Sabtu, 15 Agustus 2015

Matahari

Selesai dipatahkan dan matahari berlalu, daun-daun itu, layu dan kering.
Namun dia tahu, matahari tidak cuma satu, pasti tidak satu.

*Delft lagi sendu berat, gak ada matahari ~_~

Kamis, 13 Agustus 2015

Teko's in de Holland [Adegan 10]

Teko's in de Holland
Adegan 10
[Eksperimen gulai ayam]
Lokasi : dapur
B : ayo cobain, udah enak belum?
H1 : enak, tapi kurang pedas
B : (tambahin cabe besar, aduk2, bbrp menit kemudian) ayo cobain lagi.
H1 : enak, udah mulai mirip ama yang di Padang, tapi masih kurang pedas. Tadi bundo dah kasih jahe?
B : (tahu jahe dari mana pula ~_~. Tambahin cabe lagi, aduk2, bbrp menit kemudian) sekarang gimana?
H1 : masih kurang pedas. Tapi ya udahlah, udah lapar. Makasih bunda. Makan yuk.
*hehe ada yang pasrah* cuma 1 tahun on the job training di Padang, standar pedasnya nak H1 kadang ngalah2in amaknyo ~_~

Selasa, 11 Agustus 2015

Kisah di Arena Hiburan Anak-Anak

Awal bulan ini, saya berkesempatan mengunjungi sebuah arena hiburan anak-anak (relevan juga sih buat orang dewasa yang masih menyembunyikan jiwa imutnya, di sebuah pojokan di dalam hati hehe). Nah, saat makan siang, kami bertiga makan di satu-satunya restoran (yang eye catching) di tempat itu. Saat bayarpun seperti biasa pakai debit card, karena mulai tidak terbiasa membawa cash, apalagi untuk perjalanan yang lumayan jauh. Untuk mencapai tempat ini kami harus naik bus 7 jam plus 40 menit di kereta grin emoticon. Jadi nyaris gak pegang cash.
Lupa kapan tepatnya, lalu saya sadar bahwa mereka men-debit pembayaran biaya makan sebanyak 2x. Memang pada saat bayar petugasnya sempat bilang transaksi tidak berhasil, jadi saya key in lagi paswordnya. Dan seperti biasa, gak pernah dicek deh di handphone itu transaksi berhasil 1x atau malah 2x, karena so far memang ga pernah ngalamin yang aneh2. Lagipula seperti lazimnya emak2 rempong yang bawa-bawa anak pada usia yang baru menguasai teknik-teknik dasar dunia persilatan, ritual habis beli makanan adalah nyari tempat duduk, lalu makan dengan 'khusyuk' dan 'khidmat'.
Saya sempat agak kecewa dan mulai berprasangka bahwa kesalahan itu disengaja. Maklum, selain ngefans banget sama kisah-kisah detektif (terutama yang settingnya abad 20, dan melibatkan masalah psikologis.... maaf info gak penting), saya akhir2 ini suka parno baca kisah2 penipuan yang tersebar seperti jamur musim panas di berbagai socmed tanah air. Tapi ya udah aja, mau diapain. Hanya pelajaran supaya lebih hati2 aja kali. Agak sedih juga karena jumlahnya lumayan, secara itu restoran kagak ada saingannya, sehingga harga makanannya juga 'sesuatu' ~_~
Nah pagi ini saya jadi malu hati sendiri karena tahu2 ada sejumlah uang masuk ke rekening dari restoran itu. Yaitu dengan jumlah yang sama persis dengan biaya makan.
Takjub!
Karena rasanya saya gak mengajukan komplen apapun ke mereka. Setelah saya cek tanggal terjadinya transaksi, memang selisih antara transaksi pertama dan transaksi kedua adalah 1 detik. Dalam sehari bisa ratusan transaksi. Yang artinya mereka melakukan pengecekan by system. Diniatkan. Ada nawaitu-nya.
Salut!
Karena untuk mendeteksi potensi 'exception' seperti itu masalahnya bukan di pembuatan sistem yang mendukung, tapi lebih kepada niat baik. Dalam sehari bisa terjadi ratusan transaksi. Jika tanpa niat baik, buat apa mereka repot-repot harus mengantisipasi hal semacam ini. Mungkin itu malah bisa mereka jadikan 'sumber pemasukan' yang jumlahnya bisa significant. Tambahan lagi untuk pengunjung malas seperti saya, begitu mengalami hal ini, ya udah aja, gak melakukan apapun, tidak komplen, dan lebih melakukan peringatan kepada diri sendiri agar lebih hati-hati. Sebagian besar pengunjung juga nampaknya bukan dari kota tsb, malah banyakan dari asia dan UK, mungkin karena liburan musim panas. Jadi mungkin kalau mengalami hal yang sama ya udah aja (kaliiiiy). Atau malah gak sempat ngecek. Beda sama kita (atau saya deh..) yang sesekali masih suka ngecek history transaksi di HP. Walau habis itu gak diapa2in juga.
Entahlah apa filosofis di balik semua itu, tapi saya acungkan banyak jempol. Bisa jadi ini memang bagian dari usaha mereka untuk menjaga nama baik. Bisa jadi mereka paham tentang konsep keberkahan rejeki dari bukunya ustadz Salim.A.Fillah, hehe. Atau apapun itu, yang jelas saya salut, kagum dan malu.
Jadi ingat beberapa kali belanja di sebuah toko daging (di Den Haag dan di Delft), sempat ngalamin struck belanja yang gak make sense. Waktu bulan pertama di Den Haag malah saya sempat balik lagi, karena belanja 3 jenis sayur kok mencapai 20 euro, dan ternyata setelah dikonfirmasi balik, dengan lumayan tergagap2 petugasnya bilang seharusnya hanya 7 euro. Sejak itu jadi agak lebih hati2 jika belanja dalam jumlah banyak, karena biasanya kita langsung bayar2 aja kan, tanpa ngecek lagi satu persatu. Dan saya rasa jika tanpa niat baik, bisa jadi celah juga untuk 'tambahan penghasilan'.
Niat baik untuk tidak merugikan orang lain rupanya konsep yang universal. Bukan soal tampilan. Bukan soal bahasa. Apalagi kesamaan agama. Tidak jaminan.
Sekali lagi, salut buat restoran ini. Mungkin pemilik toko daging perlu berguru ke sana wink emotic

