandakan berbagai daerah di Asia termasuk Aceh, negeri seribu mesjid. Tindakan-tindakan, aksi-aksi, uluran tangan, tulisan dan do’a seketika menghambur dan mengarahkan perhatian pada satu titik di ujung sana, negeri seribu mesjid. Duka, duka dan duka menggantung di langit dan menaungi wajah-wajah yang masih terpana dalam kekagetan di sana, negeri seribu mesjid.

Tangan inipun tak mampu mencoba memetakan tentang apapun yang didengar, dilihat dan dirasakan tentang satu episode yang menggayut di sana, di negeri seribu mesjid. Semoga ya semoga berapapun insan yang tersisa dan bagaimanapun terkoyak jiwa yang ditorehkannya, semoga azan-azan tetap berkumandang indah di langit sana, di negeri seribu mesjid. Semoga kaki-kaki tak pernah enggan melangkah meramaikan majelis-majelis ilmu di sana, di negeri seribu mesjid. Semoga pemuda-pemudi serta seluruh penghuninya selalu tegar hati dalam balutan kekokohan jiwa untuk terus melangkah, bersujud, syukur dan sabar sehingga mampu mengubah luka yang duka menjadi senyuman semanis gula dan gerak langkah yang nyata. Gerak langkah yang merupakan perwujudan proses pengumpulan point menuju hari yang pasti.

Tangan inipun tak mampu mencoba memetakan tentang apapun yang didengar, dilihat dan dirasakan tentang satu episode yang menggayut di sana, di negeri seribu mesjid.
Ngeri, jeri
Hilang kata

Mengenang hampir setahun tsunami Aceh,
uNisA@5 hari terakhir di Singapura…