Senin, 10 Agustus 2015

Turunkan Standar, Mak

Beberapa waktu lalu, seorang kawan menasehati (setelah sebelumnya minta ijin mau ngomel) :
"Suatu saat tiba masanya ketika kita harus berdamai dengan diri sendiri. Menurunkan standar. Sambil menengok ke belakang, dan menunduk takzim. Mengucapkan selamat tinggal kepada masa-masa ketika tempat tidur harus licin sempurna, lantai bebas dari remah-remah, semua baju harus disetrika, dan tata letak barang sesuai definisi".
Lalu tambahnya "gw bisa survive setahun di sini tanpa nyetrika baju! jadi begini tipsnya... blablabla dst dst"
Sip deh. Ayo kita move on :D:D:D

Minggu, 09 Agustus 2015

Happy National Day, Singapore!

Happy National Day, Singapore!

Setidaknya selama 4 tahun kuliah dan 1 tahun bekerja di sana, sempat merasakan nyaman, damai, tentram dan nyaris tiada perasaan insecure. Sebuah jenis rasa nyaman yg belum tergantikan. Terimakasih sekali telah membiayai pendidikan seorang kembang sate (kalau bilang kembang desa ntar pitnezzz ~_~) sampai menjadi sarjana, sehingga tiada perlu lagi galau memikirkan ketercukupan uang saku dari kampung halaman ðŸ˜‰ðŸ˜‰ðŸ˜‰.

Majulah Singapura!

Jumat, 07 Agustus 2015

Teko's in de Holland [Adegan 9]

Teko's in de Holland
Adegan 9

Bahagia itu gak selalu sederhana.
Kadang rumit, berat, besar, sangar, dan bertaring.
Dinosaurus!


Teko's in de Holland [Adegan 8]

Teko's in de Holland.
Adegan 8.

Niat hati mau bikin rendang dengan bumbu2 seadanya. Tapi penampakannya galau antara rawon dan daging berkuah ~_~.
B : gimana? Enak gak?
H1 : enak sup nya.

Malah dikira sup kiki 
emoticon
 



Kamis, 06 Agustus 2015

Berkah Perniagaan

Mungkin ada baiknya dalam perniagaan, kita tidak menjual barang yang rusak, atau minimal memberi tahu cacatnya kepada calon pembeli, sehingga jadi indah ujungnya dan jadi manis kisahnya. Alangkah sayangnya jika sedikit rupiah menodai keberkahan rizqi. Bukankah kita tidak tahu di sebelah mana letak keberkahan itu?
** IMHO
** Note to myself
Ngomong2 soal keberkahan, mumpung gak mood nyetrika, anak-anak juga lagi unyu anteng, buka2 kembali buku favorit ini. Lapis-lapis keberkahan. Terutama saat sampai kepada bab "Bertumpuk-tumpuk bahan karya : Soal Rasa". Semoga penulisnya berkenan dikutip di sini :
...
Hal 134 :
Rizqi adalah ketetapan. Cara menjemputnya adalah ujian. Ujian yang menentukan rasa kehidupan. Di lapis-lapis keberkahan dalam setitis rizqi, ada perbincangan soal rasa. Sebab dialah yang paling terindra dalam hayat kita di dunia.
Aku tahu, rizqiku takkan diambil orang, karenanya hatiku tenang. Aku tahu, amalku takkan dikerjakan orang, karenanya kusibuk berjuang (Hasan Al-Basri)
Hal 510 :
Begitulah yang kita lihat ;berburu berkah itu alangkah berat. Tapi syukurlah kita tahu, bahwa di dalamnya ada banyak rasa nikmat.


Teko's in de Holland [Adegan 7]

Teko's in de Holland.
Adegan 7.

[Bukan Tanah Abang - Blok M]
H1: "Dadaaaah Abaaah, baik2 di Jakarta" 
Emak : "Tolong do'akan mereka sehat-sehat kiki emoticon"
H2 : "Besok main ke sini lagi yaaaa"
Dipikirnya Tanah Abang - Blok M kali yes , bisa naik gojek :D:D
10 menit setelah dadah-dadah.
H2 : "Abah dah nyampe Jakarta ya Bundo?"
Emak : "Stasiun Delft juga belum, tuh masih di halte bis ^_&"
Ternyata dipikirnya Monas - Sarinah ~_~
*new chapter

Sabtu, 01 Agustus 2015

Teko's in de Holland [Adegan 6]

Teko's in de Holland.
Adegan 6.
[Baru kelar pindahan]


Gak ada dialog sih. Hanya penandatanganan perjanjian kesepakatan area kekuasaan.
Area orens adalah kerajaan Teko, ruang bermain dan berkreasi sebebas2nya. Bebas yang terdefinisikan. Dapat dirapikan sebelum tidur saja.
Area merah adalah
...area kerajaan Bundo Kanduang,
...limpapeh rumah nan gadang,
...sumarak dalam nagari.
Hanya boleh dikunjungin saat dipanggil atau jam tidur teko 2 (emak sadis ~_~).
Area lain? Masih kacau balau. Definisi posisi barang-barang masih belum jelas. Metadatanya belum lengkap ðŸ˜†ðŸ˜†ðŸ˜†. Bundo masih belum dapat inspirasi tema ruangan. Level keberantakannya? Hmm, jadi teringat kisah utusan Kerajaan Majapahit yang datang ke Kerajaan Pagaruyuang sebagai bagian dari perwujudan sumpah palapa (maap jika saja derajat kisahnya gak shohih ðŸ˜†ðŸ˜†). Utusan Majapahit lalu malah disambut dengan acara adu kerbau sebagai simbol peperangan. Yang katanya asal usul nama Minang Kabau. Menang adu kerbau ðŸ˜‰. Kebayang gimana chaos-nya suasana adu kerbau donk. Berantakan sana sini. Kebayang perasaan mande-mande seantero Sijunjuang melihat betapa berantakan kondisi Ranah Minang kala itu. Nah, saya lagi berusaha menghayatinya 😀😀😀. Maap lagi jika analoginya lebay. Curhat bernuansa kedaerahan ðŸ˜†ðŸ˜†.
....
....
Deg2an menunggu hari pertama Tekos sekolah. Dan makin deg2an menunggu saat Bundo juga mulai sekolah